Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
93


__ADS_3

Rasya memegang kerah leher yang memang sudah terbuka. Dalam hati Rasya mengumpati Pandu karena dia sangat yakin kalau ini adalah perbuatan suaminya itu. Rasya segera menutup lagi dan melihat Gatra yang sedang menatapnya dengan tatapan yang susah dijelaskan.


"Maaf, Mas." Rasya menjadi tidak enak sendiri.


"Tidak papa." Gatra kembali melanjutkan makan dan seolah tidak peduli dengan kejadian tadi.


Awas aja si Om tua itu. Jahat banget bikin aku malu. Aku harus beri pelajaran setelah ini.


***


Rasya mengembuskan napas lega saat bisa keluar dari restoran itu. Dirinya benar-benar sudah merasa begitu malu dengan Gatra. Tidak menyangka akan ada kejadian memalukan seperti itu dan semua tidak terlepas dari Pandu yang mulai bucin padanya. Begitu keluar dari restoran Rasya tidak menyadari kalau Bella ikut di belakangnya.


"Tunggu!"


Mendengar teriakan itu, Rasya berbalik dan melihat Bella yang sedang berjalan mendekat padanya. Kening Rasya mengerut dalam. Merasa heran dengan kedatangan Bella. Dia memang belum terlalu jauh dari area Restoran Gama, tetapi bukankah sekarang masih di jam kerja. Kenapa Bella begitu bebas berkeliaran karena yang Rasya tahu Gatra adalah orang yang disiplin.


"Ada apa?" Rasya menatap malas ke arah Bella.


"Sombong sekali kamu sekarang. Mentang-mentang sudah jadi istri pengusaha kaya. Aku jadi curiga kenapa Tuan Pandu Andaksa bisa menikahi kamu." Bella menatap Rasya dengan begitu merendahkan. Namun, Rasya justru melipat tangan di depan dada dan sedikit mendongakkan kepala.


"Bilang saja kamu iri. Bukankah dari dulu kamu selalu iri padaku? Apalagi saat aku dekat dengan Mas Gatra." Rasya menarik sebelah sudut bibirnya membentuk senyuman sinis.


Bella yang melihat betapa Rasya sangat berani kini menjadi terbakar emosi. Jika dulu Rasya selalu memilih diam, tetapi sekarang wanita itu sudah berani menantang.


"Jangan mentang-mentang kamu istri Tuan Pandu jadi sekarang kamu berani padaku!" bentak Bella penuh amarah. Dia mendelik ke arah Rasya seolah hendak melahap habis wanita itu.


Namun, tiba-tiba tubuh Bella meringsut. Nyalinya menciut seketika saat melihat dua orang bertubuh kekar dengan memakai kemeja lengkap, berdiri di samping kanan dan kiri Rasya. Bukan hanya Bella, tetapi Raysa pun terkejut saat melihat itu. Dia menatap dua orang itu secara bergantian.


"Kalian siapa?" tanya Rasya berusaha memberanikan diri.

__ADS_1


"Saya pengawal Anda, Nona Muda." Dua orang tersebut menjawab sembari membungkuk hormat.


Bola mata Rasya melebar karena tidak percaya. Pandu tidak pernah mengatakan padanya kalau akan menaruh dua pengawal bertubuh kekar yang tampangnya seperti preman pasar.


"Sejak kapan kalian jadi pengawalku?" tanya Rasya masih belum percaya.


"Sejak Anda menikah dan menjadi Nona Muda untuk kami, Nona." Lagi-lagi jawaban lelaki itu makin membuat Rasya membeliak tidak percaya.


Bella yang mendengar itu makin mengepalkan tangannya. Sungguh, dia benar-benar iri dengan Rasya yang hidupnya selalu beruntung daripada dirinya. Dalam hati Bella bertekad akan mendapatkan apa yang Rasya miliki dan dia akan menjadi Tuan Putri di keluarga Andaksa. Bibir Bella tersenyum miring saat ide licik muncul dalam kepalanya.


Lihat saja. Apa yang kamu miliki saat ini sebentar lagi akan menjadi milikku.


