
Dalam pertemuan keluarga itu, mereka mengelilingi meja makan dengan segala jenis masakan yang sudah dipersiapkan oleh Mak Yun dan para tetangga kampung.
"Terima kasih karena sudah mengunjungi kami di desa."
"Kita sudah jadi keluarga Mak, jangan sungkan."
"Maafkan kelancangan putra ku ini karena tanpa memberi tahu asal saja menikahi gadis orang. Jadi kami tidak mempersiapkan dengan baik."
Embun dan Malvin saling berpandangan, mereka melempar senyum kikuk. Yah, pernikahan ini terjadi juga karena kesalahpahaman mereka. Terutama Malvin, dia yang terburu-buru mengambil kesimpulan gara-gara darah haid. Pria itu menggelengkan kepalanya mengingat kembali kejadian beberapa waktu silam.
"Kami bermaksud mengunjungi kalian. Tapi kata Kennan kalian sangat sibuk jadi..."
Malvin melirik Kenn yang duduk disisi sebelah kiri meja, mengepalkan tangan didepan mulutnya dan terbatuk-batuk kecil.
"I-ya... saya memang sangat sibuk. Karena itu saya sempatkan kemari untuk berkunjung."
"Dan tujuan kami kemari agar bisa saling mengenal keluarga Ken dan Cathy, tentu saja." timpal Embun lembut, dengan sedikit meremas tangan suaminya. Jangan sampai Malvin asal bicara, mengingat dia masih terus kesal dengan Kennan karena masih belum bisa menerima kesalahannya sendiri menikahkan Cathy dengan Kennan.
"Kennan dan Cathy bermaksud untuk mengadakan acara resepsi minggu depan, apa Ken sudah memberi tahu?"
Mak Yun tampak terkejut. "Benarkah?"
mak Yun berpaling menatap anaknya dengan mata marah. "Sebenarnya kau ini menganggap aku ini ibumu atau tidak?"
Dengan Geram, Mak Yun mencubit paha Kennan. Wajah Kenn terlihat merah dan berkeringat, mungkin karena panas atau memang atmosfirnya yang tak bagus.
"Ibu, aku sudah memberitahumu."
"Apa? Kapan?"
"Saat aku dan Cathy kemari, aku sudah memberi tahu mu, juga saat aku menelpon beberapa hari yang lalu. Kenapa ibu pelupa."
"Apa?" Mak Yun sekilas teringat dengan telpon Kennan beberapa waktu yang lalu, namun dia tak mendengarkan dengan seksama karena sibuk mengejar ayam yang kabur karena hendak dipotong dan asal bilang iya. Tapi, tentu saja dia tidak mau disalahkan. Karena emak memang tidak pernah salah.
Mak Yun berdehem kecil,
"kau tidak mengatakan apapun anakku..." Mak Yun lalu berpaling dan berbasa-basi dengan besannya.
"Aha-ha-ha, maaf, komunikasi kami memang sedikit buruk. Jadi apa yang harus kami lakukan sekarang, jika Minggu depan, persiapan nya pasti sudah 90 persen bukan?"
Embun mengulas senyum nya,
"Anda tidak perlu melakukan apapun. Semua sudah dipersiapkan oleh WO. Keluarga hanya tinggal hadir dan ikut di rias nantinya."
"Oho-ho-ho.. Baiklah kalau begitu."
"Bagaimana jika besok kalian ikut kami kembali kota?"
"Apa?" Mak Yun terkejut mendengar penawaran dari Embun besannya."Secepat itu? Bukankah masih Minggu depan?"
"Benar." Embun membenarkan." Tapi, mungkin jika kalian berkenan bisa sekalian berlibur dan mengakrabkan diri di rumah kami."
"Oho-ho-ho, kami sangat senang dengan tawaran nya, hanya, kami masih punya ladang dan piaraan untuk di urus."
"Aaa... begitu." Embun tampak kecewa, namun ia tetap menghargai keputusan besannya itu.
__ADS_1
"Mak Yun, kenapa tidak diterima saja tawaran nya, kan lumayan kita bisa liburan gratis ke kota." ucap salah satu tetangga dekat Mak Yun.
"Apa kamu tidak dengar tadi? Kita masih harus mengurus ladang dan hewan ternak." Gati ikut menjelaskan pada tetangganya yang rese itu.
"Ladang dan ternak kan bisa dititipkan pada pekerja."
"Masalahnya ini seminggu lebih. Tidak mungkin meninggalkan nya selama itu."
Embun tersenyum mendengar perdebatan tetangga dan bibi Gati itu.
"Sudah, sudah. Kenapa malah pada ribut di depan tamu." tegur Mak Yun merasa tak enak pada besannya.
"Ayo... di cicipi dulu apa yang sudah terhidang ini."
Embun dan Malvin mengangguk dan kompak mengambil makanan.
Malam harinya, Kennan dan Cathy bermalam di gubuk pengantin, lagi. Sementara Malvin dan Embun tidur dikamar Kenan. Malvin tak bisa tidur, ia hanya berguling kesana kemari. Embun yang merasakan kegelisahan suaminya itu, mengulas senyum. Dan meletakkan kepalanya atas dada suaminya, agar pria bule itu berhenti gelisah dan berguling-guling.
"Kenapa begitu gelisah sayang?"
"Aku tak bisa tidur."
"Mau jalan-jalan keluar dulu? Cari angin?"
"Baiklah."
