
DING DONG!!
Suara bel rumah Kenan berbunyi.
Ken melangkah ke depan membukakan pintu. Ken terkejut, dengan mengumbar senyum canggung menggosok tengkuknya.
Malvin menatap tajam pada asistennya itu.
"Apa anak gadisku di sini?"
Ken memiringkan tubuhnya, mempersilahkan tuannya masuk. Malvin menerobos masuk ke dalam rumah Kenan. Dan berhenti diruang tamu, wajahnya terlihat sangat kesal melihat Catty berada di sana.
"Kau! Benar-benar tidak tertolong."
Cathy menatap wajah Daddy nya."Apa maksud ucapanmu Dad? Kenapa aku merasa sangat tersinggung."
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini?"
"Apa yang Daddy lihat?"
"Bocah tengil!"
Ekor mata Malvin menangkap sesuatu dikantong yang tak jauh dari Catty duduk. Sigap pria itu mengambil nya.
"Apa ini?" kaget nya melihat bercak darah pada sepray sofa. Mata Malvin langsung mendelik tajam. Menatap kedua insan yang kini ada didalam ruangan itu.
Dengan Marah, Malvin mengambil ponsel dari saku. Melakukan panggilan telepon.
đ:"Sayang!"
đ:"Cathy ada di sini."
Malvin terdiam sejenak.
đ:"Panggil penghulu kemari!"
Cathy dan Kenan tersentak kaget dengan ucapan Malvin. Bersamaan berucap:
"AAAPPAA??"
"Tuan Malvin kurasa ada kesalahpahaman disini. Mari kita bicarakan baik-baik."bujuk Ken.
"Membicarakan apa?"melirik tajam pada asistennya itu."Apa yang mau di bicarakan?"
Malvin mengayun-ayunkan sepray yang ternoda di depan wajah Kenan.
"Tak ku sangka kau bisa melakukan hal semacam ini!" kesal Malvin semakin kalap menatap pada Caty anaknya."Bukan begini caraku mendidik mu!"
"Apa, apa memangnya yang aku lakukan?"
"Masih berani mengelak?" Malvin melemparkan sprai bernoda merah itu pada Caty.
Catty tersenyum tak percaya.
"Dad! Ini...."
"Aku tidak perduli! Kalian harus menikah malam ini!" tegas Malvin menatap tajam dengan amarah.
Cathy mengusap wajahnya kasar.
"Tuan! Ini tak seperti yang anda pikirkan." ucap Ken mencoba menjelaskan.
"Kenan! Aku tidak menyangka kau bisa berlaku gila pada putri ku. Aku tau dia menyukai mu tapi ini sangat keterlaluan!"
"Tuan! Tolong dengarkan aku."
"Kau membuat ku kecewa. Cathy masih anak-anak! Dia putri kecilku! Bagaimana bisa kau lakukan ini padanya." Malvin mencoba mengatur emosinya. "Serigala tetap saja serigala."
__ADS_1
Malam itu, akhirnya mau tak mau Kenan dan Catty dinikahkan juga. Setelah semua orang yang tak berkepentingan pulang. Tinggallah di sana Malvin, Embun dan pasangan yang baru saja resmi menjadi suami istri itu duduk diruang tamu.
Malvin menghela nafasnya kasar. Menatap tajam pada Ken dan Catty. Embun pun sepertinya kesulitan untuk meredam amarah suami nya. Hingga dia hanya bisa diam.
Cathy menatap Momy nya memohon. Cathy hanya mengumbar senyum.
"Mommy.." lirih Cathy memohon.
Embun tersenyum ramah menatap kedua orang yang kini ada didepan nya itu.
"Mommy senang punya menantu seorang Kennan." ucap Embun akhirnya.
"Momy, bukan itu...." lirihnya. Melirik pelan pada Kennan.
"Yah, karena ini sudah terjadi, mari kita menjadi keluarga yang akur." ucap Embun menatap Kenan yang terlihat sangat canggung. Bagaimana tidak, kini bosnya sudah menjadi mertuanya.
"Mommy!"
"Kenapa? Bukankah kau sangat ingin menikah dengan Ken?"
"Mommy!"
Embun terkekeh. Embun beralih menatap Ken.
"Aku tahu kau belum mencintai Cathy sepenuhnya, tapi kau sudah mencicipi nya. Jadi kurasa..."
"Mommy! Siapa yang bilang begitu? Apakah itu Daddy?" sela Cathy frustasi. Kali ini Cathy sungguh merasa tidak enak pada Ken karena kesalahpahaman Daddy nya.
"Cobalah untuk mendengarkan kami dulu."mohon Cathy.
