
Malvin, Embun dan para tetua berkumpul di ruang tamu rumah utama.
"Sebenarnya, untuk apa kalian memanggang putriku?" tanya Malvin yang tak habis pikir dengan kelakuan Mak Yun dan para tetangganya.
"Memanggang bagaimana? kami hanya membantu menghangatkan ruangan itu. Kamar mereka ada ditengah sawah. Jadi sangat dingin. Jika kami tidak menaruh bara disana."
"Ha-ha-ha, pintar sekali mengelak."
Embun menepuk lengan Malvin karena suaminya itu asal bicara. Embun pun berganti memandang besannya.
"Saya mengerti. Memang disini sangat dingin , mungkin karena memang masih asri dan tak ada polusi."
"Terima kasih besan, kau sangat mengerti."
"Tadi aku sempat khawatir, karena tak ada orang dirumah. dan kamar Putri dan menantu kami dikerubungi bayangan mencurigakan. Mungkin lain kali, kalian bisa membicarakannya, sehingga kami tidak berpikir an buruk."
"Tentu saja besan Embun."sahut Mak Yun dengan senyum ramah, ia suka Embun karena tak sengeselin Malvin.
"Maafkan kalau kami membuatmu terkejut." timpal bibi Gati.
"Ya, kami memang sangat terkejut. Bagaimana bisa kalian... Aaaarrrgg." Malvin tak menyelesaikan kalimatnya, karena Embun sudah mencubit pahanya. Ia melayangkan protes pada istrinya.
"Sayang...." sela embun dengan wajah yang dipaksa tersenyum,"Jika kau masih mau meneruskan, aku terpaksa menunjukkan ini padamu."
Embun mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto yang dulu sempat ia ambil saat suaminya itu tidur berpelukan dengan Henri. Mulut Malvin membulat sempurna.
"Apa-apaan ini?" Malvin jadi kesal melihatnya. Ia juga tak menyangka Embun mengabadikan momen mengerikan itu. "Istriku, Bagaimana bisa kau lakukan ini padaku?" protesnya pada Embun yang terkekeh kecil.
"Waahh, Daddy, rupa-rupanya sangat menyukai Honey sampai tidur berpelukan seperti itu." ledek Cathy sekonyong-konyong. bersuara dari belakang ikut melihat foto yang embun tunjukkan. Anak gadis Malvin itu terkekeh-kekeh.
Sementara Ken menahan senyum dengan berdehem dan mengepalkan tangannya di depan mulut. Mereka baru saja muncul setelah memutuskan untuk menyusul kerumah utama.
"Ken-nan!" geram Malvin. "Kalian meninggalkanku pada makhluk tak jelas itu."
"Honey?" para tetua menautkan alis keheranan.
"Aaahh, ini sepupu Kennan yang sedikit bengkok." kekeh Embun sembari menunjukkan foto dihpnya.
Netra Para tetua dan tetangga membola, melihat orang berrambut panjang yang tidur berpelukan dengan Malvin.
"Hei, bukankah ini Henri?"
"Iya benar. Ini memang Henri."
"Haaa... jadi dia bengkok ya?"
"Anak itu....."
Embun yang melihat reaksi besannya berubah mimik mukanya. Ia menoleh pada Caty dan Kennan.
"Apa mereka tidak tau?" bisiknya.
keduanya kompak menggeleng. Embun tercengang, langsung menutup mulutnya.
"Ini sudah sangat larut, kami pamit tidur dulu."sela Embun tak enak pada besannya. Menengadahkan tangannya meminta hpnya kembali.
"Iya baiklah, selamat tidur." Mak Yun mengembalikan ponsel Embun yang dia pegang."Masalah Hendri akan kami selesaikan nanti." dengan senyum palsu.
Setelah Malvin yang dipaksa Embun untuk masuk kekamar. Suasana di ruang tamu jadi hening. Mak Yun melirik Ken, dengan buas seolah melihat mangsanya yang sangat lezat.
"Kau!" tunjuk Mak Yun,"Kenapa kau bawa istrimu kemari. Kami sudah sengaja kembali kemari. Bagaimana kamu ini?"
__ADS_1
Kennan tersenyum kikuk. "Ibu, kami sudah hilang selera..."
"Apa? apa kalian pikir kalian ini sedang makan? Pakai hilang selera segala."
"Ibu, kami memang sedang makan. Makan timun." jelas Cathy dengan senyum yang tak sampai ke matanya."Iya timun, yang besar dan segar."
Mak Yun ternganga.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan didalam?"
Mak Yun yang kesal menimpuki akan lelakinya itu bertubi-tubi.
"Ibu, hanya memintamu membuatkan ibu cucu. Kau malah berbuat yang aneh-aneh!"
Tanpa perlawanan Kennan menjawab: "Kami memang sedang membuat cucu ibu..."