Namun, tubuh Bella tiba-tiba kembali meringsut saat dua orang tersebut saat ini sudah berada di depannya bahkan dengan jarak yang begitu dekat. Sorot mata lelaki itu begitu tajam seolah hendak menghancurkan Bella saat ini juga. Seketika, Bella merasa ragu apakah harus menjalankan ide yang baru melintas atau lebih memilih mundur.


"Jangan mencoba-coba kamu menyakiti nona muda atau kamu akan tahu sendiri akibatnya!" ancam salah satu di antara mereka. Bella tidak menjawab, hanya menunduk karena takut. Bahkan jantungnya berdebar tidak karuan.


Bella mendongak, dan menatap mereka penuh selidik. "Maksud kalian apa?"


"Tuan Pandu tahu kamu memiliki orang tua yang saat ini sedang sakit-sakitan di kampung dan asal kamu tahu kalau Tuan Pandu tidak akan segan-segan memberi pelajaran kepada siapa pun yang berani menyakiti nona muda. Bagaimanapun keadaannya!"


Ucapan lelaki itu membuat Bella benar-benar tidak berani menganggu Rasya. Baru memiliki niat saja dirinya sudah dipukul mundur. Bella memilih untuk diam karena dia tidak mau kalau Pandu sampai menyakiti kedua orang tuanya.


"Ma-maaf, Tuan. Saya janji, saya tidak akan menyakiti Rasya." Bella berkata dengan terbata. Setelahnya, dia memilih pamit sebelum nyawanya benar-benar dalam bahaya.


Setelah bayangan Bella tidak lagi terlihat, dia orang itu pun segera berbalik. Namun, mereka tersentak saat tidak melihat Rasya di tempatnya tadi. Pandangan mereka mengedar ke seluruh penjuru, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Rasya.


"Ke mana nona muda?" tanya salah satu di antara mereka.


"Mana kutahu. Bukankah kita tadi berada dalam posisi yang sama." Yang satunya ikut-ikutan gusar.

__ADS_1


"Astaga. Kalau begitu kita harus cari nona muda sampai ketemu," ajaknya.


"Ya, kalau tidak ketemu maka kita bukan hanya dipecat, tapi bisa saja dipukul habis-habisan oleh Tuan Pandu bahkan Tuan Besar."


Kedua pengawal itu pun menyusuri jalan di sekitar untuk mencari keberadaan Rasya. Bahkan, beberapa orang yang mereka tanyai, tidak ada satu pun yang tahu ke mana dan seperti apa nona muda mereka.


Hampir lima belas mencari, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan Rasya. Padahal mereka sudah menyusuri seluruh tempat. Ingin sekali mereka menghubungi Pandu, tetapi belum juga mengubungi, mereka sudah ketakutan terlebih dahulu.


"Bagaimana?"


"Kita telepon Tuan Pandu saja. Kalau sampai lama yang ada kita akan makin kena marah." Satunya memberi solusi.


Akhirnya, dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa, mereka segera menghubungi nomor Pandu, tetapi nomor lelaki itu justru berada di luar jangkauan. Mereka yakin kalau Pandu saat ini sedang dalam pertemuan penting. Mereka pun makin ragu. Namun, mereka sudah tidak memiliki cara lain lagi untuk menemukan di mana Rasya berada saat ini.


Tidak kehabisan akal, mereka pun menghubungi nomor Arga. Hanya lelaki itu yang bisa mereka hubungi saat ini. Selama bunyi panggilan menggema, mereka begitu takut dan gugup. Namun, mereka sudah siap untuk mendapatkan amarah dari keluarga Andaksa.


"Hallo ...." Terdengar sapaan dari seberang.


"Kamu aja yang ngomong."


"Kamu aja."


Dua orang itu saling berbisik dan mendorong karena ragu untuk mengatakan pada Arga. Sementara Arga yang mendengar itu menjadi gemas sendiri. Dia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi.


"Katakan jangan bertele-tele!" bentak Arga saking marahnya.


"Ma-maaf, Tuan Arga. No-nona Muda menghilang." jawab mereka pada akhirnya meski begitu gugup.


"Apa! Nona Raysa hilang? Bagaimana bisa! Dasar bod*h!" umpat Arga penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2