
"Gara!"
Kay berlari mendekat, sampai ia cukup dekat untuk menyentuh suaminya. Gara tersenyum dengan banyak warna merah di tubuhnya. Kay masih terkejut. Ia sangat khawatir, orang dia cintai itu berlumuran darah.
"Gara, apa yang terjadi?" Suara Kay terdengar bergetar. Ia menatap Gara cemas dengan menyeluruh.
Gara tersenyum,
"Kenapa..... Dimana yang luka? Dimana yang sakit? Kenapa bisa seperti ini?" berondong Kay dengan sangat khawatir."Apa yang sudah terjadi?" Kayla meraba tubuh Gara, memastikan bagian mana yang mungkin terluka.
"Aku nggak papa." balas Gara masih tersenyum simpul. Kay menatap Gara mencari kejujuran di wajah suaminya.
"Aku sungguh nggak papa." ucap Gara meyakinkan menatap manik mata Kayla.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini di tubuhmu?" mata Kay tampak berembun menatapnya.
"Ini bukan darahku." ucap Gara menenangkan istrinya yang terlihat begitu khawatir."Kau tak percaya?"
"Ga-ra..."
Gara membuka bajunya satu persatu. Dengan wajah tersenyum menatap istri. "Lihat. Tidak ada yang serius."
Kay memandang tubuh Gara hanya ada beberapa goresan disana. Dilengan atas dan perut sampingnya. Bukanlah luka serius yang dapat mengeluarkan banyak darah. Di wajah pria itu pun hanya ada sedikit memar.
"Apa kau bertanya-tanya dari mana darah ini?" Gara menantap intens istrinya yang masih terlihat cemas.
"Kau mungkin akan sulit menerima ini. Ini adalah darah beberapa orang yang menghadang ku saat menuju vila Daniel."
"Kau menemuinya?"
"Heemm...." Gara mengangguk matanya menerawang seolah mengingat kembali kejadian tadi."Ada banyak hal yang kami selesaikan."
"Bagaimana dengan nya?"
"Dia, hanya luka kecil." jawab Gara enteng. "Aku mau mandi dan bersih-bersih dulu." Gara menyentuh pipi Kay dengan lembut di ikuti senyum di wajahnya. Ketika ia sudah melewati Kay, tatapan dan wajahnya berubah serius dan dingin.
Beberapa saat berlalu, Kayla masih merasa begitu cemas. Tak tenang menunggu di depan pintu kamar mandi. Pintu itu terbuka dari dalam. Gara tampak segar dengan balutan handuk di pinggangnya dan sebuah handuk kecil yang ia usapkan dikepalanya. Dia tersenyum kecil melihat istrinya berdiri didepan pintu.
__ADS_1
"Apa kamu mengantri untuk menggunakan kloset?" ledeknya dengan cengiran nakal. Gara berlalu melewati Kayla.
"Ga-ra..." lirih Kay dengan tatapan yang entah apa.
Gara duduk di tepian ranjang. Memandang Kayla dan menepuk pahanya.
"Duduk sini."
Kay mendekat dan duduk dipangkuan Gara. "Apa lagi yang kamu cemaskan?"
"Apa yang terjadi? Apa kamu masih mau menyembunyikan dariku? Kita sudah menikah Gara. Apa aku masih belum pantas untuk tau?"
"Bukan begitu."
"Tentu saja begitu. Kamu mengalami banyak bahaya dan aku tak tau. Apa kau tak memikirkan perasaanku sama sekali?"
"Kay-la..."
"Selama ini aku mencoba mengerti, mencoba memahami mu. Pergi menyelinap, Mantang bahaya sendiri, menutup semua akses, menghilangkan jejak. Kau sudah seperti penjahat profesional Gara. Aku bahkan kesulitan mencari identitas yang sesungguhnya."Kayla menatap wajah suaminya itu dengan rembesan air mata."Katakan padaku, sebenarnya dengan siapa aku menikah? Kenapa masih terlalu banyak rahasia?"
Kay menarik nafasnya mengatur semua sesak yang menghimpit dadanya selama ini.
Kayla beranjak untuk memulai langkahnya. Segera, Gara menarik tangan istrinya, hingga jatuh diatas ranjang. Gara menahannya dengan tubuhnya. Ditatapnya wajah Kayla yang sembab oleh tangisan.
"Akan kukatakan semua. Tidak ada lagi rahasia. Tapi Kay, apa kau bisa menanggung nya?"
...****************...
Beberapa hari berlalu setelah kejadian di motel itu. Hari resepsi Cathy dan Ken pun semakin dekat. Saat ini Ken sibuk dengan kerjaannya, sedangkan Cat masih mengurus kuliahnya.
"Cat?"
Kennan yang tengah duduk di ruang keluarga menonton televisi memanggil istrinya. Namun masih belum ada sahutan.
"Cathy!"
Kenan lebih mengeraskan suaranya. Namun masih juga tak ada sahutan. Ken berjalan ke arah dapur, kosong, lalu ke kamar yang dulu Cathy tempati, kosong. Ken melongok kekamar mandi. Kosong juga. Dengan Gusar Kenan mengusap wajahnya, mengambil hp yang ia letakkan di atas meja diruang kerja. Melakukan panggilan telpon ke nomor istrinya.
__ADS_1
š:["Halo?"]
Ken terkesima mendengar suara yang tak seharusnya menerima panggilannya. Ken melihat lagi layar hpnya. Benar nomor Cathy. Ia kembali menempel hape ke telinganya.
š:"Harusnya Cathy yang menjawab. Kenapa jadi kamu?"
š:["Apa aku tak boleh menjawab ponselnya?"] suara Henri.
š:"katakan! Dimana kalian?" Ken mulai geram.
š:["Dimana ya?"] suara Hendri menggoda.
š:"Kau tak perlu bilang. Aku bisa melacaknya." Ken mutuskan sambungan telpon. Lalu membuka GPS nya.
"CK!"
Ken segera berlari keluar apartemennya. Ia menuju sebuah Cafe tak jauh dari area apartemennya. Melihat lagi ponselnya yang menunjukkan lokasi Cathy makin dekat. Dilihatnya dikejauhan, Henri dan beberapa orang duduk di sebuah meja cafe. Ken mendekat.
"Dimana Cathy."
Henri tersenyum sinis, seseorang yang duduk membelakangi Kennan menoleh. Seorang wanita cantik dengan rambut sebahu tersenyum padanya. Wajah Kennan berubah dengan penuh keterkejutan.
"Lama tak bertemu Ken."
____^_^____
Readers, jangan lupa dukung si Othor ya
like
komen
vote
gift
terima kasih
__ADS_1
salam
š„°āŗļø