"Lalu kenapa kalian makan timun?"
"Jadi kami harus menggantinya apa? Sosis? Terong? Tak mungkin kami langsung mengucapkannya secara frontal kan?"
"Ooouuuugggg, dasar anak muda. Mereka pakei malu-malu Mak Yun." kekeh bibi Gati menarik lengan kakak.
"Biarkan mereka kembali ke gubuk cinta."
"Kami lapar." ucap Kenan.
"Iya, kalau lapar makanlah timun," Bibi Gati.
"Atau terong..." tetangga.
"Belut juga boleh. Lebih licin... ha-ha-ha" paman suami bibi Gati.
"Aha-ha-ha...." Cathy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ken hanya tersenyum datar.
"Dasar anak kota!" geram Mak Yun kesal pada putranya.
"Tenang! Tenang Mak Yun. Mereka pasti butuh tenaga lebih untuk itu."
Sementara Malvin dan Embun dikamar yang tengah berbaring diatas ranjang.
"Aku tak bisa tidur jika begini." Malvin duduk terbangun dengan tiba-tiba.
"Sayang.."
"Mereka terus ribut membicarakan membuat cucu. Apa mereka pikir Cathy pencetak cucu? Dia masih sangat muda. Putri kecilku."
"Sudahlah. Cepat tidur." Embun menarik tubuh Malvin hingga jatuh terbaring disisinya.
"Sayang, aku tak bisa...."
Dengan gemas, Embun menindih tubuh suaminya dan melummat bibir Malvin agar diam.
"Uugghh, sayang....."
"Diam!"
_____
Didapur, Ken dan Cathy mencari sisa-sisa makan malam. Kenan membuka tudung saji diatas meja.
"Kau mau?"
__ADS_1
"Aku ingin mie saja."
"Okey, tunggu sini. Biar aku yang buatkan." Ken menarik kursi disamping meja, agar Caty mendudukkinya. Ia lalu mengeluarkan beberapa daun bawang dan pakcay. mencuci dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Kenan mendidihkan air dalam panci. Memasukkan mie dan sayuran ke dalamnya.
Cathy berpangku wajah hanya memperhatikan kesibukan suaminya. Dengan senyum manis diwajahnya. Sedangkan Mak Yun dan Beberapa tetangga nya mengintip dari pinggiran pembatas dapur.
"Hei. Mereka hanya memasak. Buat apa mengintip?" oceh Mak Yun berbisik.
"Kenapa memangnya? Menyenangkan melihat mereka. Seperti hiburan."
"Ck! Cepatlah pulang. Kenapa kalian masih disini?" geram bibi Gati pada para tetangganya.
Ken menoleh, gegas para tetua bersembunyi dibalik beton. Kenan tersenyum lebar pada istri nya, mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Cathy. Sesaat saling menggulum.
"Ck! Ck!" tetangga Mak Yun menggeleng.
"Sepertinya Ken sudah bucin."
"Bucin apa?" Mak Yun memprotes.
"Kau harus sering bergaul dengan anak muda dari kota Mak Yun jadi kamu mengerti istilah bucin."
"Iya, baiklah. Apa bucin."
"Budak cinta."
"Anakku bukan budak. Dia seorang asisten pribadi."
Tetangga Mak Yun memutar matanya malas.
"Hei! pulanglah! sudah, malam." sentak paman suami bibi Gati mengejutkan semua orang disana. Termasuk Ken dan Caty yang langsung melepaskan panggutan. Wajah Catty memerah, malu juga melihat para tetua yang mengintip di balik beton itu berlarian menjauh satu persatu.
"Iisshh.... benar-benar..." desis Ken.
"Om, kita makan di gubuk saja." dengan wajah menghangat.
Ken menghela nafasnya, "baiklah."
Di gubuk cinta, Ken dan Caty menikmati mie panas buatan Ken.
"Ini enak Om."
"Tentu saja. Chef Ken."
Mereka melanjutkan makan mie dengan tenang. Suara seruputan khas mie yang disedot memenuhi ruangan ditengah sawah itu. Sesekali mereka saling pandang dan tersenyum. Hingga mie yang tengah mereka makan berujung di mulut masing-masing.
Satu untai mie yang tengah mereka makan bersama. Ken tersenyum lebar tanpa melepas ujung mie dari mulutnya. Cathy pun terkekeh kecil. Perlahan keduanya saling memakan ujung mie, hingga bibir mereka bertemu dipertengahan. Ken mengangkat tangannya meraih tengkuk istrinya memakan sisa mie berikut bibir Cathy.
"Hmm... berakhir dengan sangat enak." gumam Kennan melahap istrinya dengan rakus.
"Lanjut bikin cucu...."
____^_^____
Readers, dukung Othor ini dong, biar bisa up tiap hari.
like
komen
ya
__ADS_1
tengkyu
☺️