
Sore itu, dikediaman Keluarga Malvin. Kenan yang sedang menunggu Malvin bersiap untuk bertolak keluar kota karena suatu urusan bisnis.
"Apa Om lihat-lihat?" ucap Catty yang menangkap basah Kenan sedang melihat kearahnya."Ntar jatuh cinta loh sama Catty."
"Aku sedang mengawasimu."
"Heemmmm.... Lagaknya bilang ngawasin." ledek Catty dengan senyum lucunya.
Kenan menggeleng sambil mengalihkan pandangannya. Melihat pada benda pipih yang menempel di dinding menampilkan adegan drakor yang Catty tonton.
"Om Ken..."
"Heemm..."
"Masih sakit nggak?"
"Apanya?"
"Itu yang kemarin kena dengkul?"
Mata Kenan mendelik, mengingat saat Catty dengan entengnya menendang pusat semesta alamnya. Catty terkekeh.
"Maaf Om. Habis, Om Ken juga bandel sih. Coba kalau ngikutin Om, nggak bakal tekejar Mommy."
"Apa itu bentuk permintaan maaf yang benar?"
"Jadi, Om Ken mau aku bagaimana untuk minta maaf?"
"Besok, datanglah ke apartemenku."
"Besok aku masuk kuliah Om."
"Kau bisa datang sehabis pulang kuliah."
"Mmm... Okey." Catty menonton drakornya lagi."Mmm, memangnya Om Ken sudah kembali besok."
Kenan tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Catty.
"Apa maksud senyumanya itu? Mencurigakan sekali." Batin Catty melirik Ken curiga.
"Ken! Ayo."Suara Malvin di kejauhan menatap pada asistennya itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Malvin sambil berjalan begitu Kenan sudah tak jauh darinya.
"Nona Catty hanya minta maaf."
"Minta maaf?" Malvin mengerutkan kening.
"Untuk kejadian yang terakhir kalinya....." ucap Kenan ragu.
"Aah, dia menedang telurmu maksudnya?" kekeh Malvin.
"Anda tidak perlu membuatnya begitu jelas tuan."
Malvin masih terkekeh.
"Saya bisa menuntut Nona Catty jika ini tidak berfungsi."
"Tidak apa-apa, aku bisa menikahkanmu dengannya."
"Tuan kenapa anda bicara tanpa berpikir."
"Aah, jadi kau tidak mau menikah dengan putriku?"
"Saya tidak bilang begitu."
"Oohh, jadi kamu mau?"
"Tuan, mari kita bicarakan pekerjaan saja."
Malvin tergelak dengan mengangkat jarinya pada Ken. Lalu menggoyangkannya.
"Ahhahahah..."
"Sial! Bagaimana aku bisa terjebak oleh ucapannya." batin Kenan sedikit kesal pada Malvin yang menggodanya itu.
***
###
"Kay! Apa kau didalam?"
"Iya bu, masuklah."
Embun mendorong pintu kamar Kayla, menutup perlahan dan melangkah mendekati anak gadisnya yang sedang duduk di tepian ranjang.
__ADS_1
"Ada apa, bu?"
"Bagaimana kuliahmu?"
"Biasa saja."
"Ada yang membuatmu kesulitan?"
"Tidak."
Embun mengambik duduk di sisi Kayla.
"Ibu dengar kau menutuskan untuk membantu Dady Mal."
Kay mengangguk.
"Kau yakin tidak apa-apa?"
Kay mengangguk.
"Apa yang Ibu khawatirkan?"
"Ibu dengar Gara juga ada disana." Embun menghela nafasnya, "Duduk di sisi yang berlawanan denganmu. Kau yakin baik-baik saja dengan itu?"
"Apa Daddy yang bilang?"
"Heemm.."
Kayla mengikis jarak dan memeluk ibunya.
"Aku baik-baik saja bu, Daddy terlalu kuwatir."
"Baguslah kalau begitu." Embun melonggarkan pelukannya.
"Ibu, aku ingin mengunjungi ayah, bolehkah?"
Embun mengulas senyumnya. "Tentu saja."
"Apa kau mau Ibu mengantarmu?"
"Tidak usah bu, Kayla biaa sendiri. Kay sudah besar. Juga sudah punya SIM."
Embun terkekeh.
"Baiklah, anak gadis Ibu, Hati-hati dijalan besok. Jam berapa rencananya kamu akan berangkat?"
"Ya sudah, kamu bersihkan dirimu dan istirahatlah."
"Baik ibu."
