Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 42


__ADS_3

Dimeja makan keluarga Malvin.


Kay makan dengan lahap, gadis itu menjejalkan apa saja kemulutnya. Twins , Malvin dan Embun menatap padanya dengan heran.


"Kay!" Panggil Embun.


"Heemm?" Kay menoleh, mengangkat wajahnya.


"Kau baik-baik saja?"


"Heemm .."Angguk Kay, lalu melanjutkan makannya.


Embun dan Malvin saling berpandangan.


"Kak, kau bisa sakit jika makan begitu." suara Kian melihat Kay makan begitu lahap.


"Kaka lapar Ki, seharian ini belum sempat makan. Kaka terlalu sibuk kuliah hingga lupa... Hahaha."


Semuanya menatap prihatin pada nya.


"Sungguh. aku tidak apa-apa." Kay menatap keluarganya satu persatu.


"Yaaa.. baiklah. Aku akan berhenti makan." ucap Kay. meletakkan sendoknya.


***


Kayla berdiri dipinggiran kolam disamping rumah, disana dibuat pancuran yang membuat air bergemericik.


"Rasanya tenang melihat birunya air yang jernih,Kay."


Kayla menoleh, Malvin berjalan mendekat dengan senyuman diwajahnya.


"Yaaah...."


"Apa yang terjadi tadi siang? Daddy terkejut tiba-tiba saja kau minta beberapa body guard pada ku."


"Aku... bertemu dengan Paman Niel."


Mendengar Kay bertemu dengan Daniel tentu saja hati Malvin tergerus, entah apa lagi yang pria itu lakukan untuk menyakiti keluarganya.


"Lalu...."


Kay mengeluarkan undangan berwarna merah dari sakunya. Menyodorkannya pada Malvin.


Malvin mengambil nya, membuka dan melihat undangan pertunangan Gara. Malvin bernafas berat.


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan datang."


Malvin langsung menoleh pada Kay. Menatap wajah cantik anak sambungnya dari samping.


"Biar Daddy antar."


Kay menoleh untuk melihat wajah Daddy-nya,


"Tidak Dad. Aku bisa sendiri."


"Daddy tidak mengijinkanmu pergi jika sendiri. Biarkan Daddy mengantarmu atau tidak pergi sama sekali?"


Kay menatap tajam Daddy-nya, begitupun dengan Malvin tak kalah dengan mata nya yang bertekat.


"Baiklah Dad. Kau boleh mengantarku, tapi, jangan lakukan apapun."


"Baiklah. aku berjanji."


***


####


Malam harinya, Kay mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Dibawah shower hangat menerpa wajah nya. Menyamarkan tetasan air mata yang jatuh.


Rasa Sakit di dadanya yang kian menohok membuatnya ingin berhenti bernafas walau sejenak.


KRIIEEETT.... (Suara pintu beranda kamar Kay terbuka)

__ADS_1


Langkah kaki dengan sepatu sneaker berjalan perlahan memasuki ruang kosong itu. Melewati ranjang kamar Kayla, langkah kaki itu berhenti di depan meja komputer Kay. Disana berserakan beberapa lembar foto.


Tangan sosok itu mengambil satu lembar foto. Terdiam sesaat lalu meremasnya.


CEKLEK! (Suara pintu kamar mandi dibuka)


Kay dengan balutan handuk ditubuhnya terdiam mematung di ambang pintu kamar mandi. Netra nya menatap sosok yang berdiri di depan komputernya.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Aku kangen. Aku ingin melihatmu."


Kay hanya terdiam.. Dia melangkah menuju ruang ganti.


"Kau sudah lihat, pulang lah. Nanti Ayahmu mencari mu."


"Kau bertemu dengan nya? Apa yang dia katakan padamu?"


"Bukan hal penting."


Gara memangkas jarak, memepet tubuh gadis itu ke tembok. Tangan Gara mencengkaram kedua pergelangan Kay, dan menekannya pada dinding.


"Apa yang dia katakan padamu?"


"Kenapa kamu begitu tertarik?" sinis Kayla. Gara menatap tajam wajah cantik gadis didepannya.


"Kenapa? Pertanyaan macam apa itu? Kita memiliki hubungan. Kita sama-sama tau bagaimana perasaan masing-masing. Bagaimana bisa kau masih menanyakannya?"


Kay terdiam menatap mata Gara. Netra gadis itu mulai berembun. Kay menggigit bibirnya, tak ingin Gara melihat air mata nya yang jatuh. Kayla memalingkan wajahnya. Masih dalam diam. Meskipun dada nya bergemuruh hebat.


