Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
86


__ADS_3

Pandu mendudukkan Rasya di samping wastafel. Kemudian, hendak melepas baju yang dikenakan istrinya, tetapi dengan cepat Rasya menepis tangan Pandu.


"Mas, ini toilet umum." Rasya terlihat gugup saat menatap ke arah pintu. Khawatir ada orang lain masuk dan berpikir macam-macam tentang mereka.


"Memang kenapa? Selama kita di dalam, tidak akan ada yang masuk." Pandu kembali membuka paksa baju yang dikenakan Rasya.


Dengan sedikit paksaan, Rasya pun akhirnya menurut saat Pandu menanggalkan bajunya dan hanya menyisakan bra saja. Rasya secara refleks menutup aset berharga miliknya.


"Jangan macam-macam." Rasya melotot ke arah Pandu, tetapi lelaki itu justru terkekeh.


"Memang kenapa? Aku bahkan sudah melihat setiap inchi tubuhmu." Pandu menyeringai. Rasya mengembuskan napas kasar.


Pandu menyingkirkan tangan Rasya lalu meneliti perut Rasya yang terkena kuah panas. Pandu menggeram saat melihat kulit Rasya yang memerah.


"Ini sakit?" tanya Pandu penuh khawatir.


"Enggak!" Rasya berusaha tetap terlihat tenang padahal ada rasa nyeri dan panas yang mulai menjalar.


"Kamu pembohong gadungan. Biar aku suruh Arga carikan salep terlebih dahulu." Pandu berjalan ke luar toilet lalu menyuruh Arga untuk mencarikan salep luka bakar juga baju untuk Rasya.

__ADS_1


"Nak Pandu," panggil Marlina. Menghentikan langkah Pandu yang hendak kembali masuk. "Bagaimana dengan Kukum?"


"Hanya memerah, Bu. Aku sudah suruh Arga untuk mencari salep." Pandu menjawab sopan lalu menyuruh Marlina untuk masuk. Pandu ingin wanita itu lega kalau sudah melihat keadaan Rasya secara langsung.


"Bu ...," panggil Rasya. Dia hendak turun, tetapi Pandu melarang.


"Apa sangat perih?" tanya Marlina khawatir. Rasya menggeleng dengan cepat.


"Ibu tenang saja. Biar nanti aku obati, Bu." Pandu berusaha menenangkan. Marlina pun merasa lega setelahnya. Kemudian, dia berpamitan kembali ke depan untuk mengatakan pada Paijo karena sedari tadi lelaki itu terus saja uring-uringan.


Selepas kepergian Marlina, gantian Arga yang hendak masuk, tetapi langsung ditahan oleh Pandu yang kebetulan baru sampai di pintu.


"Sini saja!" Pandu berkata ketus sembari menatap Arga tajam.


"Apa kamu mendengar suara aneh tadi selama aku pergi?" tanya Arga kepada salah seorang anak buah.


"Suara apa, Bos?" tanya Dani—salah satu anak Pandu.


"Aku bertanya, tapi kenapa kamu justru bertanya balik!" Mood Arga mendadak buruk.

__ADS_1


"Maaf, Bos." Dani menangkup tangan di depan dada.


Arga hanya melengos, lalu berdiri dengan bersandar tembok. Namun, diam-diam Arga menajamkan pendengaran barangkali menangkap suara yang membuat dia penasaran selama ini.


Sementara itu, di dalam toilet dengan telaten Pandu mengolesi salep di perut Rasya. Lelaki itu berkali-kali menelan ludahnya susah payah saat melihat tubuh Rasya yang terpampang jelas. Bahkan, seolah ada sinyal yang begitu kuat hingga membuat adiknya mulai menekan celana.


"Mas! Jangan macam-macam." Rasya memukul lengan Pandu untuk menyadarkan lelaki itu.


"Aku hanya ingin satu macam." Pandu berbisik tepat di telinga Rasya, sembari mendaratkan ciuman di leher wanita itu hingga membuatnya menggigit bibir untuk menahan desah*n. "Kita belum pernah mencoba di toilet umum."


Tubuh Rasya menegang. Pikirannya membayangkan benar-benar bercinta di toilet umum. Di saat sedang nikmat-nikmatnya beradu desah*n dan erang*n, tiba-tiba ada orang masuk dan memergoki. Rasya bergidik saat bayangan itu terus saja menggoda.


"Aduh!" Rasya mengusap kening saat merasakan sebuah sentilan mendarat di sana. Dia menatap Pandu yang sedang menatapnya dengan bibir tersenyum licik.


"Sakit, Mas." Rasya merengek.


"Otakmu jangan jauh-jauh mikirnya. Aku tidak mungkin bercinta di toilet umum seperti ini. Aku tidak semiskin itu hingga tidak mampu menyewa bahkan membeli kamar hotel," angkuh Pandu.


"Astaga, sombong banget, Mas. " Rasya mendecakkan lidah.

__ADS_1


"Kecuali ...." Pandu menghentikan ucapannya. Seringai makin terlihat jelas di sudut bibir lelaki itu. Rasya hanya menunggu kelanjutan ucapan Pandu sembari menatap mata suaminya dengan penuh tanya.


"Kamu bersedia bercinta di sini."


__ADS_2