Embun keluar dari kamar Kayla. Sejenak gadis itu termenung. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi. Selesai Kay membersihkan diri dia keluar dengan berbalut handuk ditubuhnya.
Kay mengoleskan lotion di kaki dan tangannya. Terdengar suara ketukan di kaca pintu balkon. Kay menoleh.
"Suara apa itu?"
Terdengar lagi,
"Apa ada binatang yang hinggap di balkon?"
Kay berjalan mendekat dan mengintip dari balik tirai tipis. Namun tak terlihat apapun. Kay coba membuka pintunya,
KRIIEEETT
Sejenak dia terdiam dalam kekosongan. Sosok pria dengan jaket jampernya berdiri tepat didepannya. Tersenyum dengan sangat tampan.
"Aaaaaaaggg...." pekik Kayla segera menutup pintu itu.
Apa yang dia lakukan disana?" pikir Kay, gegas Kayla menyaut jaket yang terkait di tembok kamarnya. Memakainya dengan cepat diatas handuknya, barulah dia kembali membuka pintu balkon.
Gara tak lagi berdiri didepan pintu, pria itu sedang bersandar pada pinggiran pagar balkon dan menghisap rokoknya. Gara tersenyum tipis.
"Apa aku mengagetkanmu?"
"Heemm... Kenapa datang tanpa memberitahuku? Mana lewat balkon lagi." Protes Kay dengan muka ditekuk.
"Kau bilang paman tidak mau kita berhubungan."
"Mmm, yahh, dia pasti akan marah jika tau kau disini, menyusup lewat jalur yang salah."ungkap kay. "kenapa bisa disini?"
"Aku sedang mencari udara segar. Dan kebetulan lewat sini. Jadi aku mampir."ucap Gara menyembulkan asap dari mulutnya. Apa kamu keberatan?"
"Uuggghh... Tidak."
Gara kembali tersenyum tipis. Kay menggaruk betisnya dengan kaki. Rasanya sangat canggung bagi Kay, entah kenapa.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Paman? Apa dia baik-baik saja?"
"Heeemm... Sekarang sedang dalam perjalanan bisnis."
"Syukurlah."
"Bagaimana dengan ayahmu?"
"Tidak ada yang perlu di kawatirkan."
"Apa kau punya makanan dikamar? Aku lapar."
"Hanya ada camilan dan snack."
***
Dibawah malam yang pekat, dan taburan bintang dilangit malam itu, Gara dan Kayla duduk di lantai balkon.
"Oohh ya? Apa ayahmu selalu begitu?"
"Dia suka sekali membanting barang."
"Untung kau bukan barang."
"Jika iya, mungkin aku sudah remuk." kekeh Gara memasukkan kripik kentang kemulutnya.
Kay ikut terkekeh.
Dari beberapa kamar sebelah, tepatnya kamar Catty. Gadis itu memperhatikan dua sejoli yang sedang berkencan di balkon kamar, menghela nafasnya.
"Haaaaahh.... Mereka bahkan sudah berkencan sedekat itu. Bagaimana denganku?" Keluh Catty menghela nafasnya lagi.
"Aku dan Om Kenken masih saja tak jelas. Apa dia tak suka dengan gadis di bawah umurnya?" Catty kembali menghela nafasnya.
"Hmm.. jika begitu, apa aku harus berdandan selayaknya wanita dewasa?"
"Berpakaian Seksi?"
Bagai dapat ilham, Catty menepuk tangannya sendiri.
"Benar! Mungkin aku kurang menggoda. Baiklah. Biar kucari di online shop. Mungkin aku akan dapat barang yang bagus."
Caty segera masuk kekamarnya, mengambil hp dan mulai berselancar. Catty melihat banyak nya pakaian kurang bahan di online shop.
"Hmmm.. Sebaiknya baju medan perang seperti apa yang harus kupakai? Yang menggoda? Yang membuat Om Ken melihat jika aku ini sudah dewasa.... Hemmmm..."Caty masih terus mencari dan memilah.
"Huuuff.... Apa aku akan begitu percaya diri untuk memakainya?" Gumam Caty melihat baju dinas malam para ibu rumah tangga.
"Apapun akan kulakukan!" Tekat Catty mengepalkan tangannya seraya mengangguk yakin.
"Baiklah! Aku akan beli ini! Tunggu aku Om Ken!"
"Kyaaaaa....."
_____^_^_____
Othor kasih Visual lagi ya😀
karena banyak yang protes, akhirnya othor ganti dengan model yang sama, hanya dari sudut dan dandanan yang berbeda.
Catty
Kenan
Kayla
Gara
Daniel
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