
"Ka-li-an....!"
Malvin menggeram dengan ganas melihat pasangan yang baru saja datang itu.
"Kenapa tak satupun dari kalian yang menjawab panggilan ku?"
"Maaf Tuan Mertua, kami sedang sibuk."
Malvin tertawa hambar.
"Sibuk? SIBUK? SIBUK? HAAAAAHHH!"
Malvin melangkah menjauh sambil menggerutu, Embun melihat suaminya itu dengan geli sambil menggelengkan kepalanya. Embun tersenyum menatap pasangan yang baru saja resmi menikah itu.
"Masuklah." ucap Embun,"Maklumi Daddy mu yaaahh, dia kesal karena sangat rindu dengan anak gadisnya. Kalian taulah..." kekeh Embun masih geli.
"Yaahh, kami tahu kok Mommy."Sahut Cathy enteng, "Mana twins?"
"Dibelakang nangkepin ikan buat dipanggang sama Jo."
"Okey, aku nyusul mereka ya Mom. Kangen nih ma mereka." Cathy melangkah kebelakang rumah dimana kolam ikan berada.
Embun melihat Cathy yang semakin menjauh, Ia lalu berpindah menatap Mantu pertamanya. Embun tersenyum.
"Sudah makan?"
"Mm.. Sudah....." ucapan Ken mengambang, a merasa kikuk sendiri.
"Panggil aku Momy juga, sekarang kita adalah keluarga jangan merasa sungkan."
"Baik. Mommy."
Embun terkekeh mendengar Ken begitu kikuk mengucapkan Mommy .
"Anak menantu! Kemari!" Panggil Malvin menggerakkan jarinya dengan tatapan tajam pada Ken.
Ken bernafas berat. "Baik, Tuan mertua."
Ken melangkah mengikuti jejak bosnya ke ruang kerja Daddy Mal. Begitu masuk dan menutup pintu. Ken berdiri dengan sigap menatap lurus ke depan.
Malvin berbalik dan menatap wajah menantunya itu.
"Kau!" geram Malvin,"Kenapa baru memulangkan nya sekarang?"Malvin mendelik pada Ken tepat diwajahnya.
"kami hanya, melakukan kegiatan pribadi...."
DUUUKKK!!
"Aaarrggg...." erang Ken menggosok betisnya yang ditendang Malvin.
"Tuan! Ini namanya kekerasan!"
"Kau! Anak menantu sialan!"umpat Malvin kesal."Beraninya kau dengan putri kecilku. Kegiatan pribadi apaan?"
"Apa saya harus menjabarkan nya?"
"Itu hal pribadi. Tanya saja pada nona Cathy."
"Aku tidak mungkin bertanya kepada nya."Kesal Malvin, "Tunggu, kau memanggil nya apa barusan?"
CEKLEK! (suara pintu dibuka)
Embun masuk dengan membawa minuman dan makanan kecil.
"Sayang jangan begitu pada menantu mu, nanti dia kabur." goda Embun melirik Malvin dan Ken berganti an.
"Ken, tolong maklumi saja Malvin, dia masih kesal karena sembarangan menikahkan putri kecilnya." sambungnya dengan senyum ramah.
"Tentu saja, Mommy."
Malvin mendelik mendengar Ken memanggil Embun dengan sebutan 'Mommy'.
"Ken, pergilah temani Cathy dan Twins."
"Baik. Mommy."
Ken menunduk pada Malvin dan Embun, lalu melangkah mundur dan berbalik, keluar dari ruang kerja Bos sekaligus mertuanya itu.
"Dia masih sangat kikuk menyebutku Mommy." kekeh Embun dengan gelengan kepala.
Embun beralih melihat Malvin, ia tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
"Kenapa kamu kekanakan seperti ini?" memeluk pinggang Malvin dan menatap wajah suaminya.
"Aku mencintai mereka."
"Yaahh,, aku tau." peluk Embun menyetujui.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Kay." Malvin masih memikirkan Kayla yang masih mengurung diri dikamar nya.
"Kalau kamu sangat mengkhawatirkan nya, kamu bisa melihatnya sayang." saran Embun melihat Wajah Malvin dengan lembut.
"Apa kau tidak mengkhawatirkan nya?"
"Tentu saja. Tapi aku cukup tau anak gadis kita sangat tegar menghadapinya."
"Embun, Aku berfikir untuk menemui Daniel besok." ucap Malvin.
"Untuk apa?"
"Aku harus membuat perhitungan dengan nya."
Embun menggeleng.
"Jangan! Jangan sekarang, kita susun rencana dulu. Bagaimana? Kita harus saling terbuka dan jujur. Seperti kata Kay."
"Baiklah! Aku mengerti. Aku tidak akan bertindak sendiri an." Malvin memeluk erat istrinya."Biar aku temui Kay dulu."
"Oke."
