
"Kau!"
Gara menurunkan tangannya. Sedikit lega walau kesal. Melihat salah satu orangnya masuk ke kamar pribadinya tanpa permisi.
"Kenapa sembarangan masuk ke kamarku?"
"Maaf tuan muda." ucapnya membungkuk."Saya sudah mengetuk tapi sepertinya anda tidak dengar."
"Katakan? Jika bukan hal yang benar-benar penting aku akan membunuhmu."
"Tuan Daniel. Menunggu dibawah."
Gara, memejamkan matanya, menahan kekesalan yang sudah di ubun-ubun. Mengusap wajahnya kasar.
"Baiklah. Aku akan segera turun."
Orang yang membawa kabar itu membungkuk kecil lalu pergi.
Gara menatap wajah Kayla yang masih memejamkan matanya. Gara mengusap lembut wajah dan bibir mungil wanita itu. Gara mengecup dalam kening Kayla. Menatap gadis itu dengan sayang.
###
Gara menuruni tangga diruang utama, Daniel berdiri sambil melihat-lihat furniture dan beberapa aksesoris disana. Menyadari kedatangan anaknya, Daniel masih menyentuh beberapa benda diatas bufet.
"Kau bersama gadis itu?"
"Bagaimana ayah bisa tau aku disini?"
Daniel terkekeh.
"Bukankah kau sudah tahu? Kenapa masih menanyakan hal yang sudah jelas? Kau bahkan mencoba menghindari orangku yang mengikuti mu." Daniel tersenyum kecil. Melihat anak lelakinya berdiri dengan wajah marahnya. Menatapnya dengan permusuhan.
"Aku ini ayahmu Gara. Mau seperti apapun, darahku mengalir di tubuhmu." sambung Daniel melangkah mendekat.
Daniel menghela nafas panjang.
"Kau membuatku menunggu selama ini, dan bahkan orangmu tidak mengijinkanmu masuk keatas. Aku sangat penasaran, bagaimana penampilan gadis itu..... Aahh, tidak! Mungkin aku harusnya menyebut WANITA...." tukas Daniel melirik Gara dengan cemoohan.
Wajah Gara sedikit berubah, dan Daniel menyadari itu. Pria paruh baya itu tergelak.
"Hahaha.... Kau benar-benar anakku. Kenapa tidak kau lakukan dari dulu?"oceh Daniel dengan senyum kesenangan. Gara mengepalkan tangannya. Rasa marah menyelimuti dirinya. Mata tajamnya melirik sadis pada Ayahnya
"Sekarang hanya tinggal membuat nya terpuruk, bagaimana cara ku agar kau meninggalkannya demi gadis lain yang masih suci..." sambung Daniel melangkah melewati Gara. Daniel menatap keatas dimana Kay masih pulas.
CKLEK.
Daniel menggerakkan bola matanya, melirik dingin pada Gara yang mengacungkan pistol ke kepalanya.
"Jika kau melangkah satu jengkal lagi saja, peluru ini akan bersarang di kepala mu."
Daniel tersenyum geli.
"Kau bahkan menodongkan pistol kearahku."
"Aku hanya melindungi apa yang kumilik ayah."
"Bagaimana dengan ku? Apa kau tak menganggap ku?"
__ADS_1
"Kau pengecualian."
Daniel tersenyum geli lagi, dengan sedikit kekehan.
"Aku akan kembali ke rumah, pulanglah jika kau senggang. Dan jaga wanitamu baik-baik jika tak ingin dia terluka." Daniel mengayunkan kakinya keluar dari vila pribadi Gara dengan mata tajam yang masih diliputi oleh dendam.
Gara bernafas lega. Tapi gelisah dan khawatir nya masih terasa. Banyak hal yang Gara sesalkan. Kenapa dulu dia menyetujui untuk mengikuti perintah ayahnya mendekati Kayla. Jika berakhir seperti ini? Kenapa kedua orang tua mereka harus bermusuhan?
Gara kembali kekamar nya duduk di kursi yang menghadap ke ranjang. Gara memandang Kayla yang masih memejamkan matanya. Dengan selimut putih yang menutupi dada hingga paha atasnya.
Tubuh Kayla sedikit condong kearah Gara duduk. Dari jarak 3 meter, Gara menatap menyeluruh. Dari ujung rambut hingga ujung kaki jenjang Kayla yang menggoda iman.
Gara bernafas berat. Mengusap wajahnya keatas dan menyugar rambutnya kebelakang. Pria itu menunduk dengan kedua tangan yang masih bertengger di belakang kepalanya. Serasa seluruh dunia berada di kepalanya saat ini. sangat berat.
Kay menggeliyat, Gara segera mengangkat kepala melongok melihat Kay. Gadis itu tersenyum melihat wajah Gara saat pertama kali membuka matanya.
"Bagaimana perasaanmu?" Gara berdiri dan berjalan mendekat.
