Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
bab 54


__ADS_3

"Kamu ngapain sih Cat?" Kenan keluar dari mobil, berjalan mendekat pada Cathy yang sedang berjongkok. Langkah Ken terhenti.


"Bau apa ini?"


Hiiisssshh... sialan! kenapa harus kentut di saat seperti ini? batin Cathy menangis.


"Kamu kentut ya, Cat?"


Hiiisssshh.. tidak mungkinlah aku mengaku pada Om Kenan, dimana harga diriku? batin Cathy memutar otaknya.


"Tentu saja bukan. Ini bau sigung." elak Cathy asal berdiri dengan kesal.


"Sigung?" Ken memeleng kan kepalanya heran.


"Iya, sigung. Tadi aku lihat dia berlarian kesitu." Cathy asal menunjuk area yang penuh rimbunan semak belukar.


"Cat, disini mana ada sigung." ujar Ken sangsi.


"Ada tadi, orang aku jelas lihat kok." Cathy merasakan lagi tekanan diperutnya. Minta dikeluarin.


Ken menoleh kearah lain.


Aaahh.. sialan... Tahan,, tahaann,, jangan kentut. Pliiss... batin Cathy sekuat tenaga menahan kentutnya.


Ken yang melihat adanya pergerakan di ujung jalan yang tadi mereka lewati itu. seperti sapi dan gerobak. Ken berjalan kearah jalan aspal.


Cathy yang sudah tak tahan lagi, akhirnya melepaskan gasnya. Ken yang belum begitu jauh mengernyit kan hidung, membaui lagi aroma ngeri-ngeri sedap. Ken pun menoleh, melihat Cathy yang terlihat pura-pura mengalihkan pandangannya ke pepohonan diatas kepalanya.


Ken pun kembali melihat ke arah gerobak yang semakin mendekat. Ken berhenti ditengah jalan dan mencegat gerobak itu. Seorang pria berusia 60tahunan duduk diatas gerobak yang penuh dengan rumput padi yang sudah kuning. dia memegang tali kendali yang terikat pada sapi yang menarik gerobaknya.


"Pak, kami dari kota, dan ban mobil kami meletus. sudah seharian ini menunggu tapi tidak ada yang melintas."


"Oohh. orang kota? Disini desa terpencil, jadi jarang ada yang melintas."


Ken tersenyum ramah,


"Bolehkah kami ikut ke balai desa untuk meminjam telepon. Disini tidak ada sinyal."


"Ohh, boleh. Boleh. Tentu saja boleh. Ayo naik. Tapi ya cuma begini." ucap bapak itu menunjuk tumpukan padi dibelakang.


"Nggak papa pak. Terima kasih." seru Cathy yang sudah tak sabar meninggalkan tempat itu, langsung naik saja ke kegerobak.


Ken hanya melongo melihat Caty yang gercep itu.


"Sebentar. saya ambil barang-barang dulu dimobil."Pamit Kennan menunjuk mobilnya.


"Silahkan!" bapak itu mempersilahkan dengan tangannya.


"Cepetan Om!"


......................


Gerobak itu bergerak perlahan karena beban bertambah. Cathy dan Kenan duduk dibelakang bapak yang baik hati itu diatas tumpukan jerami. Sesekali Ken dan bapak itu berbincang.


Perut Cathy mules lagi. Memang panggilan alam selalu datang dan pergi. Cathy bergerak kedepan dan berbisik pada bapak pengendali sapi. Sebut saja namanya pak Isa. Itu dari hasil berkenalan tadi.


"Pak." bisik Cathy.


"Iya neng?" pak Isa sedikit menoleh pada Caty lalu kembali melihat kedepan.


"Pak Isa, Dimana ada toilet?"bisik Cathy sambil menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Toilet?" Pak Isa mengulang dengan sedikit keras.


"Ssssttttt... kamar mandi, Tempat buang hajat. WC."


"Oohh.. WC?"


"Sssttt... si bapak aahh... jangan keras-keras." Cathy mengangkat telunjuknya ke depan mulutnya, sambil sedikit menoleh ke Kenan. Yang hanya menikmati pemandangan alam.


Bapak itu sumringah,


"Ada neng. Sebentar." pak Isa mengedarkan matanya berkeliling, mencari WC umum. Sedangkan Cathy tolah-toleh dengan pandangan tak tenang.


Mulut pak Isa terbuka lebar begitu menemukan WC umum. Terlihat gembira sekali.


"Naahh.. itu neng."


Cathy melihat kearah pak Isa menunjuk. Sebuah bangunan kubus dari seng tanpa atap yang berdiri tegak dipinggir persawahan.


