Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
94


__ADS_3

Pandu yang saat itu sedang melakukan pembicaraan serius segera menghentikan ucapannya saat mendengar suara Arga yang begitu keras. Bahkan, dia menatap Arga dengan begitu menuntut. Melihat Pandu yang sedang meminta penjelasan, Arga segera mematikan panggilan tersebut dan meminta mereka untuk kembali mencari Rasya. Setelah mematikan panggilan tersebut, Arga lalu berjalan mendekati tempat Pandu.


"Ada apa?" tanya Pandu tidak sabar.


"Maaf mengganggu, Tuan."


"Ada apa!" sela Pandu tidak sabar.


"Nona Rasya menghilang," jawab Arga cepat. Pandu tampak terkejut, tetapi beberapa saat kemudian dia menggeram dan marah. Bibirnya mengumpati pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Rasya. Bagaimana bisa mereka sampai lengah dan kehilangan jejak Rasya begitu saja.


"Kamu telepon dia!" suruh Pandu karena dia tidak sabar menunggu ponselnya yang baru saja dihidupkan. Pandu merutuki dirinya sendiri karena sudah mematikan ponsel dan bukan menggunakan mode pesawat saja.


Arga segera menghubungi nomor Rasya, tetapi tidak ada satu pun panggilannya yang tersambung. Ketika Arga mengatakan kalau nomor Rasya tidak aktif. Pandu bangkit berdiri dan menyuruh Arga kembali menghubungi Tuan Ferdinan untuk mengganti di pertemuan ini.


"Maaf, Tuan. Sepertinya saya harus mencari istri saya terlebih dahulu. Nanti biar daddy saya yang menggantikan." Pandu menangkup tangan di depan dada dan tersenyum paksa.


"Tidak apa, Tuan. Semoga istri Anda lekas ditemukan," ucap salah seorang di antara mereka.


Pandu tidak menyahut. Hanya melangkah cepat keluar ruangan dengan diikuti Arga di belakang. Arga berusaha mengejar langkah Pandu yang begitu cepat bahkan seperti dikejar setan.


"Tuan, tunggu!" teriak Arga.


Pandu berhenti karena jengah mendengar panggilan Arga yang terus-menerus keluar dari bibir lelaki itu. Pandu menatap Arga dengan sangat tajam dan penuh kekesalan.


"Ada apa!" bentak Pandu.


"Anda mau ke mana?" tanya Arga, begitu santai.


"Mencari istriku! Memang apalagi!" sewot Pandu tidak sabar.


"Tuan, bukankah ponsel Anda aktif?"


"Tentu saja. Jangan cerewet, Ga!" Pandu benar-benar kesal. Namun, Arga justru menghela napas panjang.

__ADS_1


"Tuan, untuk apa Anda memasang cctv kancing pada gaun yang dikenakan nona muda?"


Pertanyaan Arga berhasil membungkam mulut Pandu. Bagaimana bisa lelaki itu lupa kalau telah memasang cctv berbentuk kancing di baju yang dikenakan Rasya. Pandu kembali merutuki kebodohannya. Dia tampak kesal saat melihat Arga yang sedang terkekeh.


"Diam, Ga! Atau aku akan memecatmu!" murka Pandu. Arga pun menutup mulut rapat meski hatinya tergelak keras. Ternyata melihat orang bucin sangat lucu baginya.


Pandu memilih masuk ke mobil terlebih dahulu untuk mengecek cctv lewat ponsel yang telah dihubungkan. Kening Pandu mengerut saat melihat tampilan cctv itu berada di ruangan yang cukup asing baginya. Namun, Pandu melihat sosok Zahra yang sedang duduk. Pandu pun mengeraskan suara untuk mendengar pembicaraan mereka.


"Elu gila, Ra! Ngapain kabur segala?"


"Habisnya gue takut sama dua orang itu. Gila badannya gede daripada Om Panu. Kekar, dan gitulah. Gue enggak berani bayangin."


"Lah, ntar elu dicariin laki elu, gimana?"


"Biarin aja. Dia lagi sibuk. Kerjaan dia banyak. Ntar gue mau pulang sore aja pas dia balik kerja. Soalnya tugas gue cuma ngurusi dia kalau di rumah."


"Astaga, enak bener hidup elu, Ra. Tinggal maen, santai, pengen apa dikasih lagi. Gue kapan dapat hoki kaya elu?"


"Sabar, sih. Semua pasti akan indah pada waktunya. Gue jodohin elu sama Arga."


