
Daniel berdiri ambang pintu rumahnya, menunggu anak lelakinya kembali. Dengan kedua tangannya yang dia simpan dalam saku celana. Begitu melihat mobil Gara memasuki gerbang vila, dengan segera Daniel masuk dengan tatapan elangnya.
Gara memarkirkan mobil nya sembarang. Mengambil pistol di dashboard dan menyelipkannya di punggungnya. Gara mendorong pintu disampingnya hingga terbuka, berhambur keluar dan melangkah lebar ke dalam vila milik ayahnya.
Daniel berdiri menyambutnya di depan pintu.
"Kau kembali nak!"
Gara menarik sudut bibirnya sebelah keatas.
"Sampai detik ini aku masih menganggapmu ayah."
"Menarik sekali." Daniel terkekeh.
Gara melirik seorang pria yang berdiri dibelakang Daniel.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Daniel mencemooh.
"Dia juga seorang hacker profesional. Kemampuannya setara denganmu. Aku mendapatkannya semalam, saat kau sedang asyik bercinta dengan anak Malvin."
Gara menyipit kan sebelah matanya.
"Dia... lebih bisa diandalkan karena tidak terlibat dengan hati. Dia tidak bodoh sepertimu."
"Aku jadi lebih bodoh jika mendengarkan mu, Ayah." balas Gara pelan.
"Aku kemari hanya untuk memperingatkan mu. Aku tidak akan tinggal diam jika ayah terus mengganggu nya. Menyerang privasinya. Bahkan sampai berniat mencelakainya."
"Sebagai permulaan periksalah, jaringan perusahaanmu."
Daniel terkekeh,
"Apa kau pikir kau bisa keluar dari sini setelah mengatakan itu nak?"
DOOORRR
###
Cathy membuka matanya, tepat saat tangan terulur kearahnya. Dengan refleknya, menarik lengan tangan itu,bangkit dan membantingnya. Ken yang masih di kamar mandi mendengar suara keras dari kamar pengantin dimana istrinya pulas itu, bergegas keluar dengan tubuh basah. Matanya terbuka dengan lebar. Terkejut dengan Cathy yang berada diatas tubuh Henri dengan tangan kiri mengepal bersiap meninjunya, sementara tangan yang lain menahan leher pria malang itu.
"Aaaaduuuuhhh....."
"Ada apa ini?"
"Wuaaaa...." Cathy reflek bangkit begitu melihat Henri berada dibawah tubuhnya.
"Om, kumohon jangan salah paham..." Cathy sudah panik saja. Antara merasa bersalah dan menyesal.
"Apa yang kau lakukan disini Henri?" geram Ken dengan urat dikepalanya yang terlihat menonjol dengan jelas."Apa kau sedang mencoba memperkosa istri ku?"
"Apa? Apa matamu buta? Aku korban disini!"
Ken Terkekeh, "Lalu apa yang kau lakukan disini disaat aku tak ada?"
__ADS_1
"Ini! ini!" Henri yang kesal melemparkan obat nyamuk bakar ke arah Kennan.
"Tetua sialan itu menyuruh ku mengantarkan ini kemari! Menyuruhku membakarnya agar mantunya ini tidak digigit nyamuk! Huuuhh,, berlebihan sekali, nyamuk saja takut menggigitnya." Henri melirik kesal pada Cathy.
Sudah yang kesekian kalinya dia mendapatkan kekerasan saat Cathy tak sadarkan diri. Sungguh miris.
"Hiiisshh..."Henri yang kesal menjejak udara. Lalu bangkit dan berjalan keluar dari kamar pengantin dengan menggerutu.
"Kak, maaf! Itu hanya refleks." Seru Cathy menyusul Henri karena merasa bersalah dan kasihannya. Entah mengapa, pria itu selalu mengalami kesialan.
"Sudahlah, tidak perlu!" Henri menghempas tangannya saat Cathy memegang lengan pria itu.
