Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 71


__ADS_3

Gara berada di atas atap gedung, dengan beberapa orang yang bertarung melawannya. Salah satu dari mereka menendang, Gara menangkis dan menyerang balik. Hingga ke lima orang lawannya tumbang dengan mudah. Gara berjalan melewati gelimpungan orang-orang yang berhasil dia kalahkan. Malvin menatap kekasih anak gadisnya dengan tangan yang dia lipat didada.


"Paman. Apa ini orang-orang terbaik yang kau punya?"


Malvin tertawa seperti mengejek. "Kau tau nak. Kau minta bodyguard pro terbaik, apa hanay untuk kau pukuli?"


"Paman. Aku hanya menguji mereka, apakah mereka pantas menjaga Kayla selama aku tak ada."


"Kemana kau akan pergi?"


"Menyelesaikan urusanku yang tertunda paman."


"Kayla sudah dalam penjagaan orang yang tepat."


"Apakah orang itu seperti mereka?" Gara menunjuk orang-orang dibelakangnya dengan kepala.


"Tentu saja tidak."


"Baiklah. Aku akan memastikannya sendiri." Gara berjalan melewati Malvin tanpa menoleh lagi. Tatapan tajam menyiratkan tekat.


"Gara!"


Gara menghentikan langkahnya, melirik kebelakang.


"Kembalilah sebelum besok malam." Malvin mengingatkan dengan suara lebih keras. Tanpa menoleh atau pun memberi jawaban. Gara melanjutkan langkahnya.


"Atau kau tidak akan bisa bertemu dengan Kayla lagi. Akan ku kirim Kay keluar negri." gumam Malvin menatap punggung Gara yang semakin menjauh.


###


Kayla menatap awan di langit, arak-arakan awan putih di langit yang biru. Kayla duduk disebuah kafe di pinggiran sebuah sungai yang jernih dan tenang. Dengan pagar pembatas setinggi dada. Kayla mengaduk-aduk cangkir kopinya. Lalu menghela nafas. Tak jauh darinya berdiri dua orang pria berbadan tegap. Mereka adalah pengawal Kayla.


"Bas."


"Iya, Nona."


"Duduklah dan pesan kopi untuk kalian berdua."


"Terima kasih. Ini sudah jadi tugas kami." Tolak Sebastian tanpa beranjak dari tempatnya berdiri. Kayla menghela nafasnya.


"Aku bosan. Temani aku duduk."


"Kami selalu menemani anda, Nona."


"Iya, maksudku, aku butuh teman." Kayla mulai kesal. Memang ia pun tau, para pengawal nya hanya menjalankan sesuai dengan perintah dan SOP nya."Temani aku duduk. Itu tidak akan mengurangi kewaspadaan kalian."


Kedua pengawalnya masih tetap berdiri tak bergeming. Kay menyentak nafasnya.


"Aku benci ini. Aku memang meminta bodyguard, tapi... ini sangat menyebalkan. Jika dulu mereka menjagaku secara diam-diam ditempat yang tak terlihat. Tapi sekarang, aku merasa diawasi saja." gumam Kay kesal.


Kayla mengedarkan pandangan matanya, di kejauhan melihat Gara berjalan mendekat. Dengan segera, Kay berdiri, wajahnya tampak begitu sumringah menyambut kekasihnya. Gadis itu berjalan memperpendek jarak. Lalu memeluk pria yang sudah berada didepannya itu.


"Aku merindukanmu."

__ADS_1


Gara tersenyum kecil, melonggarkan pelukannya. "Bagaimana harimu?"


"Membosankan."


"Oh ya?" Gara melirik kedua pengawal Kayla."Apa mereka bodyguard-mu?"


Kay membalikkan sedikit badannya, "Mmmm"


"Aku akan pergi sampai besok malam baru bisa menemuimu lagi."


Kay tertegun, wajahnya berubah kecewa sekaligus sedih.


"Ke-na-pa?"


"Ada urusan penting yang harus aku selesaikan segera."


"Bukankan kau sudah melakukannya, hingga membuatku menunggu sampai sekarang."


"Itu urusanku yang lain."


Kay melepas Gara dan sedikit menjauh. "Aku tau. Pergi lah."


"Kay-la..."


"Pergilah." Kay membalikkan badannya membelakangi Gara.


Gara terdiam menatap gadis yang memunggungi, Ingin rasanya dia memeluk tubuh itu. Tapi, ia takut akan semakin sulut untuk pergi.


