
CLAK
Tetesan darah tampak jatuh mengenai lantai. Wajah dingin Gara tampak menatap lurus kedepan. Begitupun dengan Daniel, menatap tajam pada anaknya. Daniel memegangi lengannya yang berdarah terkena tembakan,ia tersenyum. Perut Gara juga tampak merembes merah, perlahan tangan pria muda itu memegangi perutnya.
SRAK CEKLAK.
Semua anak buah Daniel mengarahkan senjatanya pada Gara. Gara tersenyum tipis.
"Kenapa tembakan mu melesat Gara? Apa kemampuan mu sudah berkurang karena wanita?" ledek Daniel menatap tajam anaknya."Memalukan!"
"Anakku sangat memalukan!"
"Tuan Daniel! Aku kemari untuk mengembalikan darahmu di tubuhku."
Gara berbalik dan melangkah keluar dari vila ayahnya.
"Kelak jika kita bertemu lagi, hubungan ini sudah putus. Dan tak ada lagi keraguan dalam diriku."
"Berhati-hatilah! Aku tidak akan segan lagi jika kau masih mengusik wanitaku."
Gara memasuki mobilnya wajahnya mengernyit menahan rasa perih dan sakit di perut nya. Gara membawa mobilnya melaju dengan kencang. Darahnya masih merembes dari perutnya. Pandangan matanya mulai tak fokus, Gara melihat punggung Kayla yang baru saja keluar dari areal kampus bersama beberapa temannya.
Kayla menoleh, saat mendengar suara klakson. Wajahnya tersenyum melihat itu mobil kekasihnya. Gara menurunkan kaca mobilnya.
"Masuklah."
Gara bersikap wajar dengan senyum menahan sakit. Setelah berpamitan dengan teman-teman nya, Kayla memasuki mobil memasang sabuk pengamannya. Agar Kayla tak khawatir, Gara menutupi tubuhnya yang terluka dengan jaket sport miliknya. Gara melajukan lagi mobil nya. Dalam keheningan, Kay hanya memperhatikan wajah Gara yang dipenuhi keringat. Kayla mengambil tisu untuk mengelap keringat kekasihnya. akan tetapi netra nya justru melihat beberapa bercak darah di roda kemudi dan beberapa tempat lainnya.
Kayla menatap wajah Gara dengan cemas. Matanya mencurigai jaket yang teronggok menutupi sekitar perut Gara. Dengan cepat Kayla menyibak nya, mulut Kay membulat, dan dengan segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar terkejut melihat perut Gara yang berdarah-darah.
"Ga-Gara, perutmu...."
Dengan susah Payah Gara menelan ludahnya. Bibirnya terlihat kering dan peluh masih mengucur di sekitar wajahnya.
"Gara... kau terluka. Kita harus segera kerumah sakit." Kay yang gemetar dan menekan perut Gara yang berdarah. Menahan agar darahnya tak banyak yang keluar.
Gara menggeleng.
"Gara, ayo kita kerumah sakit.. Kau harus segera di obati." tangis Kay dengan air mata yang mengalir deras dari bola indahnya.
"Aku mohon.... Huuummm?"
"Tidak!"
"Huhuhu... Gara...."
__ADS_1
"Kita... Ke vila... ku... saja..." ucap Gara masih mencoba fokus menyetir. Kay sudah sesenggukan menangis dengan lelehan dipipinya. Kedua tangannya masih menempel di perut Gara yang terluka.
Begitu sampai di vila pribadi miliknya, Gara melihat Kay masih menangis dengan air mata yang deras. Gara mengulas senyum.
"Kemarilah!"
Kay semakin mendekat, Gara meraih dagu gadisnya. Mengecup dalam-dalam.
"Aku sudah lebih baik. Tidak nyeri lagi. Kau obat penawar yang sangat manjur."
"Ga-ra.... Ayo rumah sakit saja." rengek Kay menangis.
Gara menggeleng, Dia keluar dari mobilnya, di ikuti Kayla, dengan sigap gadis itu memapah Gara dan masuk kedalam vila, Micky menyambut nya. Melihat tuannya terluka. Micky segera mengambil tindakan.
"Tuan muda terluka! Siapkan ruang tindakan!"
Micky membantu Memapah tuannya. Membawanya kesebuah ruang.
"Nona! Tunggulah disini."
"Tapi... "
"Biar kami yang menangani nya."
Dengan berat dan wajah cemas Kay menurut saja. Gara harus segera dirawat. Kayla menunggu dan duduk di sofa dekat ruangan itu. Menunggu seseorang keluar dan memberi kabar. Kay terus berdoa, agar Gara baik-baik saja.
Malam itu, di desa kampung halaman Kennan. Di ruang khusus pengantin.
"Udah Om!" ucap Cathy
"Tidak! Sedikit lagi."
"Aku udah capek." rengek Cathy
"Jadi kamu mau berganti hukuman?"
"Haaaiiiisssshhhh....."
Cathy kembali menulis 200 lembar kata akan patuh pada suami, tidak akan keluar tanpa ijin.
"Om!"
"Heemm....."
"Aku sedikit keberatan dengan tidak akan keluar tanpa ijin!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Coba deh Om Ken bayangin, pas Om Nggak ada, Cathy nggak boleh keluar sedangkan saat itu rumah kebanjiran atau kebakaran."
Ken terkekeh,
"Matilah kamu terpanggang."
"Om rela?" menatap dengan memelas.
"Nggaklah."
"Terus?"
"Ya udah keluar aja. kalau nggak mau mati terpanggang."
"Kan nggak boleh keluar sama Om."
"Ya udah jadilah Cathy panggang."
"Om!"
Ken tergelak. Cathy cemberut dengan tangan yang dia lipat didada. Sangat menggemaskan seperti bocah. Kennan bersungut mendekat. Mencubit pipi istri kecilnya. Mencubit bibir mungil yang makin manyun.
"Aaaa~"
Ken tergelak lagi,
"Om Ken nakal."
Cathy kesal melempar pena yang dia pakai menulis, dan berjalan ke tempat tidur. Berbaring dengan tatapan mata kesal pada suaminya. Sebelum menarik selimut dan menyembunyikan seluruh tubuhnya disana.
Tiba-tiba saja Cathy merasakan tangan menyentuh kakinya dibawah selimut. Matanya membulat. Kenan merangkak dari ujung kaki hingga tepat diatas tubuh Cathy. Nafas Cathy menderu, jantung terus berpacu dengan cepat.
"Uuugghhhhhh... Om Kennan..." Batin Cathy saat benda kenyal melummat bibirnya.
____^_^____
Readers, kasih Othor semangat donk biar bisa up terus setiap hari..
like
komen
salam hangat.
__ADS_1
☺️
PS : Maaf ye, hari ini agak telat up nya