
Rasya terpaku di tempatnya, menatap Gatra yang masih berada dalam posisinya. Bibir Gatra tersenyum lebar dengan tatapan penuh harap. Rasya menjadi tidak tega sendiri. Dia begitu bingung bagaimana cara menolaknya, sedangkan teriakan 'terima' dari sahabatnya menggema di sana.
Rasya menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan. "Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa."
Teriakan ketiga sahabat Rasya berhenti seiring senyum Gatra yang perlahan memudar. Rasya menunduk dalam, tidak berani menatap Gatra yang masih setia menunggu. Gatra berharap Rasya hanya bercanda, seperti sebagaimana selama ini dia mengenal gadis itu.
"Ra, kamu menolakku? Atau hanya menjahiliku?" tanya Gatra begitu menuntut.
Rasya kembali menghirup napas dalam, "Maaf, Mas. Aku emang enggak bisa nerima kamu. Hatiku udah jadi milik orang lain."
Tubuh Gatra melemas, terduduk begitu saja. Kotak dalam genggaman kini tertutup rapat. Bayangan indah yang sejak kemarin menari dalam pikirannya, ternyata hanya bayangan semata. Ketiga teman Rasya pun hanya terdiam tak bisa lagi berkata-kata.
"Siapa orang itu, Ra?" tanya Zety penasaran. Selama ini dia tidak pernah melihat sahabatnya dengan lelaki mana pun.
"Ehem!"
Belum juga Rasya menjawab, sebuah dehaman dari arah belakang berhasil mengejutkan mereka. Semua terkejut melihat Pandu sudah berdiri tegak dengan Arga di belakangnya. Bola mata Rasya membola sempurna. Tidak percaya kalau suaminya berada di restoran itu juga.
__ADS_1
"Om," panggil Rasya lirih. Pandu menunggingkan senyum dan menatap meledek ke arah Gatra yang baru saja bangkit berdiri.
"Sepertinya kalian romantis sekali," sindir Pandu. Tangannya masuk ke dalam saku celana.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang. Maaf, Mas, aku yakin kamu akan menemukan wanita yang lebih baik dari aku." Rasya melangkah hendak pergi dari sana. Namun, ketika berjalan di samping Pandu, lelaki itu menahan tangan Rasya untuk menghentikan langkahnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Pandu penuh penekanan. Bahkan cengkeraman tangan Pandu di lengan Rasya terasa menguat.
"Pulang." Rasya menjawab singkat dan berusaha menyingkirkan tangan Pandu. Namun, percuma. Cengkraman tangan itu justru terasa makin menguat.
"Kamu tidak ingin menjelaskan terlebih dahulu siapa lelaki yang sudah memiliki hatimu? Supaya jelas kenapa kamu menolak Gatra." Pandu sedikit menarik lengan Rasya supaya gadis itu berdiri di depannya dan menghadap ke arah empat orang yang juga sedang menatap balik.
"Kalau kamu kelamaan menjawab maka aku akan mengatakan semuanya. Sudah bukan waktunya lagi kamu menutupi ini," bisik Pandu tepat di telinga Rasya yang langsung bergidik karena hangat napas Pandu menerpa belakang telinganya.
"Em ... maaf Mas Gatra. Aku enggak bisa nerima kamu karena hatiku udah ada yang memiliki, yaitu ...." Rasya terdiam sesaat, sedangkan Pandu sudah tersenyum miring dan bersiap kalau Rasya membuka indentitas pernikahan mereka.
"Milik Bapak dan Mas Agus!" Rasya berbalik dan hendak berlari pergi, Pandu yang awalnya terkejut pun dengan sigap menarik baju Rasya bagian leher belakang untuk menahan. Rasya merasa begitu heran karena dia hanya berlari di tempat, dan ketika berbalik, Rasya tersenyum lebar saat melihat Pandu sedang menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Lepasin, Om!" Rasya meronta. Berusaha melepaskan tangan Pandu, tetapi gagal.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu jujur pada mereka!" seru Pandu.
"Tuan ...."
"Diamlah, Ga!" bentak Pandu saat Arga memanggil namanya. "Katakan sejujurnya pada mereka!" perintah Pandu pada Rasya.
"Aku udah bilang jujur, Om. Emang pemilik hatiku itu bapak sama Mas Agus." Rasya menjawab tegas.
"Lalu hubungan kita?" tanya Pandu penuh penekanan.
"Ada apa dengan hubungan kita? Kupikir hubungan kita tidak ada yang spesial di dalamnya." Pandu melepaskan cengkraman tangannya begitu saja setelah mendengar ucapan Rasya. Bahkan, dia tidak peduli meski Rasya hampir jatuh tersungkur kalau Gilang tidak menahannya.
Mata Rasya terbuka lebar menatap Gilang yang masih menahan tubuhnya, tetapi tatapan lelaki itu mengarah tajam kepada Pandu yang juga sedang menatap balik, tak kalah tajam.
"Bisakah kamu tidak bermain kasar dengan perempuan?" tanya Gilang setengah membentak. Bukannya takut, Pandu justru menarik sudut bibirnya, tersenyum miring.
__ADS_1
"Seharusnya kamu sadar kalau wanita yang sedang kamu sentuh itu adalah kakak iparmu!" murka Pandu. Tangannya terkepal erat, sedangkan Gilang justru tetap memegang Rasya dengan santai. Sementara yang lain begitu terkejut mendengar ucapan Pandu. Namun, mereka diam karena masih merasa begitu bingung.