Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
bab 82


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" suara Embun kesal menatap wajah suaminya."Kalau sampai terjadi apa-apa pada menantu ku, Kamu nggak dapat jatah malam ini." ancam Embun berlalu dengan dua piring di tangannya.


"Apa?" Malvin menoleh pada istri nya."Sayang, Ini terlalu kejam."


Cathy dan Ken yang mendengar ancaman Embun pada suaminya itu menggulum bibir nahan senyum. Malvin berbalik menatap anak dan menantu nya itu.


"Ka-li-an...." geramnya.


"Ingat Dad, kalau sampai terjadi sesuatu pada menantumu, kau tidak akan dapat jatah...." ledek Cathy dengan nada mengejek.


"Anak tengil." Malvin mengangkat tangannya hendak mentoyor putrinya, dengan cepat Ken menghalangi dengan kepalanya hingga dialah yang kena jitak Daddy Mal.


"Sayang! Apa-apaan kau ini?"Pekik Embun yang baru saja muncul dari mengantar makanan twins.


"Apa kamu pikir aku hanya main-main?" Embun mendekat dengan tak sabar. Lalu mencubit gemas pipi suaminya."Apa semua menantuku kau perlakukan seperti ini?"


"Sayang... Jangan di depan anak-anak."


"Mommy, Gara direndam Daddy dikolam, padahal dia abis kena luka tembak." Adu Cathy sengaja biar Daddy-nya dapat Omelan mommy Embun.


"Apa?" Embun yang tadinya menoleh pada Cathy langsung berbalik menatap suaminya.


"Kau... Sungguh sangat keterlaluan...."


Malvin tersenyum penuh permohonan pengampunan. "ahahah, sayang...."


"Kau juga harus kena hukum." Embun menyipitkan mata. "Satu Minggu."


"Apa?" Malvin tersentak protes."Satu Minggu? itu terlalu kejam. Bagaimana bisa kau lakukan ini padaku?"


"Bagaimana bisa kau lakukan ini pada menantumu." Embun balik bertanya dengan nada menghina. Ia melangkah ke arah kolam, untuk melihat keadaan menantunya.


Cathy pun menjulurkan lidahnya pada sang Daddy sambil berjalan mengikuti Momy Embun. Dengan gemas, Malvin mengangkat dan mengepalkan tangannya pada Cathy.


"EHEM!"


Kenan berjalan menyusul Cathy dengan senyum dan tatapan menghina pada sang Daddy.


"Dasar, anak dan menantu sama saja. Huh, kalau aku mengerjainya di kantor akan sangat tidak profesional." gumam Malvin.


...****************...


Kayla masih dengan sabar menunggui jorannya bergerak. Matanya terus menatap kearah air dan ikan yang terus bergerak disekeliling umpannya. Tak berapa lama, kailnya bergerak. Kay segera menarik dan menggulung senar jorannya.


Seekor ikan besar sudah memakan umpannya. Dengan wajah sumringah Kayla menangkap ikan itu lalu membawanya berlari ke kolam Dimana Gara masih berendam.


"Aku dapat, Gara! Aku dapat!" serunya menunjukkan ikan yang masih berada di ujung mata kailnya. Gara yang masih berada di dalam air tersenyum lebar.


"Ayo! naiklah!" ucap Kayla dengan wajah berseri. Gara berenang hingga ke tepian dan menyambut istrinya dengan senyum misterius.

__ADS_1


"Bantu aku naik." ucapnya. Dengan segera, Kayla mengulurkan tangannya. Setelah melempar begitu saja ikan dan pancing nya. Gara menyambut tangan Kayla, begitu sudah tergenggam tangan istrinya. Gara menarik tangan itu hingga istrinya ikut tercebur di kolam. Gara menangkap tubuh mungil Kayla.


"Kyaaa..."


Gara mengumbar senyumnya. Menyatukan keningnya dengan Kening istrinya. Tangan Kayla mengalung di leher suaminya itu.


Disisi lain, Embun yang tengah khawatir itu, tertegun di ambang pintu. Melihat kedua insan itu berada di dalam air, tengah bercumbu.


