Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 65


__ADS_3

Pria bertopeng masker itu mengendap-endap semakin jauh ke dalam kamar yang kosong itu. Langkahnya perlahan mendekati kamar mandi. Pria itu terjungkal tatkala kaki panjang menyentuh pipinya dengan kuat. Dia yang terjerembab di lantai kamar melihat kearah orang yang baru saja menendangnya. Matanya melebar saat melihat Kaki Gara hendak menginjaknya, dengan cepat dia berguling kesamping. Hingga kaki Gara hanya menginjak lantai dengan keras.


Pria bertopeng itu langsung berdiri, dan saat itu juga mendapat tendangan di udara dari Gara. Pria bertopeng itu melakukan pendaratan berputar, menghindari luka yang lebih serius. Dia mengeluarkan pisau dari saku belakang celananya. mengarahkan mata pisau sejajar dengan lengannya dengan bagian yang tajam menghadap keluar.


Mata Gara menyipit. Pria bertopeng itu mulai menyerang, Gara menghindar. Dengan mata tajam menatap pria bertopeng itu, tangannya menyeka pipi atas nya yang sempat tergores pisau. Gara menerjang, mencoba menangkap tangan pria itu, Gara berputar mengunakan sikutnya menghantam wajah pria bertopeng itu. Mencengkram lengan dan memilin nya ke belakang punggung, hingga pria itu terbungkuk.


"Ahhkk.." pekik pria bertopeng itu. Mata Gara menyipit lagi. Dia mengenali suara itu.


Pria bertopeng itu menggunakan kakinya menendang kebelakang, menegakkan punggungnya dan menggunakan tangannya yang masih bebas untuk memukul Gara. Gara menghindar mundur, dia berhasil merebut pisau dari tangan pria bertopeng itu. Tepat saat itu, suara pintu kamar mandi dibuka, Gara menoleh. Pria asing yang menyusup menggunakan kesempatan itu untuk kabur ke balkon.


Gara yang merasa kecolongan, berlari mengejar. Akan tetapi terhenti tepat di pintu penghubung antara balkon dan Kamar Kay.


"Gara."


Gara menoleh,


"Kenapa wajahmu begitu?"


Gara berbalik, melangkah mendekati orang yang mengajaknya bicara seraya berkata:


"Kenapa membiarkan pintu tak terkunci?"


"Kau bilang malam ini akan datang." jawab Kay dengan wajah bingung.


Gara berhenti tepat di depan Kay.


"Lain kali jangan lakukan lagi." Gara membingkai wajah wanitanya dan menciumnya dalam-dalam.


Kay, sedikit terkejut. Tapi dengan cepat menguasai diri, tangannya terangkat memeluk pinggang Gara. Pria itu melepas bibir mungil Kayla setelah beberapa saat lamanya saling berbalas. Mereka mengatur nafas masing-masing yang sempat tersengal.


"Apa yang terjadi?"Kay menyentuh pipi Gara yang tergores pisau.


"Ada penyusup di kamarmu."Gara menatap intens kekasihnya itu.


Kay terkejut, "Benarkah?"


Gara tersenyum, mendekatkan wajahnya pada leher Kayla. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kay yang baru selesai mandi itu.


"Kamu pakai sabun apa?" tanyanya menatap manik mata Kay, "wangi sekali."

__ADS_1


Kay tersenyum senang, "Rahasia. Mau menghirupnya lagi?" Kay menunjuk sebelah lehernya yang lain.


Gara tersenyum nakal. Memeluk tubuh wanita yang menggodanya itu. Membenamkan wajahnya di dada Kayla. Kayla tergelak memeluk kepala pria yang dia cintai itu. Gara menyusuri kulit leher Kay menggunakan bibirnya ke atas, melewati dagu Kayla mencium pipinya dan menggulum bibir Kay. Berdua saling menyambar dengan kekehan kecil. Hingga tanpa terasa handuk Kay terlepas dan jatuh.