"Entahlah. Badanku rasanya remuk." balas Kay masih tergolek diatas kasur.
"Mandilah. Ini sudah pagi."
"Badanku masih lemas... Aku tak.... Akkh.."
Gara sudah mengangkat tubuh Kay. Selimut yang menutupi tubuhnya jatuh terlepas dari tubuh gadis itu.
"Aku juga belum mandi."
Wajah Kay memerah. Mendapati tubuh polosnya dalam gendongan Gara, yang melangkah kekamar mandi.
Dengan hati-hati Gara meletakkan Kay dibak mandi. Lalu mengisinya dengan air hangat dan sabun aroma terapi.
"Aku masih sangat lelah."
"Aku hanya menawarkan diri menggosok punggung." ucap Gara melepas kausnya.
"Lalu, kenapa menanggalkan pakaian mu?"
"Biar nggak basah."
Kayla terkekeh....
"Bukankah untuk menggosok punggungmu aku harus masuk ke bak mandi?"
Gara memasuki bathtub yang sama dengan Kayla, merangkak diatas tubuh wanitanya. Memangut lembut bibir Kayla, tangan Kay memeluk leher Gara.
...----------------...
Di sebuah desa terpencil jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Kenan dan Cathy berdiri di pinggir jalan beraspal yang sepi pelintas. Dikiri dan kanannya hanya ada pepohonan dan ladang milik warga kampung sekitar.
"Om! Mau sampai kapan kita disini?"
"Sampai ada orang yang lewat." jawab Kenan Enteng.
"Haaahhh? Jadi, kalau nggak ada yang lewat kita selamanya disini?" tukas Cathy tercengang.
Kenan bernafas berat. Seperti kesabarannya sedang di uji.
__ADS_1
"Apa kau mau kembali lagi?" Ken membuka pintu samping kemudi dan memasukkan tubuhnya kedalam mobil. Kenan duduk di jog dan memejamkan matanya, kedua tangannya dia lipat didada.
Cathy sudah sangat frustasi melihat Ken yang bersikap biasa dan pasrah. Tidak mau usaha itu.
Cathy memang baru pertama kali ini datang ke kampung Halaman Ken. Awalnya, Kenan memang memutuskan untuk pergi sendiri. Namun Cathy terus merengek dan Honey pun begitu berisik menyuruh Ken membawanya serta. Dengan alasan demi kesehatan bibi Yun.
Sebenarnya, Ken juga curiga, karena Honey terus bersikap aneh. Akan tetapi, Ken tetap pergi juga mengambil cuti selama beberapa hari untuk mengunjungi ibunya dikampung. Beruntung, Malvin mengijinkan. Dan Cathy pun ikut serta.
Kembali kesituasi Cathy di pinggir jalan. Melihat pada sisi yang sudah di lalui. Kosong. Tampak tak ada tanda-tanda adanya orang yang akan melintas. Cathy beralih melihat sisi jalan yang lainnya. Pun tak terlihat seorang ataupun sebuah kendaraan pun di ujung sana.
Cathy membuang nafasnya kesal. Mendang batu kerikil yang dia lihat didekat kakinya.
"Hiiihhh,, kenapa ban mobil Om Ken mesti bocor segala sih?" gerutunya melihat pada ban belakang mobil Kenan yang hilang anginnya.
"Hiiihhh... sekarang bagaimana? Uuuggghh, mana perutku sakit lagi." Cathy merintih memegangi perutnya. Cathy melirik Ken tidur dengan tenang didalam mobil.
Cathy menatap keatas, masih memegangi perutnya dengan wajah memelas.
Cathy pun memutuskan untuk mendekati Kenan. menggoncang lengan pria yang masih memejamkan matanya.
"Om!"
"Om!"
"Om Ken!"
"Om Ken! Hiihh dia ini mati apa tidur sih?"Omel Cathy kesal menggoncang tubuh Ken namun pria itu seperti tak memberi respon apapun.
Cathy terdiam, melihat Kenan begitu tenang dalam tidurnya, jiwa mesumnya muncul. Cathy menelan ludahnya, sudah lupa mungkin dengan sakit perutnya.
"Mungkinkah ini kesempatanku cium dikit aja?" Cathy menelan ludahnya lagi.
"Baiklah."
Cathy membungkuk memasukkan sebagian tubuhnya kedalam mobil. Nafasnya memburu saking kencengnya jantung Cathy berdetak hingga memenuhi rongga dadanya.
Jarak Cathy dan Ken sudah tinggal beberapa jengkal saja, Mata Ken terbuka.
"Waaa.. malah melek lagi." batin Cathy bergegas mengeluarkan kepalanya, sial kepalanya malah kepentok langit mobil.
"Aaakkhh..."
Cathy memegangi kepala sambil berjongkok. Ken melongok dengan wajah tanpa dosa dan perasaan.
"Kamu ngapain sih Cat?"
...****************...
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
__ADS_1
☺️