"Jalan ke kontrakan," suruh Pandu. Arga pun melajukan mobilnya sedangkan Pandu kembali fokus pada layar ponselnya.


"Elu yang bener aja, Ra. Gue sama Tuan Arga udah beda derajat."


"Elu pikir gue sama Om Panu enggak beda derajat? Dia itu langit yang dijunjung tinggi, lah gue? Cuma bumi yang dipijak. Gue tuh minder, Zae."


"Kenapa minder? Yang penting 'kan Tuan Pandu udah milih elu, Ra."


"Elu belum tahu aja. Dia itu dikelilingi cewek cakep yang body semok, wajah cantih, putih, bersih. Lah gue. Jangankan body semok, wajah aja kusem enggak pernah skincare'an."


"Mintalah sama laki elu. Dia 'kan tajir. Masa iya enggak sanggup ngasih elu skincare."


"Ogah gue minta!"

__ADS_1


"Kenapa? Ingat, Ra! Elu itu istrinya!"


"Enggak usah diperjelas. Gue enggak mau minta-minta. Ntar dikiranya gue cewek matre lagi. Kalau dibolehin aja gue pengen kerja biar bisa punya uang sendiri."


"Astaga, elu gobl*k, Ra!" Zahra melempar sendok ke arah Rasya dan tepat mengenai jidat Rasya hingga wanita itu mengaduh kesakitan.


"Sialan! Berani sekali dia menyakiti istriku." Pandu mengepalkan tangan karena marah melihat Zahra yang sudah melukai Rasya. Sayang sekali, Pandu tidak bisa melihat wajah Rasya.


"Zae, ntar kalau elu udah nikah atau punya pacar juga bakalan tahu kalau punya duit sendiri hasil dari keringet sendiri itu lebih enak. Elu bebas jajan apa aja, cilok, seblak, batagor, tanpa peduli sama rasa enggak enak hatilah, takut dibilang pemborosanlah."


"Iya juga, sih. Gue juga enggak mau berharap punya suami kaya. Yang penting bertanggung jawab. Kalau dia kaya yang gue syukuri. Kalau sedang saja-saja ya seenggaknya gue udah biasa hidup susah."


"Udah kubilang gue jodohin elu sama Arga. Dia udah tahu CD Frozen elu, belahan dada elu juga, sama kaos kaki elu yang bolong." Rasya tergelak keras.


"Kurap! Jangan bongkar aib gue, bangs*t!"


Pandu mendengar gelakan tawa Rasya yang begitu menggelegar. Namun, tampilan gambar cctv itu bergerak dengan cepat. Pandu yakin kalau Zahra dan Rasya sedang kejar-kejaran saat ini.


Mobil yang dikemudikan Arga berhenti di depan pelataran rumah kontrakan. Pandu menyimpan kembali ponselnya dan bergegas turun tanpa menunggu Arga membukakan pintu.


Ketika sampai di dekat pintu rumah, Pandu bisa mendengar gelakan tawa Rasya yang belum berhenti juga. Pandu hendak membuka pintu, tetapi pintu tersebut justru sudah terbuka terlebih dahulu. Zahra keluar cepat dan langsung menubruk tubuh Pandu. Mereka terdiam. Bahkan Rasya membuka mata lebar saat melihat Pandu berdiri di depan pintu.


Zahra yang menyadari siapa yang ditabraknya, langsung berdiri dan menunduk dalam. Tubuhnya gemetar tanpa berani mengangkat kepala sama sekali. Pandu pun segera melepas jas yang dikenakan karena merasa sudah kotor tersentuh Zahra. Arga yang berdiri di belakang Pandu pun segera menangkap jas tersebut.


"Mas, darimana kamu tahu aku di sini?" tanya Rasya gugup. Niat hati dia kabur ingin pulang sore, dan akan membeli seblak di warung langganan terlebih dahulu. Namun, semua sia-sia karena Pandu sudah menyusul bahkan tanpa Rasya ketahui.


Rasya menutup kedua telinga dan bersiap untuk menerima amarah Pandu. Bahkan Rasya menutup mata karena takut melihat sorot mata Pandu yang begitu tajam. Namun, tubuh Rasya seolah membeku saat merasakan sebuah kecupan di keningnya. Rasya membuka mata dan melihat Pandu yang masih mengecupnya mesra.


"Dasar istri nakal!"


•••


Adakah yang merindukan Othor??

__ADS_1


Apa kabar Gaes?


__ADS_2