TOK TOK TOK


Suara pintu kamar Kay di ketuk. Mereka segera mengakhiri aktivitas mereka, dan saling memandang dengan wajah gugup.


"Kay, ini Daddy."


Wajah kedua anak manusia itu tertegun.


Malvin masih berdiri dibalik pintu, menyentuh handel pintu. Mengetuk sekali lagi.


"Kay, aku masuk ya."


Malvin mendorong pintu yang memang tidak Kayla kunci. Malvin tertegun, Kay sedang berdiri menghadapnya dengan kaku. Dengan handuk yang terlilit ditubuhnya.


"A-ada apa Dad?"


"Tadi aku seperti mendengar suara gaduh dari lantai kamarmu." Malvin melangkah masuk ke dalam kamar Kayla.


"Hemmm..." Malvin melirik pintu beranda Kay yang terbuka.


"Kenapa membiarkan pintu balkon mu terbuka?"


"Iya, tadi.... Aku hanya memastikan kucing itu baik-baik saja setelah bertarung dengan tikus... Tadi."


Malvin menuju pintu balkon, jantung Kay mengentak kuat karena Gara sedang bersembunyi di tembok balkon.


"Da-daddy..."


Malvin menoleh, "Heemm?"


"Aku,,, mau ganti baju." ucap Kay dengan senyum canggung, mencoba membuat ayah sambungnya itu pergi dan tidak keluar ke balkon.


"Baiklah." Malvin tersenyum kecil, lalu menutup pintu penghubung ke balkon dan menguncinya. Malvin berjalan melewati Kay.


"Jangan tidur terlalu malam, heeemm?"

__ADS_1


"Oke."


Malvin keluar dengan menutup pintu tanpa suara. Kay menghela nafas lega. Dia lalu berjalan ke pintu kamar dan menguncinya. Kayla bersungut mendekati pintu balkon, membuka kunci dan pintunya. Serigala yang kelaparan diluar langsung menubruk dan memakannya dengan rakus.


...----------------...


Di lokasi yang berbeda dengan waktu yang berbeda pula.


Cathy mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangannya. Memetik beberapa stroberi merah menggoda, Cathy sesekali memakannya setelah mengusapkannya di baju daster. Dengan senyum senang, lalu memasukkan kedalam mulut. Netranya menangkap wajah Mak Yun dan beberapa ibu-ibu pekerja yang juga memanen stroberi yang memandanginya, lalu mereka tersenyum canggung pada Cathy. Dengan sopan Cathy pun membalas senyuman mereka. Lalu kembali memetik stroberi.


"Hei, menantu mu itu sudah beberapa kali memakan stroberi-nya, apa dia sedang hamil?" mak-mak cerewet satu.


"Hei! Tidak mungkin, mereka kan baru melakukannya semalam. Mana mungkin langsung hamil." mak-mak cerewet dua.


"Aahh, aku tau. Mungkin saja mereka sebenarnya sudah melakukan sejak dulu. Dan berbohong jika belum melakukan nya."mak-mak cerewet satu


"Benar! Ken pria lajang, melihat gadis secantik itu mana mungkin tidak tergoda."mak-mak cerewet dua.


"Lihat saja sepanjang dadanya itu, anakmu benar-benar serigala kelaparan."mak-mak yang lainnya.


Mak-mak teman Mak Yun melihat kearah Cathy serentak menggelengkan kepalanya bersamaan sambil berdecak.


"Ckckck.."


"Mak Yun, itu anakmu kan?" semua menoleh kearah sisi kiri Cathy.


"Kenapa wajahnya terlihat kesal begitu?"gumam Mak Yun heran.


"Cat!"


Cathy menoleh kerah sumber suara.


"Om!" Cathy melambai dengan riang.


____^_^_____


May Readers, kira-kira Kennan marah nggak ya, Cathy bandel dan keluar dari ruangan itu?🤔


Komen dong ya....

__ADS_1


__ADS_2