
"Lama tak bertemu Ken."
.
.
.
Kenan dan wanita masa lalunya itu berdiri ditepi danau buatan yang terletak tak jauh dari lokasi cafe. Mereka berdiri bersisihan dalam diam.
"Ken.... Aku...." Lirih wanita itu.
Kenan menghela nafasnya sesaat.
"Aku minta maaf untuk semua yang telah terjadi." ucap wanita itu lirih dengan masih menatap riak air danau.
"Ok."
"Ck! Hanya itu?" Wanita itu menoleh melihat wajah Kennan tak terima dengan reaksinya yang datar.
"Kamu mengharapkan apa lagi?"
"Apa aku tak memiliki kesempatan lagi?"
"Dila... Aku sudah menikah."
"Aku tau." Angguk wanita itu masih menatap wajah Kennan."Aku sudah bertemu dengannya. Dia gadis yang bersemangat. Aku sangat suka."
"Lalu, kenapa masih bertanya?"
"Aku hanya ingin tau, apakah tak ada sisa sedikitpun perasaanmu untukku?" menatap Ken dengan mata berkaca-kaca.
"Dila..." Ken menoleh.
"Aku masih menyimpan perasaan ini untukmu." Isak Dila dengan meremas dadanya yang terasa nyeri."Aku kembali begitu mendengar kau bersama wanita lain."
Ken tersenyum sinis. "Karena itu?"
Kennan membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Dila, "Aku bisa mengerti posisimu, kau memang pergi karena punya alasan sendiri. Selama itu aku masih setia pada perasaanku. Tapi...."
Kennan menelan ludahnya menjeda sesaat ucapan nya.
"Aku tidak bisa lagi mengukur kedalaman hati. Semakin aku menyelam jauh disana, semakin aku tau bukan kamu lagi yang ada. Tanpa aku sadari gadis itu sudah memenuhiku."
"Ken~"
"Maaf jika kamu pulang untukku, kamu kembali dalam kesia-siaan." Kennan berbalik mengambil langkah panjang, lengannya tertahan oleh genggaman Dila.
"Aku~ akan melupakanmu."
"Itu bagus."
"Tapi, bisakah aku, meminta satu ciuman perpisahan?"
__ADS_1
Kennan menghela nafasnya. Menatap wajah wanita yang pernah mengisi hatinya dan ia cintai itu.
"Baiklah."
Dila tersenyum senang, ia mendekat pada Kennan perlahan berjinjit dan menutup matanya.
"Kenan, akan kubuat kamu mengingat gelora cinta kita lewat ciuman panas ku. Lalu membuatmu meninggalkan gadis blasteran itu." Batin Dila semakin mendekatkan wajahnya. Tiba-tiba ia terhenti, "Apa? Dingin-dingin apa ini?"
Dila merasakan sesuatu yang dingin menempel di mulutnya. Ia membuka matanya, betapa terkejutnya dia, sebatang es krim menempel di mulutnya. Gegas dia menjauh melihat Cathy membawa ekstrim coklat ditangannya. Tersenyum dengan sangat dipaksakan.
"Aku sudah memperingatkan mu sebelumnya. Aku bisa menjadi baik, tapi juga bisa menjadi sangat jahat bergantung bagaimana sikapmu. Aku pikir, aku bisa baik padamu, tapi sepertinya aku lebih memilih menjadi jahat setelah kau bermain di belakangku." Cathy tersenyum dengan sangat dipaksakan, sorot matanya tajam menatap wajah Dila.
Dila tersenyum remeh, "Sepertinya....."
PLOOKK.
Eskrim yang Cathy bawa sudah menempel di wajah cantik Dila. Kenan tersentak dengan sikap Cathy yang melempar eskrim ke wajah mantan kekasihnya itu.
"Hei!" protes Dila dengan wajah kesal berlumur eskrim lalu menyingkirkan nya.
"Kauu...." geram Dila menunjuk Cathy dengan tangannya, ia mendekat dan hendak menyerang Cathy. Cathy tersenyum sinis. Kennan yang cukup tau istrinya itu jago berkelahi segera menengahi.
"Cukup! Cukup! Pergilah." ucap Ken menarik tangan Cathy menyembunyikan nya dibelakang tubuhnya. Bukan melindunginya, semua itu semata hanya agar Cathy tak melukai Dila.
"Jadi kau melindunginya? Dia sudah melempar eskrim di wajahku Ken." ucap Dila dengan kesal sambil membersihkan wajahnya.