"Aku, akan kembali secepatnya..."


"Aku titipkan dia pada kalian. Tolong jaga dengan baik."


"Itu adalah tugas kami tuan."jawab Sebastian dengan sopan tanpa bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.


Gara tersenyum tipis, menatap lagi punggung Kay yang begitu kecil dan tampak rapuh dimatanya. Gara berharap gadis itu akan berbalik dan melihat wajahnya sekali lagi. Namun, Kay tak bergeming.


"Aku pergi Kay."


Gara membalikkan badannya melangkah perlahan, dengan wajah yang sedih. Sedang Kayla masih tetap berdiri disana. Menggenggam tangan dengan kuat. Kristal bening meluncur bebas di pipinya. Kay mengangkat tangannya dan membekap mulutnya, agar mengurangi suara Isak tangisnya.


"Kenapa pergi tanpa membawaku serta? Apa kau akan pergi dan tak kembali lagi? Seperti dulu?" batin Kay masih tanpa berbalik."Kenapa aku memiliki firasat seperti ini?"


......................


Di lokasi berbeda diwaktu yang berbeda.


Malam itu, bulan bersinar diatas sebuah bangunan gubuk di tengah sawah. Kennan tidur dibawah selimut yang sama dengan Cathy. Gadis itu gelisah, tak tenang dan tak bisa tidur. Bukan karena tidur dibawah selimut yang sama dengan Kenan. Akan tetapi karena memikirkan bagaimana keadaan dirumah. Malam ini adalah malam yang sama dengan penyusupan Orang Daniel ke kamar Kayla.


Jadi, malam ini, Daniel mengirim orangnya, di dua tempat putri Malvin. Dan kesemuanya gagal menculik anak-anak musuhnya.


Ken yang menyadari istri kecilnya tak tenang, memeluk tubuh Cathy dari belakang. Netra Cathy membulat.


"Om Ken. Apa dia pikir aku ini sudah tidur, jadi dia memeluk ku seperti ini?" pikir Cathy dengan jantung berdebar."Uuuggghh, aku jadi nggak bisa berfikir kalau begini."

__ADS_1


"Om."


"Jangan memanggilku Om."


"Apa? Jadi dia tau kalau aku belum tidur? Lalu , kenapa dia memelukku? Apa jangan-jangan dia minta itu?" pikir Cathy lagi, "uuuggghh, disaat seperti ini, aku mana ada Mood melakukan itu. Gimana nolaknya?"


"Om, aku... tak bisa..." Cathy bicara dengan terbata dan ragu.


"Ingat pe-er mu. Panggilan sayang khusus untukku. Pikir!"


"Aaa-aku..." Wajah Caty semakin memerah karena sudah membayangkan akan melakukan itu lagi.


"Cepat tidur. Besok kita harus berangkat pagi. Nanti kesiangan." Kennan mengeratkan pelukannya.


"Aaa-apa? Begini saja? Sungguh dia tidak minta itu? Uuuggghh, pikiran kotor dari mana ini? Untung saja belum sempat kukatakan, kalau iya pasti malu sekali." pikir Cathy dengan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Beberapa saat kemudian,


"Cat?"


Hening, hanya suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan ditengah sawah.


"Cat, Apa kamu sudah tidur?"


Tak ada jawaban. Kennan berpindah posisi ke depan Cathy yang tidur miring ke kiri. Ken menatap wajah tidur istri kecilnya yang begitu tenang. Dorongan didalam diri Ken semakin kuat, pria itu mendekatkan wajahnya dan menyesap bibir istrinya. Mengorek kedalam mulutnya. Beberapa kali Ken menelan ludah. Hingga dengan berat melepas panggutannya.


"Uuugghhhhhh, Tetaplah waras Ken..." gumamnya, merasakan api didalam dirinya semakin berkobar.


Kenan berguling ke kiri dan ke kanan. Lalu dia beranjak dan masuk kedalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, pintu ruang pengantin itu terbuka dari luar. Sepasang kaki berjingkat mendekat, dan berdiri di samping Cathy yang pulas...


_____^_^_____


My Readers, kaki siapakah itu?


A. Mak Yun.


B. komplotan Daniel


C. Henri


D. Terserah kau ajalah othor.


Komen yaa....😆


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


salam hangat

__ADS_1


☺️


__ADS_2