"Huuuhh! Tidak ada maling yang mau mengaku! Kalau iya, penjara penuh!" sela Malvin mencemooh menatap kedua orang di depan nya itu.
"Daddy! Tak bisa kah....." Cathy makin frustasi dengan cemoohan Daddy-nya itu. Yang paling membuat Catty tak enak hanyalah Kenan. Karena dengan terpaksa pria malang itu jadi menikah dengan nya.
"Cathy sudahlah kenapa malah ribut?"suara Ken akhirnya.
"Karena sudah seperti ini dan ini sudah larut malam. Tentu saja ayah mertua sangat kecapekan, Jadi sebaiknya pulang dan beristirahat."
"Oo iya Cat, karena kita sudah suami istri, jadi kau menginap di sini saja." senyum Kenan dengan lebar yang sedikit dipaksa kan.
"Apa?" Malvin mendelik tak percaya pada Kenan.
"Apa sekarang kau bermaksud menggarap nya malam ini?" sentak Malvin kesal.
"Daddy pertanyaan macam apa itu? Aku sedang masa siklusku bagaimana bisa melakukan hal itu!"
"Apa?" Malvin dan Embun tersentak bersamaan. Keduanya saling bertatapan.
"Jadi, darah pada sepray sofa itu adalah...."
"Itu adalah darah haid!" potong Cathy malu dan frustasi.
***
"Itu... memang darah haid, sayang." ucap Embun setelah keluar dari kamar mengecek bersama Cathy. Atas permintaan Malvin karena tidak percaya.
Malvin melemas. "Jadi aku menikahkan anakku karena kebodohan?"
"Benar! Apa Daddy sekarang baru sadar?"
"Baiklah. Daddy yang bersalah. Maafkan Daddy."
"Tentu saja. Kami memaafkan Daddy."
"Sudah. Ayo kita pulang."
"Yyyaaa.. Pulanglah Dad. Aku akan menginap dirumah SUAMI baru ku." ucap Cathy untuk membuat Malvin kesal.
__ADS_1
"Cathy! Dimana rasa malumu? Apa kau akan merayu pria yang lebih tua darimu?"
"Merayu SUAMI sendiri tentu tidak salah bukan? Daddy?"
"Cathy..." geram Malvin.
"Terima kasih Tuan AYAH MERTUA, berkat anda saya tidak tidur sendiri lagi." timpal Kenan yang juga ingin membuat Malvin kesal.
"Kennnaaaannn... Kenapa kau juga ikut-ikutan membuat ku merasa kesal?"
"Sudahlah sayang, disini kaulah yang bersalah."Embun mengusap lengan suaminya.
"Tidak bisa! Cathy harus pulang bersama kita." Malvin masih ngotot.
"Aku tidak akan meninggalkan rumah SUAMIKU, Dad." Cathy merangkul lengan Kennan dan bersandar manja disana.
"Benar sayang, mari kita menikmati malam yang indah ini BERDUA."
"Sialan serigala tua ini!" umpat Malvin kesal hendak menendang menantu barunya itu.
"Sudah sayang, ayo kita kembali. Biarkan Cathy menginap semalam disini." ucap Embun menarik lengan Suaminya keluar dari apartemen Kenan.
"Terima kasih Mommy, atas pengertiannya pada PENGANTIN BARU ini." ucap Cathy dengan senyum kecil.
"Sayang! Kita tidak bisa pergi tanpa putri kecilku." rengek Malvin masih belum bisa terima Cathy ditinggalkan begitu saja dengan Kennan.
"Selamat jalan AYAH MERTUA!"seru Kennan melambaikan tangannya. Tentu membuat Malvin menatap sinis.
"Sudah ayo pulang." Embun masih terus menarik suaminya.
"Sayang tolong..."
"Hati-hati AYAH MERTUA."
"Sudahlah ayo ." Embun masih menarik suaminya itu hingga hilang dibalik pintu apartemen Kenan.
"Huuuffff...." Cathy dan Kenan menghela nafas lega.
Cathy melepas lengan Ken perlahan. Karena mereka sudah suami istri, mereka malah jadi canggung.
"Om, aku tidur disini saja."
"Jangan. Tidurlah dikamar. Biar aku yang tidur di sini."
"Tapi..."
"Kamu sedang masa periode mu, pasti tidak nyaman jika tidur disofa."
"Tapi, Om."
"Aku suami mu sekarang kau harus menurut." kekeh Kennan.
Cathy pun ikut terkekeh," Baiklah, Om suami."
Kini Kenan ikut tertawa.
"Sudah tidur sana!"
____^_^____
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
__ADS_1
salam hangat
âşď¸