"Ha-ha-ha, seharusnya sampah yang kulempar kewajahmu. Sayang sekali, eskrim itu jadi mubazir." oceh Cathy memprovokasi. dibalik badan Kennan, ia pun sama memberontak.
"Apa?" Dila menatap Kennan."Kenapa seleramu menjadi seperti ini? Cewek bar-bar yang tak punya tata Krama."
"Pergilah! Atau kau memang mau dihajar olehnya."
"Kennan!"pekik Dila tak percaya Ken akan berkata seperti itu.
"Pergilah, aku tak tau sampai kapan bisa menahannya."
Dila yang merasa kesal itu meraih ujung rambut Cathy yang paling terjangkau olehnya.
"Akkhh... Sialan."
Mata Kennan melebar melihat Dila yang tak mau pergi justru memancing amarah istri kecilnya itu. Tangannya masih memeluk perut Cathy, mendapat jambakan di rambutnya, tentu gadis itu tidak tinggal diam. Dia memutar tubuhnya dengan bertumpu pada pelukan tangan Kennan diperutnya, melakukan gerakan memutar dan menendang tubuh Dila hingga jatuh terjerembab di tanah. Mata Kenan kembali melebar melihat serangan balik dari istrinya itu.
"Astaga, Kenapa jadi begini?" pikirnya pusing. Ia beralih memandang Dila dengan masih memeluk perut istrinya, meski gadis itu terus meronta agar lepas dari Kennan.
"Aku harus menghajarnya. Lepas! Minggir!"
"Dila pergilah." Seru Kennan menahan tubuh Cathy dengan kuat."Dia ngamuk sekarang, kalau kau masih ingin memiliki wajah cantik itu. Pergilah, kita bicarakan lagi nanti."
Dila yang masih tergugu di atas tanah itu, dengan wajah memar yang hampir menangis itu akhirnya pergi juga. Toh Kennan sudah berjanji akan bicara dan menemuinya lagi nanti. Daripada babak belur. batinnya sambil berlalu pergi menahan kesal dan sakit di tubuhnya.
"Mau pergi kemana kau! Kembali!"
"Jallaangg sialan... PIIP PIIIP PIIPP." (Yang artinya mengumpat, disensor ya readers)
__ADS_1
Kenan menarik paksa Cathy menjauh kerah berlawanan.
"Lepaskan aku! Kau membelanya? Apa kau begitu menyukainya sampai seperti ini? Apa yang akan kau lakukan tadi? Apa kau benar-benar akan menciumnya?"
"Astaga gadis ini? aku benar-benar kuwalahan, nggak hanya tubuhnya, mulutnya juga ...." Batin Kennan ditengah berondongan Cathy dan tubuhnya yang terus memberontak dalam pelukannya.
"Apa kau lupa kalau sudah memiliki aku? Apa aku tidak cukup? Apa kamu mau poligami? Kau Benar-benar mau aku belah jadi dua hah? Apa kau.... uummpp...."
Kennan yang sudah tak sanggup mendengar dan menahan tubuh istrinya yang terus memberontak itu membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya. Untuk sesaat Cathy berangsur tenang.
"Apa Om pikir, aku akan melunak jika kau cium?" tanya Cat begitu Kennan melepas panggutannya.
"Tidak."
Kenan melonggarkan pelukannya. "Melihatmu terlalu bersemangat membuat yang dibawah sana ngilu." Kenan menunjuk arah bawah dari depan wajahnya.
"A-apa?" wajah Caty merona.
"Aku hanya memenangkan diriku sendiri."
"Benarkah? biar ku elus." Tangan Cathy terulur ke bawah, gegas Kenan menangkapnya.
"Jangan macam-macam di tempat umum."
"Kenapa? Aku istrimu. Kau bahkan tadi mau macam-macam dengan wanita lain." sindir Cathy mencapit pipi Kennan gemas.
"Oke. aku tau. aku minta maaf, aku tak benar-benar akan melakukannya." Ken mencubit pinggang Cathy.
"Aaauuu.... Om Kenn..." menggeliat.
"Siapa Om Ken?"
"My Sunny."
"Katakan kenapa pergi keluar tanpa ijin dariku. Haruskah aku menghukum mu seperti waktu itu?"
Mulut Cathy membulat, ia ingat bagaimana nakalnya Kennan waktu itu. Dengan cepat Cathy menggeleng, Kennan tersenyum licik..
____^_^____
Readers, jangan lupa dukung si Othor ya
like
komen
vote
gift
terima kasih
salam
__ADS_1
đĽ°âşď¸