Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 61 • masih part hare harean •


__ADS_3

"Om...." panggil Cathy dengan mata menggantung.


"Ha-aaaa dia manggil Om lagi..."


Kennan menjatuhkan tubuhnya di sisi Cathy. Menatap langit ruangan beratap Rumbia itu. Ken menghela nafasnya.


"Om Ken...."


Kennan memejamkan mata menarik nafas lagi.


"Dia terus memanggil Om Ken. Rasanya seperti dipanggil keponakan sendiri. Bagaimana bisa aku melakukan itu dengannya?" Pikir Kennan.


"Om Ken...."


"Heem..." Dehem Kennan.


"Apa om sudah tidak berselera?"


Ken menoleh menatap wajah Cathy dari samping.


"Tidak. Istirahat sebentar." Ken kembali meluruskan kepalanya menatap langit kamar.


Cathy terdiam ikut melihat langit ruangan itu.


"Om Ken."


"Bisakah kamu berhenti memanggilku Om?"


Cathy berguling dan tengkurap bertumpu pada kedua lengan sikunya.


"Apa Om terganggu dengan sebutan Itu?"


"MMM..."


Cathy menatap wajah tampan suaminya.


"Honey?"


Ken bergidik ngeri.


"Kenapa malah menyebut-nyebut nama mengerikan itu?"


"Aaa.... Kak Ken."


Kennan tersenyum lucu.


"Jadi mau dipanggil apa dong?" Cathy naik keatas tubuh Kennan.


"Cat, kamu mau apa?" Tanya Ken melihat Caty duduk diatas pusatnya.


"Mau dengerin detak jantungmu...." Cathy memajukan tubuhnya, meletakkan kepalanya diatas dada Kennan.


Kennan tersenyum kecil dan menutup matanya. Tangannya terangkat memeluk tubuh mungil Cathy. Tangan Cathy meraba dada Kennan, jarinya mengukir sebuah huruf abstrak.


"Kamu ngapain sih?"


"MMM.. Nulis huruf... Coba deh kamu rasain. Aku nulis apa."


"Coba ulangi."

__ADS_1


Cathy mengulang menggerakkan jarinya di atas kulit dada Kenan sebelah kiri.


"C"


"A"


"T"


Kennan mengulas senyum,


"T"


"I"


"Benar."


"Jangan ada nama lain disini."


Kennan mengusap punggung Cathy, memegang lengan gadis itu, dan berguling. Berganti kini Cathy di bawah tubuhnya.


"Kalau ada?"


"Aku bisa... Menggunduli wanita itu, menggantungnya di jembatan kota, dan mengumumkan dia seorang pelakor. Biar dia merasakan perasaan terekspos." jawab Cathy enteng.


Ken melihat Caty dengan pandangan berbeda.


"Apa ada nama lain?" tanya Cathy memandangi mata Kennan.


Kenn tersenyum kecut.


"Om, tidak boleh. Om sudah menikah dengan Cat, juga....."


Mata Cathy menyipit. Cathy mengalungkan tangannya di leher Kennan dan berguling, kini berubah Ken yang berada dibawah tubuh Cathy.


Ken tersenyum lucu.


"Bagaimana kalau kau yang macam-macam?" Ken memutar tubuhnya kembali mengukung istri kecilnya.


"Aku kan memang tidak pernah macam-macam, Om." elak Cathy, membingkai wajah suaminya. Dan melummat bibir pria tampan itu.


"Dasar iblis kecil..." dessah Ken membalas ciuman istrinya.


"Sudah kubilang jangan memanggilku Om." Ken menggeser bibirnya kebawah, melewati Leher, melewati dada atas Cathy.


"Lalu aku harus memanggil mu apa?"


Cathy memejamkan matanya, mengangkat kaki sebatas tubuh Kennan.


"Terserah yang penting jangan panggil aku Om." Ujar Ken menggulum permen favoritnya. Bermain dengan nakal di pucuknya.


"Baiklah Ken."


Cathy mengerjap-ngerjab kan matanya. Berulang kali melenguh oleh setiap sentuhan bibir Kennan di tubuhnya.


Bibir Kennan semakin turun, hingga keperut Cathy mengecup pusarnya lalu bergeser kebawah, semakin kebawah. Dan menggulum bibir bawahnya. Cathy menggigit bibirnya. Menahan gelayar-gelayar yang menguasai tubuhnya.


"Aaaaahh~"


"Keennn~"

__ADS_1


Cathy menjambak rambut suaminya yang masih asyik dengan aktivitas nya dibawah sana. Mulut Cathy terbuka tubuhnya semakin tegang, sedikit terangkat. Serasa bergetar dengan sendirinya tanpa dia bisa menahan.


"Aaaahhh~"


"Kennn~" jeritt Cathy mendayu..


"Cathy, pelan kan suaramu!" tegur Ken mendongak.


"Aaaahhh~"


Ken melanjutkan aktifitasnya.


Cathy merasakan bagian tubuhnya berkedut, Ken menjillat dan menghisap habis apa yang Cathy keluarkan.


Tubuh gadis itu serasa lemas, Ken mengangkat kaki Cathy, dan membelahnya. Ken menyusup diantaranya, perlahan melakukan dorongan, menggoyangkan panggulnya. Sedikit demi sedikit perlahan merasakan kedutan-kedutan yang menghisapnya semakin dalam.


"Haaahh..."


"Haaahh.."


"Haaahh.."


Peluh Ken semakin mengucur deras.. Tangan Cathy mencengkram kuat selimut yang sudah tak jelas dimana rimbanya.


"Aaaaaaaaaaahhhhhhhh~"


Mulut Cathy terbuka semakin lebar, tubuhnya sedikit terangkat hingga menempel dengan dada bidang suaminya. Ken mengigit dan menghisap tengkuk leher Cathy.


"Aaaaaaaaaaaahhhhhh~"


Ken memberikan hentakan terakhir tubuhnya, Sebelum tubuhnya menjadi sama lemas nya dengan Istri kecilnya. Kennan menelusup kan tangan nya ke punggung Cathy, berguling hingga berubah posisi sebaliknya. Ken tak sampai hati jika terus menindih tubuh mungil itu.


"Cat?" lirihnya,


"Apa kau sudah tidur?"


Tak ada balasan. Kennan menarik selimut dengan ujung jari kakinya, lalu menyautnya dengan tangan. Menutupi sebagian tubuh Cathy dengan selimut.


Ken memejamkan matanya memeluk Erat tubuh istri nya mengusir hawa dingin yang menusuk tulang, meski panas di tubuh mereka belum sepenuhnya padam.


Oke, bersambung dulu. Lanjut besok ye, ngos-ngosan nih othornya.


Sesuai permintaan para reader, mungkin petuah para tetua di pending dulu daripada dapat demo dari para readers yang Budiman.


Jangan lupa, tinggalin like dan komennya yes, makin semangat lagi si Othor jika dapat bunga atau kopi🥰


Di kasih Vote makin semangat lagi dah ini jempol mijitin hapek.


salam sehat ya teman-teman.


_____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.

__ADS_1


salam hangat


☺️


__ADS_2