Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 67


__ADS_3

Kayla membuka matanya pagi itu. Kay meraba ruang disampingnya, tak ada Gara disana. Sepertinya, pria itu memang menyelinap pergi saat ia masih tidur.


"Sudahlah." batin Kay berjalan ke kamar mandi.


Kayla mengguyur tubuhnya di bawah sower. Menutup matanya. Sepasang kaki panjang yang kokoh mendekat, perlahan tangannya terulur, Kayla merasakan adanya bayangan di belakangnya. Gadis itu menoleh, Ia terkejut, seorang pria bertopeng mendekat hendak mencengkram nya ..


...----------------...


Di lokasi yang berbeda dan di waktu yang berbeda juga.


Kennan melangkahkan kakinya mendekat, matanya masih berfokus pada Cathy yang tertawa dan sentuh-sentuh lengan orang yang berada dibalik tiang. Mata Ken semakin menajam. Saat tangan Cathy mulai akan menepuk tubuh orang itu lagi, dengan cepat Ken menahannya. Mencengkram lengan Cathy, Cathy yang terkejut menoleh.


"Om suami!" serunya girang, "Bagaimana bisa tau aku ada disini? Ibu kah yang bilang?"


Kennan tertawa sinis. Dia melirik pria berkuncir di balik tembok penyangga. Mereka ternyata sedang antre jajanan cilok.


"Kamu ngapain disini?" Ketus Ken.


"Beli cilok." jawab Cathy santai.


"Pergi, pergi nggak pamit sama SUAMI." Ken sengaja mengeraskan dan menekankan kata SUAMI agar pria berkuncir itu mendengar dan sadar jika dia sudah bersama istri orang.


Postur tubuh pria itu kecil, sedikit lebih besar dari tubuh Cathy dengan rambut sebahu yang di kuncir asal. Mengenakan jaket dan celana Jeans. Kenan melirik pria itu,


"Apa sih Om?. Cathy kan udah pamit, sama ibuk juga." Cathy cemberut. Ken mendelik pada istrinya itu.


"Pamit dari mana? Aku sedang tidur..... Tunggu!" Kennan melirik lagi pria berkuncir yang seolah tak perduli.


"Aku kenal jaket ini!" Ken mencengkram kerah leher pria berkuncir itu, dan membaliknya.


"Henriiiii!!!!" Geramnya, melihat Honey mengenakan jaket miliknya, tidak hanya jaket, tapi juga semua yang melekat padanya. Kecuali semvak mungkin ya. Henri hanya nyengir menunjukkan deretan giginya yang putih, terlihat begitu manis.


Setelah Kennan sedikit lebih bisa mengontrol kekesalannya. Ken menyidang kedua anak manusia itu. Yang satu istri kecilnya yang kelewat bandel dan susah diatur. Dan yang satu lagi, entah sudah tobat, atau hanya pencitraan. Bisa-bisa Henri di gorok para tetua jika muncul sebagai Honey di kampung Mak Yun.


"Baiklah!" Ken menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seperti sedang melakukan perenggangan."Siapa yang mau bicara lebih dulu?"


Cathy mengangkat tangannya. "Aaaa...."


Ken menatapnya mempersilahkan,


"Aku tadi sudah ijin, padamu! Juga pada ibu." jawab Cathy yakin dan tegas.

__ADS_1


"Aku tidak merasa itu benar." Ken menyembunyikan tangannya di belakang, menatap Istri kecilnya tajam. Tentu saja Ken harus menjaga ketegasannya didepan sang istri. Cieee...🤭


"Aku punya buktinya." Cathy mengangkat tangannya.


Kenan tersenyum mencemooh."Tunjukan!"


Cathy menoleh sedikit pada Henri dan memainkan alisnya, Henri tersenyum. Membuat Ken mendelik kesal melihat tingkah istri dan sepupunya itu. Cathy mengambil hape-nya lalu membuka galery dan menunjukan sebuah Vidio pada Kennan.


[Dengan latar kamar dan Kenan yang sedang tertidur pulas,


("Om Sayang, Cathy keluar dulu ya.")suara Cathy.


("Heeemm." ) suara deheman Kenan yang masih tertidur.


(suara Cathy dan Honey cekikikan.)


("Om suami, Cathy jalan-jalan dulu ya.")


("Heemm..")


(Suara Cathy dan Honey cekikikan lagi.)


Mata Kenan membulat sempurna. Ia merasa telah dimanipulasi.


"Apa ini semua ide Henri?"


Cathy dan Honey sama-sama mengalihkan pandangannya.


"Yaa, itu... " Cathy menggaruk lehernya yang tidak gatal."Itu... tidak penting kan? Yang penting adalah Om sudah mengijinkan aku keluar jalan-jalan. Dan kami punya bukti nya." henri mengangguk-angguk tanpa beban.


"Baiklah, aku akan menghukum mu nanti malam." ujar Kenan selesai dengan Cathy. Kennan beralih menatap Henri.


"Dan Kau." Ken menunjuk muka Henri."Kau punya banyak kesalahan."


Henri hendak berucap, namun sudah dipotong oleh Kennan.


"satu. Linggeri."


"Aaa, itu.... Aku bisa menjelaskan...."


"Dua. Berbohong ibu sakit."

__ADS_1


"Bibi Yun memang sakit."


"Tiga. menculik istriku."


"Wah, sekarang kau bahkan sudah mengakuinya... Perkembangan yang bagus."


"Empat. Kau memakai bajuku."


"Aku terpaksa. Aku tak punya baju lagi. Kau mau para tetua menggorok leherku dan mengarak keliling kampung? Itu sangat kejam!"


"Karena itu bertobat lah. Dasar sialan!" Ken menendang betis Henri.


"Aaauu.. kamu bisa tidak sih jangan main kasar?"


Kenan mengatur emosinya lagi.


"Dosa besarmu itu! Bagaimana kau akan membayar nya?"


"Tentu saja, dengan tubuh istrimu..." Menunjuk Cathy dengan kedua tangannya yang terbuka dan wajah tanpa dosa. Cathy dengan tak tau malu mengangkat sedikit dasternya dan membungkukkan badan dengan satu kaki ditekuk, ala Putri memberi hormat.


"Kurang ajar!" Ken memanjangkan kakinya menendang sekali lagi sepupu tak berakhlak ya itu.


...****************...


Othor kasih visualnya Henri alias Honey ya. Ini yang pas jadi Henri, pas jadi Honey, kalian bayanginlah sendiri. Jadi Henri aja udah ganteng dan cantik jadi satu. kalau pas jadi Honey, kalian bayanginlah wajah manis ini bermake-up. wkwkwkwk.



____^_^____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


salam hangat


☺️

__ADS_1


__ADS_2