"Itu?" tunjuk Cathy sangsi.


"Iya neng, itu. Itu WC umum. biasa dipakai sama warga yang meladang." ramah pak Isa dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Oohh, iya...." Cathy manggut-manggut sangsi.


"Aahh,, sudahlah, yang penting yang besar ini lewat." gumam Cathy.


Pak Isa menghentikan gerobak sapinya didepan bangunan yang dia sebut WC itu. Cathy pun turun dengan cepat, Ken menatapnya dengan heran.


"Mau kemana?"


"Nak Cathy mau bua...."


"Wuaaaa......" teriak Cathy agar pak Isa tak melanjutkan omonganya."Kedepan pak. Kedepan lagi." Cathy mengayunkan tangannya ke samping. agar gerobak pak Isa lebih maju lagi. Memberinya jalan untuk lewat.


Begitu Cathy masuk kedalam bilik. Pak Isa Melihat pada Kenan yang masih menatap kemana arah Cathy pergi.


"Neng Cathy mau beol tuh. masuk WC." cengir pak Isa.


Ken tertawa kikuk.


"Iya pak Isa, saya tau." ucap Ken menanggapi."Tadi kentutnya bau sekali."


"Hahaha.... malu dia..."kekeh pak Isa.


Ken ikut terkekeh.


"Anak gadis..."sambung pak Isa lagi.


Cathy yang sudah masuk kedalam WC tertegun dan tercengang.


"Apa ini?" gumamnya melihat lagi apa yang ada didepan nya.


"Pak Isa bilang WC. Ini....."


Cathy memandangi dalam bilik menyeluruh. Bangunan seng itu berdiri diatas sungai yang mengalir. Hanya dibagian Cathy berpijak sana yang bersemen.


"Haahhhh..... hahahha...."


"Bagaimana bisa pak Isa menyebut ini WC?"


Cathy keluar lagi. Dengan wajah bingung dan kikuk, mendekati pak Isa.

__ADS_1


"Pak, sepertinya itu ada yang salah deh." ucap Cathy ragu.


"Iya? Apa neng?"


"Itu... Sepertinya, sungai."


"Oo... iya neng." pak Isa tersenyum lebar. "WC umum disini memang begitu. Neng tinggal jongkok terus cebok."


Cathy melongo terperangah. Sedangkan Ken mati-matian menahan tawanya. Bahunya berguncang hebat. Tangannya mengepal di depan mulutnya. Cathy melirik dengan wajah memelas sedih.


"Udah Neng nggak papa... kalau sudah nggak tahan mah...."


"Paaakkk....." rengek Cathy hampir menangis.


"Mmppppffff....."


"Ooommmm....." suara Cathy sudah menyayat hati, melirik Ken.


"Iya maaf. nggak apa-apa, malah nggak pake siram-siram lagi kok."


Cathy melongo tidak percaya dengan ucapan Kennan.


"Iya Neng, langsung mengalir ikut arus. Tinggal cebok." timpal Pak Isa.


"Aaaaaaaaaaahhhhhhhh......" teriak Cathy frustasi.


...----------------...


Akhirnya, gerobak pak Isa berjalan, tanpa Cathy membuang hajatnya. Gadis blasteran itu terlihat sendu. Ken masih tersenyum-senyum geli tanpa suara. Kenan melirik Cathy. Dirinya merasa iba juga.


Tangan Ken terulur kebelakang mengangkat nya dan mengelus kepala Cathy. Cathy menoleh memandang wajah Ken dari samping. Ken ikut menoleh, menatap wajah gadis kecil yang jadi istrinya itu.


Haaaahhh... Om Kenan... Kalau kek gini aku makin cinta sama kamu. Batin Cathy masih menatap wajah Kenan. Jantungnya berdetak kencang, menggedor-nggedor tak karuan.


Nyender boleh ya Om. Batin Cathy yang sudah dalam love Mode itu. Perlahan Cathy meletakkan kepalanya di dada Kenan.


Ha-aaaa.... Wanginya.... Batin Cathy menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kennan.


Bertahanlah lebih lama.


Usapan lembut tangan Kennan di kepala Cathy berpindah ke lengan gadis itu.


Ya Ampun.. Serasa di sayang kalau kek gini mah... Pikir Cathy girang.


Tangan Cathy terulur hendak memeluk tubuh Kenan. Gerobak berhenti. Pas sekali. Pak Isa menoleh kebelakang.


"Sudah sampai."


Hhyyaaaaahhh.....


____^_^_____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


salam hangat

__ADS_1


☺️


__ADS_2