Akhirnya, mereka berjalan keluar kamar. Malvin dan Embun berjalan-jalan dibelakang rumah.
"Tempat ini masih asri. Udaranya juga masih sangat segar." ucap Embun memandang berkeliling halaman belakang yang gelap itu hanya ada kelap-kelip cahaya kunang-kunang. Embun pun mendongak keatas. Melihat ribuan bintang dilangit.
Tak mendapat jawaban dan respon apapun dari Malvin. Embun menoleh memandang suaminya, yang terlihat celingungkan. Malvin terus menyisir halaman belakang dengan matanya yang tajam.
"Sayang?"
Malvin masih sibuk dengan matanya yang terus memindai tempat itu. Embun pun mulai mengerti apa yang suaminya itu cari. Apa lagi kalau bukan kamar Cathy dan Kennan.
"Sayang."
"Suamiku..."
Embun makin merasa diabaikan oleh Malvin pun akhirnya kesal juga.
"Aku mau masuk saja. Main sendiri." gurutu Embun yang sudah kesal.
"Apa?" Malvin menoleh menahan tangan Embun."Main apa? Kenapa sendiri?"
"Huuhh, dasar Malvin. mesti dipancing dulu. Bikin kesal..." omel Embun dalam hati.
"Sayang...." Malvin membujuk."kok malah ngambek sih? Kayak Cathy saja."
"Daddy Mal, Jangan mengusik Kennan dan Cathy lagi. Biarkan mereka, heem?"
"Siapa yang mengusik sayang? Aku hanya cemas."
"Apa yang kamu cemaskan?" Embun menatap jauh ke dalam mata Suaminya. Ia tau akan kegelisahan Malvin. "Kennan pria yang baik, kita sudah mengenalnya cukup lama. Tau bagaimana perangai dan sifatnya. Apa lagi yang kamu cemaskan?"
__ADS_1
Malvin tersenyum tenang, menatap wajah teduh istri.
"Iya, benar. Aku hanya merasa sangat bersalah karena memaksa mereka menikah dulu. Aku takut Cathy tidak bahagia."
Embun tersenyum geli, "kenapa kamu berpikir seperti itu? Bukankah Cathy sudah menikahi pria yang sangat dia sukai sejak kecil? Dia pasti bahagia..."
"Aku hanya berpikir, Ken menikahinya dengan terpaksa, bagaimana jika dia...." kata-kata Malvin terpotong. Netranya melihat beberapa bayangan di sebuah bangunan di tengah sawah. Mata Malvin menajam.
"Sayang, Kamu lihat bangunan itu?" Malvin menunjuk bangunan yang samar terlihat ditengah sawah yang gelap.
"Maksudmu Kamar Cathy dan Kenan?"
Mata Malvin terbelalak. "Apa?"
"Kamu bilang kamar Kennan dan Cathy?"
"Huumm..." Embun mengangguk. Namun itu justru membuat Malvin makin gelisah.
"Kenapa sayang?" wajah Embun ikut menegang melihat wajah suaminya yang gelisah dan cemas itu.
"Aku melihat ada beberapa bayangan disana."
"Bayangan? Mungkin saja itu Cathy dan Kennan."
"Bukan! Bukan hanya dua, lebih dari lima orang." Malvin terus menajamkan matanya untuk melihat lebih jelas di gubuk itu.
"Apa kamu mau bilang orang Daniel sampai kemari?"
"Itu yang aku takutkan." Malvin berjalan mendekati gubuk.
"Sayang, panggil warga kemari. Aku tak bisa mengambil resiko jika itu benar-benar orang Daniel." Lanjut Malvin lagi, sadar dia tak membawa bodyguard nya ikut serta, tentu karena ia pun tak berfikir jika kemungkinan akan diserang di kampung besannya.
'Bagaimana dengan mu?" Embun menahan tangan Suaminya dengan wajah cemas. Malvin tersenyum kecil,
"Jangan cemaskan aku, aku bisa mengatasinya, yang penting panggil para warga, sebanyak mungkin. Itu cukup untuk menakuti mereka."
"Baiklah." Embun pun menurut dengan hati gelisah dan cemas tak karuan, ia berlari kedalam rumah utama. Ia mengetuk pintu kamar Mak Yun. Namun tak ada jawaban. Ia pun berlari ke kamar Bibi Gati. Mengetuk pintu kamarnya dengan sangat tidak sabar. Namun sama nihil.
"Astaga! ini masih jam 11 malam. bagaimana bisa mereka tidur senyenyak ini dan tak bangun meski aku gedor sekencang itu." omel Embun dengan kesal dan cemas. Ia sangat mengkhawatirkan suaminya.
"Apa yang harus kulakukan?" gumamnya dengan gelisah dan cemas yang bercampur aduk.
____^_^____
Maaf ya Readers kuh, Ci Othor masih dalam masa urusan sibuk-sibuk di rumah mertua yang lagi mau hajatan. Sebelum hari H-nya Ipar kawin, si Othor masih sibuk pencitraan dan cari muka depan mertua. Ha-ha-ha...
Ini Othor sempetin buat up lagi. Semoga pencitraan ini segera cepat berlalu. Dan bisa cepat-cepat up date juga. Terima kasih karena masih mau menunggu ya readerskuhh🥲🥲
Readers, mohon dukungan dan semangatnya ya. Kasih Like dan tinggalin komen. Biar senyum otor terus terkembang ditengah-tengah rumah mertua.
terima kasih
salam damai dan sehat
😄😉
__ADS_1