"Sepertinya, kita biarkan dulu mereka mom."


"Aahh,, iya. Sepertinya begitu. Tapi aku kasihan pada Gara. Sudah berapa lama dia disana?"


"Sekitar dua jam."


Embun menyentak nafasnya. "Benar-benar keterlaluan Daddymu itu." geram Embun."Sepertinya aku harus menghukumnya lebih lama. Mungkin dua Minggu."


"Ha-ha-ha, memangnya Momy tahan?"


Embun menoleh pada putrinya yang tengah meledeknya itu.


"Jadi kau meledek Mommy Haahh??" Embun gemas mencubit pipi putri sambungnya itu.


"Aaa-aaaa..."


"Mommy, biar aku saja yang menghukum Cathy karena sudah meledek Mommy." Ken ikut nimbrung. Embun berdecak melirik nakal pada mantunya itu.


"Ck! sudah punya suami, kalau meledek, sudah ada yang belain." goda Embun mencolek perut Cathy.


"Apa kau sedang berusaha membujukku?" sergah Embun melirik sinis pada suaminya.


Malvin hendak bersuara. Namun terhenti dengan mulut ternganga, melihat di luar sana menantu dan putrinya tengah bermesraan di kolam.


"Jangan pernah berfikir untuk mengganggu mereka." Embun menepuk pelan muka suaminya.


"Benar Dad, setelah direndam SANGAT LAMA, dia butuh kehangatan." tukas Cathy dengan penuh penekanan, tentu saja terselip ledekan disana.


"Oke!" tegas Malvin melirik pasangan di kolam renang."Pandai sekali dia mengambil kesempatan."gumam Malvin lirih.


...****************...


Setelah beberapa saat lamanya, Gara sudah duduk di ruang keluarga yang hangat dengan selimut hangat, dan tentu saja pelukan hangat di lengannya dari sang istri yang duduk disampingnya.


"Ini, minumlah dulu, biar sedikit menghangatkan badanmu." Embun mengangsurkan secangkir jahe padapada menantunya.


"Terima kasih, Mom."


"Apa rencanamu selanjutnya?" Embun mendudukkan bokongnya disamping suaminya duduk.


"Setelah ini kami akan ke vila."

__ADS_1


"Secepat itu?"


"Ada banyak hal yang harus kami lakukan."


"Baiklah."ucap Embun."Terserah kalian saja. Mm.. Mengenai pernikahanmu, apakah Ayahmu tau?"


Gara menggeleng."Dia tidak perlu tau."


Embun membuka mulutnya hendak berucap, namun ia terlihat ragu, lalu mengurungkannya.


"Ah, sudahlah. Toh masih belum tau kebenarannya." pikir Embun.


Hari menjelang sore, Kayla dan Gara akhirnya berpamitan. Twins, juga ada disana. Kayla mendekat pada mereka. Ia tersenyum sambil menyamakan tinggi.


"Kakak punya sesuatu untuk kalian. Kalian mungkin akan suka permainan ini. Karena banyak teka-teki didalamnya." Kayla menggenggamkan Cip pemberian Gara pada Sean.


"UMM.."


Kay dan Gara pun akhirnya meninggalkan kediaman keluarga Malvin. Keluarga itu menatap mobil Gara yang perlahan bergerak meninggalkan gerbang Vila.


"Akhirnya, mereka pergi meninggalkan kita."


"Hemm..."


"Sayang?" panggil Embun menyenderkan kepalanya pada lengan sang suami."Bagaimana jika kita pastikan masalah Gara."


"Untuk apa?"


"Yaahh, aku pikir, dia perlu tau."


Malvin tersenyum tipis. "Masalah itu, biar kami sendiri yang mengurus nya. Kamu jangan khawatir. Lagi pula...."


Embun memelengkan kepalanya, melihat wajah Malvin.


"Lupakan saja." Malvin mengusap lengan istrinya.


____^_^____


Readers, jangan lupa dukung si Othor ya


like


komen


vote


gift


terima kasih

__ADS_1


salam


🥰☺️


__ADS_2