
Mata Ken membola, beberapa orang berbadan tegap mengerubungi mereka, dan Cathy, yang sempat dibungkam mulutnya itu, menarik lengan dan bahu pria dibelakangnya, membungkuk kan badan dan membanting nya.
BRUUKK.
Mata elangnya menyisir setiap jengkal tempat itu, menghitung berapa orang yang mungkin jadi lawan mereka. Beberapa dari mereka mendekat, Cathy melakukan tendangan memutar. Hingga satu orang terjungkal, saat kaki nya menapak tanah. Tangannya sudah melayang memukul hidung orang yang lainnya.
"Siapa ka-li-an?"
Tak ada satupun yang menjawab, mereka hanya saling pandang dengan sesama mereka. Lalu mulai menyerang, hingga akhirnya mereka terlibat pertarungan sengit. Para tetua dan tetangga yang mendengar kegaduhan di luar, segera keluar dengan membawa perkakas dapur dan alat bertani. Ikut menyerbu orang-orang asing itu.
Memukul dengan sapu, wajan, teplon, dan garukan tanah. Orang-orang asing itu berlari tunggang langgang mendapat serangan brutal dari para penduduk kampung terutama mak-mak yang kalap nya seperti habis liat suami pulang malam.
"Jangan kembali kemari lagi!"
Mak Yun dan Bibi Gati melihat pada Ken dan Cathy, memastikan mereka baik-baik saja.
"Apa yang terjadi? apa kalian terluka?"
"Tidak apa-apa Ibu." ucap Cathy yang wajahnya ada sedikit memar.
"Aaahh,, ya ampun, wajah cantikmu sampai terluka begini." Mak Yun menyentuh wajah Cathy dengan khawatir.
"Kennan, bagaimana kau menjaga istri mu? Bisa-bisa nya kau biarkan dia sampai terluka seperti ini." Mak Yun memukul anaknya dengan ganggang sapu.
"Ibu! Anakmu ini juga terluka!"elak Kennan menghindari gangguan sapu ibunya.
"Benar bibi Yun. Dari pada mengkhawatirkan Cathy, lebih baik khawatir kan para berandal yang lari tadi, mereka pasti sudah habis babak belur oleh Cathy duluan." oceh Henri menunjukkan arah para orang asing itu pergi.
"Apa?" Mak Yun beralih melihat Henri.
"Aku, tidak bohong. Tidur saja dia sudah bikin aku babak belur."
"Apa kau bilang?" Mak Yun mendelik melihat Henri. "Maksudmu kau sudah pernah tidur dengannya?" Mak Yun menunjuk Cathy.
Henri yang merasa keceplosan menutup mulutnya.
"Astaga! malah gali lobang sendiri. Oohh tuhan!"Batin Henri dengan wajah kasihan.
"Cathy!" Mak Yun beralih melihat menantunya,
__ADS_1
"Yaahh,, dia hanya menyusup ke kamarku, tapi....."
Mak Yun yang geram mengangkat sapunya tinggi-tinggi. Cathy memejamkan matanya tentu saja takut di pukul mertua, tak mungkinlah dia main kayang pada mertuanya. Dia harus jaga image.
DUUKK!
"Aaauuu..... Sakit bibi.... Aku tidak melakukan apapun padanya. Sungguh." suara Henri.
Cathy membuka matanya, dan langsung melebar, melihat Mak Yun memukuli keponakannya dengan sapu.
"Dasar kurang ajar! Bisa- bisanya kamu masuk kekamar anak gadis! Siapa yang mengajarimu begitu?" Mak Yun mengejar Henri yang terus kabur menghindar.
"Dan Kau Kenan, karena kau tidak tidur dikamar yang sama dengan istrimu, kau hampir saja di dului Henri!" Mak Yun beralih mengacungkan ganggang sapu pada anaknya.
"Ibu, ini tidak baik dilihat oleh para tetangga." ucap Ken datar sambil memasukkan kembali hpnya ke saku. Dia sedari tadi menelpon bosnya. Dan memastikan tentang orang-orang yang menyerangnya tadi.
"Ken, paman khawatir sebenernya siapa orang-orang tadi?"
"Benar!"
"Saya sedang mencari tau paman bibi. Jangan khawatir, mereka tidak akan kembali lagi. Mengingat keberingasan warga kampung kita."
"Aku hanya seorang asisten Bu, Dan dia adalah anak bosku." ucap Ken merangkul pundak Cathy. "Ibu jangan khawatir. Kami istirahat dulu."
"Yaahh,, istirahatlah."
###
Ken dan Cathy memasuki bilik pengantin. Kennan menyentuh pipi Cathy di mana ada luka memar disana.
"Apa ini sakit?"
Cathy menggeleng."Om, apa kata Daddy? Tadi Om menelpon Daddy kan?"
Ken menelan ludah nya.
"Hmmm... Tuan Malvin akan mengirimkan beberapa orang untuk berjaga."
"Tidak! Bisakah besok kita kembali? Aku khawatir, sesuatu yang buruk terjadi. Mungkin ini berkaitan dengan Kay."
__ADS_1
Ken, menatap wajah istri kecilnya.
"Baiklah."
"Terima kasih,Om."
Kennan menyisir rambut Cathy kebelakang telinga, membingkai wajahnya dan perlahan mendekat, mengecup pelan bibir istriku kecilnya itu.
"Om..."
"Heemmm...." Ken yang masih menikmati guluman lembut bibir istrinya itu, menjeda melihat wajah Cathy yang terlihat malu-malu. Ken menjadi sangat gemas. Mendekatkan lagi wajahnya, bersiap melummat istri kecil nya.
"Om..." Wajah Ken terhenti beberapa inci dari bibir istrinya. Moodnya mulai turun.
"Tutup dulu pintunya."
Kennan bergegas menoleh melihat kearah pintu masuk bilik pengantin, matanya membulat, tak hanya Henri, mak-mak kampung pun ikut mengintip di sekitar pintu yang terbuka. Dan buru-buru menarik badan begitu Ken menoleh.
"Benar-benar bikin mood kacau saja." geram Ken dengan gumaman berjalan kearah pintu depan. Mata Ken menajam melihat kerumunan massa yang sok mengalihkan pandangan ke arah lain, dan berdiri didepan pintu ruangan pribadinya.
"Itu salah mu sendiri, kenapa tidak menutup pintu." seru Mak yun mencoba mencari pembenaran.
Kenan menggeleng-gelengkan kepalanya jengah, menutup pintu dengan sedikit lebih keras.
"Kepo!"
____^_^____
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
☺️
__ADS_1