Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 49


__ADS_3

"Apa sih Om? Orang Kak Honey cuma bantu niupin mata Catty yang kelilipan."


Ken menoleh pada Catty. Catty cepat-cepat mengedip-ngedipkan sebelah matanya seolah sedang kelilipan. Honey di belakang punggung Ken mengangkat jempolnya dengan mulut terbuka.


"Benar-benar begitu." Arti dari wajah Honey. Catty masih mengedip-ngedipkan matanya sambil melirik Honey.


Melihat gelagat Catty yang mencurigakan, Ken menoleh. Honey pun langsung melihat kearah lain sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kekanan dengan tangan yang dia sembunyikan dibelakang. Ken kembali menoleh pada Caty, menatapnya curiga.


"Apa? Mana yang kelilipan? Disini mana bisa kelilipan!" ketus Ken melihat kelakuan keduanya yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Yaaa.. nyatanya aku kelilipan nihh.." Caty mengedipkan lagi matanya berulang. Mengangkat tangannya hendak menggosok mata. Ken menahan tangan catty tepat didepan mata gadis itu. Menurunkan sedikit hingga batas dada. Ken meniup mata Catty.


Tubuh Catty membeku..


"Ya tuhan, bahkan aroma nafasnya begitu wangi. Aaa... bibirnya yang mengerucut itupun terlihat begitu seksi. Aku ingin melahabnya...Gimana niihh.. Godaan ini sungguh berat." batin Caty dengan jantung yang terus berdebar kencang.


"Uuhh, jantungku, jangan menggedor keras-keras dong, Nanti Om Ken dengar..." batin Catty lagi.


"Sudah belum?" tanya Ken berhenti meniup. Melihat wajah Caty yang memerah.


Caty melirik Honey yang berdiri dibalik punggung ken. Pria itu melambaikan tangannya.


"belum." Begitulah arti dari gerak bibir tanpa suara Honey.


Ken melihat arah wajah Catty meliha, Ken pun menoleh melihat Honey yang dengan cepat pura-pura melihat kearah lain sambil memainkan rambutnya. Ken berbalik melihat Catty lagi.


"Be-belum. Belum Om, masih nih.." rengek Catty mengedip-ngedipkan matanya. Tangannya kembali terangkat, namun Ken menahannya dengan kuat.


"Diam! Jangan di gosok." Ken meniup lagi mata Catty.


Catty merasai hembusan angin segar yang dingin dari mulut Ken menerpa wajahnya. Sampai-sampai wajahnya ikut membeku.


"Ya tuhan, tolong.... Ini sangaaatt..." debaran jantung Catty kembali terpacu dengan cepat. Nafasnya pun ikut memburu. Mata Catty melirik bibir seksi Kenan yang meniup matanya.


"Moment ini pliss, jangan cepat berakhir.. Aku ingin waktu berhenti saat ini... Omm Keenn..." kata Caty dallam hati.


"Wajahnya terus memerah nggak habis-habis. Apa aku sudah berlebihan meniup matanya. Apa sebaiknya biar Honey saja yang meniupnya. Tunggu, kenapa aku merasa tak rela?" batin kenan.


Kenan tiba-tiba merasa canggung dan berhenti meniup mata Catty.


"Sudah."


Ken melepaskan tangan Catty. Gadis itu terlihat sedikit kecewa. Ken mwmbalikkan badan menatapan pada Honey.


"Pulang sana kelantai bawah."


"Eh, kenapa?" Honey tersentak, "Aku mau memginap disini." ucap Honey keberatan.


"Nyonya embun sudah menyuruhmu tinggal disana. Jadi turun sana! Atau aku memang harus menendangmu keluar."


Honey mendelik.


"Eehh, janganlah! Tega banged kamu sama aku." Honey cemberut manja.


"Huuhh ya sudah. aku mau pulang saja." Honey berjalan mendekati kulkas. Membuka pintu kulkas tanpa rasa malu dan berdosa Honey mengangkut semua isi kulkas hingga hanya menyisakan beberapa saja. Kennan mendelik protes.


"Karena kau sudah mengusirku, jadi aku harus dapat kompensasi." Ucap Honey melengos.


Pria cantik itu berjalan dengan rambut terurai yang melambai-lambai ketika dia berjalan menjauh dan menghilang sampai suara pintu depan terdengar.


"Huufftt.. akhirnya pergi juga." gumam Kennan lega dengan tangan yang dia tempatkan di pinggang.

__ADS_1


"Om?"


Kenan menoleh, "Hhheemmm?"


"Dia membawa semua persediaan makanan kita."


"Dasar betina jadi-jadian nggak ada akhlak." jengkel Kennan menendang udara.


"Gimana Om. Kalau ntar malam aku lapar gimana?" ucap Catty dengan mata memelas yang membuatnya terlihat makin imut.


Ken mengalihkan wajahnya mengusap pelan muka dan menelan ludah. Kennan ingat Catty memang hobi makan dan ngemil. Karena sedari kecil Catty suka aktifitas fisik hingga banyak menguras tenaganya.


"Om..."


"Jangan lihat wajahnya ken, Jangan menoleh padanya." batin Kennan


"Om Kenn..."


"Ayo belanja." ajak ken tanpa menoleh. Mengambil langkah lebar keluar dapur. Catty mengerucutkan bibirnya.


"Huuuhh... Bagaimana bisa orang seperti ini cemburu? Dia bahkan cuek padaku sekarang. Pergi begitu saja." gerutu Catty ngekori Kennan.


