
Arga melihat-lihat gaun yang sekiranya pas di tubuh Rasya. Gadis yang kini sudah resmi menjadi nona mudanya. Ketika sedang asyik memilih, tiba-tiba bayangan Zahra tadi kembali terngiang dalam ingatan. Arga menggeleng, berusaha untuk mengusir.
"Anda cari apa, Tuan?" tanya seorang karyawan di sana.
"Gaun untuk nona muda." Arga menjawab malas, dan berpura-pura kembali terlihat fokus.
"Gaun yang seperti apa, Tuan. Biar saya bantu carikan," tawar karyawan tersebut. Arga hanya mengangguk mengiyakan karena dia harus bergegas cepat. Karyawan tersebut pun membungkus sepuluh gaun dengan aneka model.
Ketika sedang membayar di kasir, Zahra keluar dari sana dengan memakai celana baru. Arga melipat bibir untuk menahan tawa karena kembali teringat kejadian tadi. Zahra yang paham itu pun hanya mendengkus kasar.
"Tuan, kalau Anda mencari gaun untuk Rasya, saya yakin dia akan menolaknya karena dia tidak suka memakai gaun," kata Zahra tanpa berani mengangkat kepala karena dirinya masih dipenuhi rasa malu. Apalagi saat melihat Arga yang akan tertawa seolah meledek.
"Lalu aku harus mencari gaun yang seperti apa? Cepatlah karena aku tidak mau dimarahi Tuan Pandu." Arga sangat tidak sabar. Beberapa kali dia melirik jam di pergelangan tangan karena Pandu hanya memberi waktu dua puluh menit.
Zahra pun mengambilkan model-model pakaian yang disukai oleh sahabatnya. Bukan pakaian yang terlalu feminim. Arga tidak berkata apa pun, hanya menurut lalu membayar setelah mendapatkan beberapa pakaian.
"Terima kasih sudah berbelanja, Tuan," ucap kasir tersebut sopan. Arga hanya tersenyum tipis lalu berjalan pergi dari toko tersebut. Namun, langkah Arga terhenti saat mendengar Zahra memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Arga setelah berbalik dan melihat Zahra yang baru saja berdiri di dekatnya.
"Tuan, bisakah Anda katakan kepada Rasya kalau ketiga sahabatnya sangat merindukan dia?" pinta Zahra ragu dan takut. Dia tidak berani menatap Arga yang sedari tadi terus menatap lekat kepadanya.
"Nanti aku sampaikan kepada nona muda." Arga kembali berbalik lalu pergi begitu saja meninggalkan Zahra yang sedang menatap punggung Arga yang perlahan menjauh dari pandangan.
"Huh! Enak banget hidupnya si Kurap. Punya laki tajir ganteng pula." Zahra menggerutu sambil berjalan kembali ke ruangan.
***
Rasya baru saja selesai membersihkan diri. Dia hanya memakai jubah mandi pendek dengan rambut tergulung handuk tipis. Pandu yang melihat paha mulus Rasya hanya menelan ludah secara kasar saat merasakan tubuhnya memanas. Walau berpura-pura fokus pada ponsel, tetapi ekor matanya melirik Rasya yang sedang berjalan mendekat.
__ADS_1
"Om, mana bajunya?" tanya Rasya, merebahkan diri di samping Pandu lalu berpangku tangan.
"Arga belum sampai." Pandu menjawab ketus karena sedang berusaha keras menahan hasrat yang menggelora.
"Lama banget, ih," gerutu Rasya. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di samping bantal lalu memainkan jarinya di atas layar tersebut.
Pandu melirik Rasya yang juga sedang fokus pada ponsel di tangan. Bahkan saking seriusnya, sampai alis gadis tersebut saling bertautan. Namun, tubuh Pandu menegang saat Rasya sedikit bergeser lalu mengangkat tubuhnya sedikit hingga terlihat belahan dada yang begitu menggugah selera walaupun masih terlalu kecil untuk Pandu.
"Om! Oe!" panggil Rasya setengah berteriak karena Pandu yang tidak terusik sama sekali. Rasya meneliti ke mana arah pandang Pandu, tetapi sesaat kemudian gadis itu mencebik kesal sembari menutupi belahan dadanya.
"Aduhh!" teriak Pandu karena Rasya menggigit paha. "Kamu gila!" bentak Pandu saking kesalnya sampai menyentil kening Rasya.
"Sakit, Om." Rasya merengek. Berpura-pura hendak menangis untuk mencari simpati Pandu. Benar saja, dengan gerakan lembut Pandu mengusap bekas sentilan bahkan sebuah kecupan mendarat di sana.
"Makanya jangan menggigit sembarangan. Aku ini bukan tulang," ledek Pandu, berusaha menahan tawa.
"Kamu ini benar-benar menyebalkan!" