
Setelah mengantar Pandu dan Rasya sampai di rumah mereka, Arga melajukan mobilnya kembali ke Apartemen. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera mengistirahatkan tubuhnya juga—hatinya. Ketika sudah sampai di apartemen miliknya, Arga langsung membuka jas dan kemeja yang dikenakan lalu meletakkan secara sembarang di atas kasur.
Arga mengambil handuk dari lemari lalu masuk ke kamar mandi dan berendam air hangat dalam bathup untuk sekedar menyegarkan otaknya. Mata Arga terpejam saat hangatnya air menerpa kulitnya dan membuat rasa lelah sedikit berkurang.
Namun, mata Arga seketika terbuka lebar saat bayangan Zahra hadir dan seolah menyapa dengan sangat nyata. Arga menggerutu, dan berusaha keras mengusir bayangan itu.
"Bagaimana bisa aku terbayang gadis ceroboh itu," gumam Arga, menggelengkan kepala.
Namun, sesaat kemudian senyum Arga mengembang saat mengingat beberapa adegan konyol setiap kali bertemu Zahra. Dia seolah memiliki hiburan tersendiri. Akan tetapi, senyum Arga tidak bertahan lama karena lelaki itu tiba-tiba mendengkus kasar saat teringat betapa mesranya Zahra dengan Yudha. Hatinya lagi-lagi terasa panas.
"Aku harus mencari informasi tentang siapa Yudha. Apalagi dia mendaftar sebagai karyawan ADS Group." Arga bergumam sendiri, sebelum akhirnya memaksa matanya supaya lekas terpejam dan tubuhnya bisa merasa rileks.
Seusai berendam, Arga merasakan perutnya kembali lapar. Dia melirik jam di dinding dan sudah menunjuk angka lima. Rasanya Arga begitu malas untuk keluar, apalagi sekarang malam Minggu pasti dipenuhi dengan pasangan kekasih yang sedang kasmaran. Namun, Arga juga merasa malas jika harus memesan makanan secara online.
Pada akhirnya, Arga memilih untuk keluar jalan-jalan siapa tahu dia bisa menemukan tambatan hati yang sampai saat ini belum terlihat hilalnya. Dengan memakai celana jeans, kaos juga topi, mampu membuat ketampanan Arga makin terpancar. Tak lupa, Arga memakai kacamata hitam sebagai penambah kesan gagah dalam dirinya yang sampai saat ini masih betah dengan status jomlo.
Arga melajukan mobilnya ke sebuah restoran ternama khusus anak muda yang berada di pusat kota. Jika dari apartemen Arga, hanya butuh waktu lima belas menit menggunakan mobil dengan kecepatan sedang, dengan ketentuan jalanan sedang tidak padat.
Setelah menemukan apa yang dicarinya, Arga segera memarkirkan mobil dan masuk ke restoran tersebut. Baru saja menjatuhkan bokongnya di atas kursi, seorang gadis cantik memakai seragam restoran tampak mendekat dan menyodorkan sebuah map berisi daftar menu.
"Selamat sore dan selamat bermalam Minggu. Anda mau pesan apa, Tuan?" sapa gadis itu dengan sopan.
Arga melirik sekilas, lalu fokus pada buku menu tanpa peduli dengan gadis yang sedang menebar senyum menggoda padanya. Bukannya tertarik, tetapi Arga justru bergidik ngeri saat melihatnya.
Setelah menyebut makanan apa yang diinginkan, Arga mengembuskan napas lega saat melihat gadis tersebut pergi dari hadapannya. Arga merogoh saku celana dan mengambil ponsel dari dalam sana. Arga menghela napas panjang saat tidak ada satu pun notif yang masuk ke ponselnya.
"Nasib jomlo gini amat, ya. Tidak ada notif apa pun." Arga dengan malas memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam saku.
__ADS_1
Bola mata Arga mengedar. Memindai seluruh sudut ruangan restoran tersebut yang hampir seluruh mejanya terisi oleh pasangan muda-mudi. Hanya dirinya yang duduk sendirian, dan itu membuat Arga makin terlihat mengenaskan.