"Apa yang dia katakan padamu? Apa foto-foto itu dari nya? Apa dia menyakitimu?" Tanya Gara dengan nafas hangat nya yang merpa wajah Kayla.


"Kau berubah sedingin ini padaku. Pasti dia mengatakan hal yang menyakiti mu. Katakan padaku Kay, agar aku tau bagaimana harus bertindak."


"Lepaskan aku."


Gara semakin mengeratkan genggaman nya. Netranya masih menatap tajam Kayla.


"Aku katakan padamu jika kau lepaskan aku."


"Katakan!"


"Daniel ingin aku menjauh dari mu."


Gara tertawa pahit.


"Kenapa dia terus ingkar. Aku sudah bersepakat untuk beberapa hal."


"Sepakat?"


"Heemm... kemarilah." Gara menarik tangan Kay ke meja komputer milik Kayla.


Gara, duduk di kursi nya dan menarik Kay hingga duduk di pangkuan nya.


Gara mulai memainkan jari nya.


"Lihat dan pelajari."


Mata Kay bergerak mengikuti jemari Gara juga pada layar monitor didepan nya. Matanya melebar,


"Apa yang kau lakukan?"


"Ayah punya banyak dana rahasia dan bisnis lainnya. Dan itu sama sekali tidak saling terkait. Itu artinya, jika kau hancurkan satu dia masih punya beberapa lainnya yang tumbuh." Jelas Gara, dengan jemari yang masih beraksi.


"Jika kau ingin menghentikan nya, kau harus hancurkan porosnya." ucap Gara lagi.


Kay menatap wajah Gara.


"Aku memintamu untuk mempelajarinya, bukan memperhatikanku." Tegur Gara merasa Kay melihatnya dengan tatapan yang entah apa.


"Kenapa kau lakukan ini?" Kay masih menatap wajah Gara, "Jika begini kau juga akan merugi. Daniel orang tuamu."


Gara terdiam. Pria itu menelan ludah, ingin rasanya memeluk dan mencium gadis didepannya ini. Tapi dia masih punya hal lain yang lebih mendesak.


"Pelajari ini Kay. Aku tak punya banyak waktu."

__ADS_1


Kayla termenung, sejenak dia masih ingin bertanya banyak hal, ingin tau banyak hal, namun sepertinya Gara lebih ingin memanfaatkan waktu mereka dengan urusan cyber.


Hingga pukul satu dini hari, Gara akhirnya pamit. Setelah semua urusan mereka selesai.


"Setelah ini, jangan hubungi aku dulu."


"Baiklah."


"Aku pergi." Pamit Gara dari atas balkon kamar Kayla.


Pria itu bersiap hendak terjun ke bawah, dia menoleh melihat pada Kay yang masih berdiri diambang pintu balkon masih dengan lilitan handuk ditubuhnya.


Gara melepas jaketnya, lalu menyelimutkan nya di tubuh Kayla.


"Malam ini dingin. Jangan keluar Dengan dengan penampilan seperti ini."


Gara melangkah mundur. Lalu berbalik tepat di pagar pembatas balkon. Gara melompat dan terjun kebawah.


"Ada hal yang terlewat Gara, Apakah kau akan tetap bertunangan dengan Sanum jika aku datang?


***


####


Embun baru saja keluar dari dapur, setelah dia melakukan pengecekan di restorannya itu.


"Nyonya."


"Iya Ana?"


"Ada yang mencari anda."


Mata Embun menyipit, siapa kah gerangan yang mencarinya?


Embun berjalan melewati taman diareal tengah restoran Sebening Embun. Di meja yang disebutkan duduk seorang pria, Embun rasa dia mengenalnya.


"Tuan Daniel?"


Daniel menoleh, pria itu tersenyum melihat wajah Hana ada di depannya. Yang kini bernama Embun.


"Ada apa mencari ku? Aku tidak menerima negosiasi untuk keluarga ku."


Daniel terkekeh,


"Sebentar lagi Gara akan bertunangan."


"Itu bukan urusan saya."


"Kay sudah tau, dia akan datang pada hari itu."


"Kau bajingan!"


Daniel terkekeh,


"Aku bisa membatalkan nya, asal kau datang padaku."


Mata Embun menyipit. "Apa kau sedang membodohiku? Walau aku datang padamu, tak mungkin untuk mereka bersatu. Gara anakmu, dan Kay juga anakku."


Daniel kembali terkekeh.


"Gara, bukan anak kandungku..."


"Apa?" Mata Embun membulat,


_____^_^_____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


salam hangat

__ADS_1


☺️


__ADS_2