Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 91


__ADS_3

"Haaaiiiisssshh."


Cathy tersenyum dengan terpaksa.


"Baiklah, kalau kalian memaksa, aku temani." Cathy mengepalkan tangannya dan mempertemukan kedua telapak tangannya membuat suara tulang-tulangnya bergemeletuk.


"Keluarkan semua temanmu, agar tak ada yang terlewat."lanjutnya dengan seringai.


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian.


Cathy berdiri dengan menggerakkan tubuhnya melakukan sedikit perenggangan. Melirik ke belakangnya beberapa orang pria tergeletak dengan suara erangan.


Cathy berbalik dan menginjak kepala pria yang tadi membawanya.


"Heehh, main apa? Sama sekali tidak asik. Lain kali bawa temanmu lebih banyak. Haaaa!" Cathy menyampar kepala pria itu dan berjalan melewatinya, suara erangan pria-pira itu masih terdengar. Cathy mendekat pada salah satu yang pria yang tergeletak di depannya. Dengan tak perduli gadis itu lewat dengan menginjaknya.


"Uugghh.."


Cathy berjalan hingga keluar gang. Meniti trotoar dengan perasaan masih sedikit kesal, Kenn bahkan tidak mencegahnya atau pun mencarinya. Memikirkan saja rasanya sudah kesal malah makin kesal. Cathy merasakan pundaknya dicengkram.


"Apa gerombolan itu masih ada?"


Reflek Cathy langsung balik mencengkram tangan itu dan membantingnya dengan sedikit membungkukkan badannya. Mata Cathy membulat melihat pria yang baru saja ia banting adalah Kennan.


"Om Ken!" batin nya antara menyesal karena sudah membanting suaminya dan girang karena pria itu menyusul. "Ternyata dia menyusulku.. Tunggu, jangan senang dulu Cathy. Ingat jangan tunjukkan wajah senangmu. Kamu kan lagi pura-pura ngambek. Baiklah. Ayo kita lanjutkan rencana." tekat Cathy dalam hatinya.


Cathy berdiri tegak dan memalingkan wajahnya kesamping. Kennan bangkit dengan memegangi punggung yang sakit akibat bantingan keras Istrinya.


"Sepertinya tulang punggungku remuk." erangnya mengernyit kesakitan."Kalau begini nggak akan kuat berolah raga malam."


Cathy melipat kedua tangannya didada masih melihat kearah lain. Kennan memandang istrinya yang seolah nggak respek.


"Ayo pulang."


Cathy terdiam tak mengatakan apapun juga tak bergerak sedikitpun.

__ADS_1


"Ayo pulang. Ini sudah terlalu malam untukmu berkeliaran di luar."ujarnya menarik lengan Cathy."Kita bicara dirumah."


"Om, nggak mau minta maaf?"


Kennan tak menjawab, ia terus mengandeng istrinya berjalan menyusuri trotoar.


"Iisshh,, Om Ken mah..."


Cathy menyentak tangannya. Ken menoleh,


"Aku nggak mau pulang." Cathy memalingkan wajahnya.


"Terus kamu mau tidur dijalankan?"


"Apa? Tidur dijalanan. Om Ken nggak waras, ngapain tidur dijalanan? ada banyak motel juga." batin Cathy menggerutu dengan mulut manyunnya.


"Aaagghh... Tasku." Cathy baru tersadar, ia tidak membawa apapun saat pergi. Semua barangnya ia tinggalkan bersama Henri. "Heeeiiissshhh, Honey sialan."


Ken mengulas senyum. "Ayo pulang. Aku nggak akan rela istriku tidur dijalanan. Walau kamu sangat tangguh bisa menghajar tiga orang pria sekaligus, tetap saja aku tak rela orang yang aku sayangi berkeliaran dijalan malam-malam."


Wajah Caty bersemu merah. Rasanya sangat senang, seperti sedang di rayu saja oleh suaminya itu. Ingin rasanya Cathy jingkrak-jingkrak kegirangan. Tapi malu dong, kan lagi pura-pura ngambek.


"Tunggu, jadi dia tadi lihat aku menghajar pria-pria itu dan tidak membantu? Ck, suami macam apa dia?"


Ken mengulas senyum manis nya lagi, tentu saja membuat istrinya makin bersemu.


"Ayo pulang." Kennan menarik lengan Cathy memulai langkah. "Kita bicarakan dirumah, dan aku juga punya ke-ju-tan...."


Tiba-tiba langkah Ken terhenti, melihat dengan mata melebar ke depan. Cathy pun melihat reaksi Kennan yang seperti itu ikut melihat kearah yang sama. Seketika mulutnya terbuka. Ia berjalan mendahului, dan berhenti dibelakang pria berkuncir yang tampak begitu mencurigakan didepan sebuah papan bunga.


"Ahahaha... kenapa cepat sekali kalian kembali?" ujar Honey dengan wajah bersalah yang ditutupi. Tangannya mengusap rambut belakang nya.


"A-apa ini?" Cathy menunjuk papan bunga ucapan bela sungkawa dibelakang honey. Sebagian ucapannya pun sudah hilang bekas dicabuti. Wajah Henri tersenyum dengan kikuk, berharap akan dimaafkan.


"Honey....." Suara Geraman Kennan dibelakang Cathy."Aku menyuruh mu mencari bunga kenapa malah ambil papan bunga seperti ini? Kau mengharapkan istriku cepat mati?"


"Ken tenang dong, jam segini mana ada toko bunga yang buka. Jadi kuambil saja barang ini dari pemakaman terdekat, tunggu sebentar, aku sedang memperbaiki. Ini tidak akan terlihat seperti dari pemakaman." Henri mulai ngeles sekenanya.


Antara geram dan geli. Cathy meninju telapak tangannya sendiri.


"Ha-ha-ha, kenapa tiba-tiba tanganku rasanya jadi gatal ingin memukul." Cathy menoleh pada kedua pria yang mulai bergidig ngeri itu.


"Diantara kalian siapa yang mau dipukul duluan?" sambungnya mengangkat kepalan tangan di depan wajahnya. Dengan kompak Ken dan Henri menggeleng. Tak lupa dengan tangan yang diangkat keatas.

__ADS_1


...****************...


Daniel menatap langit-langit ruangannya. Ia bangun dengan susah payah menahan rasa nyeri di sekitar perut dan dadanya. Lalu duduk dan bersandar pada kepala ranjang.


"Laos."


"Iya tuan."


"Anak itu, kau sudah menemukannya?"


"Belum. Tapi kami sudah menyebar orang-orang kita untuk mengawasi rumah orang itu dan beberapa vila pribadi tuan muda."


"Anak sialan itu. Berani sekali dia menembak dan menusuk ayahnya sendiri." geram Daniel menggertakan giginya.


"Laos."


Laos menunduk pada tuannya.


"Selesaikan mereka. Sampaikan pada Damian, untuk serangan serentak." titah Daniel, "Untuk Gara, aku serahkan dia padamu. Jangan lagi memandangnya anakku."


"Baik tuan."


Laos keluar dari ruangan tuannya. Dia berjalan dengan beberapa orang yang ikut menyertainya dibelakang.


"Laksanakan Plan B."


"Siap."


____^_^____


Readers, jangan lupa dukung si Othor ya


like


komen


vote


gift


terima kasih


salam

__ADS_1


🥰☺️


__ADS_2