Tiba-tiba Arga terdiam saat melihat dua orang yang baru saja masuk ke restoran. Arga makin merasa dongkol saat melihat betapa mesranya mereka berdua. Bahkan, tanpa sadar tangan Arga terkepal erat.
"Kenapa aku seharian ini penuh dengan kesialan!" Arga menggerutu sendiri. Ekor mata Arga mengawasi dengan seksama Zahra dan Yudha. Sama sekali tidak terlepas dari dua orang yang baru saja duduk di meja yang sangat jauh darinya.
Saking sibuknya mengawasi dua orang yang baru masuk, Arga sampai tidak melihat jika gadis pelayan tadi sudah berada di sampingnya dengan membawa pesanan Arga.
"Ini pesanan Anda, Tuan." Gadis itu berkata lembut.
Arga terjengkit karena terkejut, lalu dia menatap pelayan tersebut dengan tatapan yang menyiratkan kekesalan. "Letakkan saja dan cepat pergilah!"
Gadis pelayan itu pun segera meletakkan makanan di atas meja dan bergegas pergi dari sana karena takut mendengar suara Arga yang begitu tegas dan memerintah.
Setelah kepergian gadis pelayan itu, Arga segera menyantap makanan dengan gerakan kasar karena mood-nya mendadak buruk. Di saat sedang sibuk mengunyah makanan, Arga makin merasa kesal saat tiba-tiba ingin buang air kecil dan itu sangat menganggu kegiatan makannya.
Namun, setelah selesai dan Arga baru saja membuka pintu, lelaki itu mematung saat melihat Zahra sedang berdiri tepat di depan pintu. Zahra pun sama terkejutnya seperti Arga.
"Tu-tuan." Zahra memanggil dengan terbata karena gugup juga terkejut.
Arga tidak menjawab dan memilih keluar begitu saja. Setelah Arga keluar, Zahra segera masuk karena dia sudah sangat kebelet. Namun, tiba-tiba ....
Gubrak!
"Aduh!"
Langkah Arga terhenti saat mendengar suara Zahra yang merintih. Arga berlari mendekat dan terkejut melihat Zahra sedang terjengkang di atas lantai karena kepeleset. Arga yang merasa panik langsung membopong tubuh Zahra dan membawanya keluar dari toilet.
__ADS_1
"Anda mau bawa saya ke mana, Tuan?" tanya Zahra saat Arga hendak membawanya pergi.
Arga tidak menyahut, dan menggendong Zahra menuju ke kursi tempatnya tadi. Zahra pun hanya diam, tetapi tangannya melambai ke arah Yudha yang langsung berjalan mendekat.
"Ra, kamu kenapa?"
Baru saja Arga hendak bertanya, tetapi dia keduluan Yudha yang saat ini sudah berdiri di belakangnya. Seketika Arga memasang wajah datar.
"Aku kepeleset di toilet tadi. Untung ada Tuan Arga yang menolong," jelas Zahra.
"Mana yang sakit?" tanya Yudha khawatir.
"Pinggangku sedikit nyeri, Mas."
Hati Arga memanas saat melihat itu. Bahkan, dia merasa geram saat Yudha seolah sengaja membuat hatinya memanas. Daripada harus berada di sana dan makin membuat hatinya panas, Arga lebih memilih pergi tanpa peduli pada makanannya yang belum habis.
"Tuan, tunggu!" teriakan Zahra menghentikan langkah Arga. "Terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih karena aku akan melakukan itu kepada siapa pun." Arga menjawab ketus. Zahra dan Yudha yang mendengar jawaban Arga pun hanya melongo tidak percaya.
Arga berbalik dan melanjutkan langkahnya. Namun, dia kembali berhenti saat ada yang memanggilnya lagi.
"Ada apa lagi?" tanya Arga ketus. Dia menatap kesal ke arah gadis pelayan yang sedang mendekatinya dengan cepat.
"Maaf, Tuan. Kalau Anda hendak pergi, maka jangan lupa bayar bill makanan Anda."
Ucapan pelayan tersebut berhasil membuat Arga malu, tetapi dia berusaha tetap terlihat tenang.
__ADS_1
Sialan! Bagaimana aku bisa lupa? Hal sekecil ini saja bisa membuatku sangat malu.