***
####
Kayla duduk memeluk lutut di depan komputernya. Kay sedang menunggu beberapa account fake nya terisi dana.
Pikiran Kayla bercabang pada kencannya dengan Gara tadi.
Flash back lagi.
"Ffuuuaaahhh..." Kayla menarik nafas setelah akhirnya kepalanya muncul di permukaan.
Didepannya Gara tersenyum lebar. Kay menatapnya protes.
"Kenapa menciumku dibawah air, aku kesulitan bernafas."
"Apa kau lebih suka ciuman di atas air?" Gara semakin mendekat, reflek tubuh Kay mundur dan terpentok di pinggiran kolam sungai.
Gara mendekat mengunci tubuh Kay dengan kedua tangannya. Wajah Gara semakin dekat, netranya mulai menutup perlahan.
Satu kecupan mendarat di bibir Kayla, lalu berubah jadi hisapan. Lidah Gara menggelitik i celah bibir Kay, hingga sedikit terbuka. Dengan sigap Gara masuk dan mengorek seluruh ruang mulut Kay.
Semakin lama Gara semakin tak sabar, ciumynya semakin menuntut, ingin lebih dan lebih. Kay meluk leher Gara. Menyambut ciuman panas prianya dengan antusias.
"Aku mencintaimu,Kay."
Gara menelan ludahnya, serasa tenggorokannya yang terus tercekat.
"Aku hanya ingin kamu."
Gara sekali lagi mengecup bibir Kay, mempertemukan kedua lidah. Lalu Gara membuay jarak.
"Aku mencintaimu. Hanya kamu."
Gara lagi-lagi menyatukan bibirnya.
"Aku mencintaimu, Kay."
Dikecupnya lagi Kayla.
"kenapa kau terus mengucapkan nya?"
"Aku hanya ingin kau tau dan percaya padaku."
Gara menggulum bibir Kay yang membuatnya ketagihan.
"Aku percaya pada, Ga."
Gara mengulas senyum. Senyum kelegaan.
Flash back off.
Kayla menggelengkan kepalanya.
Fokuslah Kay.
Kayla menatap layar dikomputernya, bar menunjukann pemindahan hampir 100%. Kay tersenyum puas.
"Aku mendadak kaya sekarang."
Jari lentik Kay mulai beraksi lagi.
TOK TOK TOK! ( suara pintu diketuk)
Kay menoleh. Gegas Kayla berlari menuju pintu, Kayla membuka pintu kamar nya. Malvin sudah berdiri didepan kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa Dad?"
Kay sengaja membuka pintu selebar tubuh nya yang mengganjal di celah pintu.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku baru selesai mandi."
Malvin terdiam sejenak.
"Sepertinya kamu sedang tak ingin diganggu. Lanjutkan apapun yang kamu kerjakan."
"Terima Kasih Daddy." ucap Kayla segera menutup pintu kamar.
Malvin bernafas berat.
Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Pikir Malvin sedikit kwatir.
***
###
Di sisi lain di lokasi lain.
Laos berlari dan membuka bar tempat Daniel sedang minum dan bersenang-senang dengan wanita penghibur berada. Terlonjak kaget melihat Laos begitu panik.
"Tuan!"
"Apa? Kenapa wajahmu begitu?"
"Tuan, Kita diretas. Seseorang Telah menyedot dana rahasia kita dari Account."
"Apa?" Daniel terlonjak kaget.
Segera berdiri dan berjalan keluar bar dengan cepat. Daniel berjalan menuju sebuah ruang khusus. Disana lah anak buahnya bekerja.
"Apa yang terjadi?"suara bariton Daniel membuat pekerjanya tersentak.
"Ki-kita diretas tuan."
"Apa?" Daniel menedang kursi lipat di dalam ruang itu. Suara jatuhnya membuat bulu-bulu halus meremang.
"Lalu kalian diam saja?"
"Kami lakukan sebaik mungkin."
"Bagaimana hasilnya?"tanya Daniel dingin, dengan wajah marahnya.
Anak buah Daniel gemetar an.
"Siapa? siapa yang melakukan nya?"sentak Daniel tak sabar.
"Kami.. kesulitan melacaknya."
"Apa?" Daniel tersulut, dadanya naik turun karena emosi.
"Apa kerja kalian?" teriaknya marah.
"Tuan! Kami menemukan alamat IP itu dari rumah ini." Ucap Laos yang berdiri dibelakang Daniel.
"Apa? Kau mau bilang Gara pelaku nya?"
"Alamat IP itu milik anda."
"Apa?"
Daniel mencengkram kerah depan Laos. "Aapa kau sedang bercanda sekarang?"
"Ma-maaf tuan."
"Dimana Gara?"
"Tu-tuan muda sedang berlatih baseball dibelakang."
Daniel menggertak kan giginya. Melangkahkan kakinya keluar.
_____^_^_____
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
__ADS_1
☺️