
Gara menyipit kan matanya. mengacungkan pistol pada Laos.
"Jadi, ayah mengirimmu?"
"Aku hanya menjalankan perintah."
"Kau mau berakhir bagaimana?"
"Terserah. Itu tidak penting bagiku."
Gara membuang pistolnya. Ia mengepalkan tangannya didepan dadanya. Bersiap untuk pertarungan tangan kosong.
"Ayo kita lakukan seperti biasa."
Laos terkekeh, "Kau akan menyesalinya tuan muda."
Tatapan Gara menajam. Ia bergerak maju dan menyerang dengan cepat. Laos pun tak kalah sengit menangkis dan balik menyerang. Hingga salah satu dari mereka tumbang. Suara nafas Gara yang sedikit tak beraturan karena melawan Laos yang paling tangguh diantara anak buah Ayahnya. Selain tangguh Laos juga licik saat tubuhnya berada dibawah injakan kaki Gara, pria itu mengambil pisau yang terselip di pahanya, dan menyerang Gara. Untung Gara sigap dan cepat berguling menghindar, tepat disamping pistol yang dia buang. Gara tersenyum culas. Ia meraih pistol itu yang tanpa ragu menembak kepala Laos.
Darah segar keluar dari kepala Laos, tubuhnya ambruk kebelakang. Dan hilanglah nyawanya. Gara berdiri dengan menatapnya dengan dingin. Ia lalu melangkah menuju dimana Ayahnya bersembunyi.
Malam itu, Daniel berdiri dengan wiski ditangannya. Diruang yang penuh cahaya keemasan yang membuat semua terkesan elegan dan mewah. Daniel menenggak minumannya dengan nikmat. Ditelinga nya terpasang Earpone yang terhubung dengan semua komunikasi anak buahnya. Tentu ia juga mengetahui jika Gara telah menghabisi orang kepercayaan nya.
Daniel menggenggam erat gelas yang dia bawa. Dengan wajah penuh aura kemarahan,Daniel melempar gelas itu Kedinding dan menciptakan suara kaca yang pecah berderai.
"Dump it!"
...****************...
Disisi lain, Kayla mengikuti Micky. Dengan sedikit waspada. Pasalnya ia baru saja mendapat informasi, jika Micky memiliki data diri yang janggal dan mencurigakan. Dalam data yang berhasil Kian kumpulkan atas permintaan Cathy,
"Sosok Micky seharusnya sudah meninggal. Namun Micky yang ini masih hidup, itu artinya. Dia menggunakan identitas orang lain. Kenapa?" Batin Kayla menatap Micky dengan pandangan was-was, walau kini ia masih mengikuti Micky.
"Dia orang kepercayaan Gara, tak mungkin Gara tak tau identitas pria ini yang sebenarnya. Atau mungkin....."Kayla masih berkecambuk dalam pikirannya."Gara-lah yang membuat identitas palsu itu. Tapi kenapa?"
__ADS_1
"Kenapa Gara begitu misterius? Walau dia sudah menjelaskan siapa dirinya, tapi siapa yang akan menjamin itu adalah fakta?" Kayla masih berjalan mengikuti Micky semakin masuk kedalam perut bumi. Kay mengambil Pistol di punggungnya, dan bersiap jika sewaktu-waktu Mickey berbalik menyerangnya.
"Dibunuh, atau membunuh." gumam Kay menatap kedepan."Demi anak di dalam perutku, aku akan lakukan apapun."
Akhirnya sampailah mereka di pintu keluar, Micky masih memandu Kayla hingga masuk kedalam hutan. Menapaki jalan yang hanya semak belukar saja. Lalu Kayla melihat sebuah mobil terparkir tak jauh dari tempatnya keluar dari rimbunan semak belukar itu. Ia ternganga, mobil itu yang Gara kendarai terakhir kali.
"Apa gara ada disini?"
"Tidak nyonya. Tuan muda Gara, masih di markas Tuan Daniel."
"Apa?"
"Naiklah dulu, kita ketempat yang lebih aman."Micky membuka pintu mobil untuk Kay.
"Bawa aku ketempat Gara." Kayla menajamkan matanya.
"Tidak, Tuan muda memintaku membawa anda ke tempat aman."
"Kau tidak mau? Kalau begitu aku memaksa." Kayla mengangkat tangannya dan mengarahkan moncong pistolnya ke Micky.
Micky menarik tangan Kayla yang masih memegang pistolnya, Micky memukul tengkuk Kayla hingga ia kehilangan kesadaran, dan ambruk di pelukan Micky.
...****************...
Gara mendobrak pintu dimana Ayahnya berdiri dan menunggu.. Melihat sosok ayahnya yang berdiri menatap sebuah bingkai foto dia dan seorang wanita dalam baju pengantin. Keduanya tersenyum pada kamera.
Gara menatap ayahnya tajam dan dingin. Mengangkat tangannya yang memegang pistol. Daniel tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Kau tau siapa wanita ini?" Daniel masih tak menoleh dan hanya menatap foto didepannya.
"Aku tidak mau tau."
"Dia adalah ibumu."
__ADS_1
"Ha-ha-ha, apa kau sedang memohon ampun padaku?"
"Tidak. Dia sungguh ibumu."
"Kau membuatku muak." Gara semakin mendekat dengan pistol yang mengarah pada ayahnya.
"Dia sangat mencintaiku. Aku menyesal karena tak berada di sisinya saat ia meninggal setelah melahirkanmu." secara emosional tentu saja Gara sedikit terpengaruh. Ia tak pernah melihat wajah ibunya sekalipun. Namun, ia juga sadar siapa Daniel.
"Memohonlah dengan benar. Jangan memberiku cerita picisan yang memuakkan."
"Apa kau tak melihat kemiripan wajah kalian?"
"Jangan membual padaku Daniel! Aku sudah menyelidikinya, Kau bahkan belum pernah menikah."
"Kami menikah secara siri. Dia wanita tercantik yang pernah aku temui. Kau tau, namanya adalah Hana."
"Apa kau tau apa itu artinya? Aku membalas dendam pada pria yang sudah membunuh ibumu. Tapi kau malah justru membantunya. Bahkan menikahi anaknya, yang sepupumu sendiri." Seringai Daniel berbalik menatap anaknya yang tampak ada sedikit celah emosional. Daniel dengan cepat melempae Sebuah tempat Lilin kearah anaknya itu, Gara berhasil menghindar. Namun detik berikutnya,Daniel menendang Gara menginjak tubuhnya. Daniel menempelkan mulut pistol dikepala Gara.
"Ha-ha-ha, Mati sajalah kau, Anakku!"
___^_^____
Readers, jangan lupa dukung si Othor ya
like
komen
vote
gift
terima kasih
__ADS_1
salam
đĽ°âşď¸