"Sudah menikah, tapi rasanya sama saja. Kalau begini sih nggak ada kemajuan." Bergumam-gumam.


Catty dan Kennan sudah berada di dalam mobil Kennan. Mobil merah itu melaju dengan kecepatan standart. Di dalam mobil mereka hanya saling diam. Membuat suasana menjadi canggung.


"Om, Catty nyalain musik ya?"


Kennan mengangguk. Catty mengulurkan tangannya dan menyalakan musik. Musik mengalun indah. Catty ikut bernyanyi. Sedang Ken hanya tersenyum kecil melihat istri kecilnya itu bernyanyi dan manggut-manggut.


"Om, ayoo nyanyi bareng."


"Nggak ah."


"Ntar haus."


"Iisshh alasan apa itu?" Catty cemberut.


Ken melirik dengan ekor matanya, mengulas senyum geli.


"Itu, bibirmu kalau ada karet gelang pasti ku kuncir deh."


Catty makin mengerucutkan mulutnya. Melipat tangannya didada. Ken terkekeh.


"Suaraku bagus Cat. Nanti makin terpesona kamu sama aku. Bahaya."


"Kenapa? Kita kan suami istri? Nggak papa juga kalau suka kan?" Catty memiringkan tubuhnya kearah Kenan.


Kennan terdiam menatap Lurus kedepan. Raut wajahnya sedikit berubah. Catty membenahi posisi duduk lalu menatap keluar jendela.


"Sepertinya Om Kennan memang tidak ada rasa sedikitpun padaku. Yaah, memang, waktu itu Daddylah yang memaksa Om ken menikah denganku karena kesallahpahaman. Aku memang terlalu naif." pikir Catty.


Di swalayan sebuah Mall ternama di kota itu. Ken memdorong kereta belanjanya. Sedang Catty mengambil apapun yang dia suka.


"Om nggak mau makan apapun?" tanya Catty meletakkam beberapa bungkus kripik dan biskuit ke kereta yang Kennan dorong.


"Enggak. Kamu aja Cat. Kamu kan suka ngemil."


"Hmmm.... Ya sudah."


Caty mengelilingi seluruh swalayan mengambil snack dan minuman. Lalu mereka mengantri di kasir.

__ADS_1


"Duduklah disana. Biar aku yang mengantri." Ken menunjuk bangku kosong di dekat kasir.


"Oke."


Catty duduk dibangku, sesaat kemudian Ken datang dengan kantong di kedua tangannya. Sepertinya Catty mengambil banyak camilan dan makanan tadi.


"Berat nggak Om? Biar kubawain satu deh." Caty mengulurkan tangannya hendak mengambil salah satu kantong di tangan Ken. Ken menampik, memutar tubuhnya.


"Nggak usah. Kamu bawa kunci mobil aja." Ken melempar kunci mobil ke Catty. Gadis itu dengan sigap menangkapnya.


Menatap punggung Kennan yang melengos lebih dulu. Catty tersenyum geli.


"Padahal cuma begini saja. Tapi rasanya aku sudah sangat bahagia. Nggak usah dipikirkan bagaimana perasaan Om ken padaku. Aku akan sekuat tenaga membuatnya berpaling melihatku."gumam Catty menyusul langkah Kennan.


***


####


Sesampainya di apartemen. Catty merasa lelah. Dia langsung masuk kekamarnya dan tidur. Sedangkan Ken masih menata beberapa makanan yang tadi dibeli ke kulkas. Barulah dia masuk kekamarnya.


Pagi itu Catty membuka matanya membaui aroma yang menggugah seleranya. Catty beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamarnya. Mengikuti aroma sedap yang mengglitik hidungnya.


Didapur, Ken sedang memasak. Catty tertegun melihat Ken tampak begitu keren memasak menggoyangkan wajan diatas kompor. Kenan menoleh.


"Udah bangun cat?"


"Uuumm..." Catty bersingut mendekat. "Om kenan masak apa? wangi banged?"


"Cuma spageti dan pasta kok."Ucap Kennan mematikan kompornya. Memindahkan masakannya ke piring lebar dan meletakkannya dimeja.


"Duduk! Terus sarapan."Titah Kennan meletakkan wajannya ke wastafel.


Catty menarik kursi.


"Ehh, cuci tangan dululah." gumam Catty berjalan ke wastafel sayang, kakinya malah terantuk kaki kursi, dan tubuhnya oleng. Beruntung Ken menahan pinggang Catty dengan sebelah tangannya, hingga gadis itu tak jadi jatuh.


Keduanya terdiam, begitupun dengan catty. Jantungnya berdetak tak karuan Kenan memeluk pinggangnya. Dengan posisi saling berhadapan. Nafas hangat Ken menerp keningnya hingga poni yang tertata sedikit menyibak.


Catty mengangkat sedikit wajahnya melihat Ken yang juga menatapnya. Wajah Kennan perlahan mendekat, semakin dekat semakin dekat.


"Duuhh.. Om Ken, kenapa wajahnya semakin mendekat? Apa Om Kenan mau menciumku? Jantung ku! Kenapa berdetak sekencang ini?" Batin Catty menelan ludahnya. Jantungnya terus berdetak tak karuan.


Wajah Kennan semakin mendekat, Bibirnya hanya berjarak sejengkal


DING DONG! (Suara bel rumah Kennan berbunyi)


Dengan cepat Kennan menjauhkan tubuhnya.


"Tamu sialan!" umpat Caty menatap punggung Kenan yang melangkah lebar.


_____^_^_____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


salam hangat

__ADS_1


☺️


__ADS_2