"Jangan marah Kak." rengek Cathy masih terus menggelayuti Honey.
Gadis itu masih membujuk Henri mesti sudah berada dijalan penghubung ke ruang pengantin dan rumah utama. Ken yang menyusul cepat-cepat, dengan asal memakai bajunya.
"Cathy biarkan saja dia."
Ken menghela nafasnya, gadis itu seperti tidak mendengar, atau mungkin tidak perduli dengan seruannya. Hingga Ken terpaksa mengikuti dibelakang. Lucunya, hingga beberapa langkah, mereka justru berakhir jalan-jalan keliling kampung bertiga. Cathy dan Henri berjalan berdua didepan, sementara Ken hanya jadi pengawal mereka berdua dibelakang.
Ken memperhatikan istrinya dari belakang. Bagaimana Cara Cathy berjalan, bagaimana Cathy tertawa dan menepuk lengan Henri. Dan bagaimana sepupunya itu terlihat begitu geli dengan sikap Cathy. Kadang henri menjauh, Cathy menariknya dengan tawa diwajah cantiknya.
Setelah Ken pikir lagi dan melihat kebelakang, sepupunya itu memang orang yang sedikit sulit bergaul, mengingat bagaimana karakter Henri yang menyimpang. Mungkin Cathy wanita pertama yang bisa sedekat itu pada Henri. Mereka sempat berhenti di sawah yang banyak kunang-kunang nya, menangkap sebagian dan membawanya pulang. Henri sangat senang karena berhasil nangkap beberapa. Melambaikan tangannya dengan bersemangat dan kembali kerumah utama.
Sedangkan Cathy dan Kennan berjalan menapaki jalan penghubung ke kamar mereka.
"Om."
"Kakiku capek." rengek Cathy dengan muka cemberut.
Ken tersenyum kecil dan membungkukkan badannya didepan Cathy.
"Naiklah." sambil menepuk punggungnya sendiri.
Cathy tersenyum manja, lalu naik ke punggung suaminya. Dengan langkah pelan, Kennan menggendong Cathy. Gadis itu memeluk leher Kennan dengan merapatkan tubuhnya.
"Begini jadi hangat Om."
"Cat, Ingat pe-er mu."
"Heee?"
"Aaa~ Iya..." Cathy akhirnya ingat untuk mengubah nama panggilan suaminya itu.
"Bagaimana kalau Om suami?"
"Nggak mau!"
"Om Abang?"
"No!"
"yoooboooo.... seo?"
__ADS_1
"Jangan yang aneh-aneh!"
Honey!" Cathy berseru girang.
"Itu membuatku merinding!"
"Terus apa dong kalau semua ditolak!"
Hening sejenak, suara jangkrik mendominasi.
"Daddy Ken?"
Kenan tergelak, "Ha-ha-ha."
Cathy yang kesal akhirnya menepuk punggung suaminya. Karena tak ada satupun yang membuat suaminya puas.
"Cathy,"
Cathy memelengkan kepalanya melihat Ken dari samping dengan dagu yang bertumpu pada pundak pria itu.
"Hari ini aku belum menghukum mu."
"Apa? Hukuman untuk apa?" Cathy tersentak
"Tadi! pergi tanpa ijin."
"Aku kan sudah ijin!"
"Ijin manipulatif!" tegas Kenan. "Kau tetap harus dihukum!"
"Haaiiissshh...."
Kenan menurunkan istrinya, mendudukkan Cathy diatas teras panggung kamar pengantin. Menangkup wajah Cathy dengan lembut menggulum bibirnya. Membelit lidah dan mengekplor seluruh rongga mulut istrinya.
"Apa~ ini hukumannya?"
"Bukan~" Kenan tersenyum nakal.
Kenapa perasaanku jadi nggak enak.." pikir Cathy
_____^_^______
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
☺️
__ADS_1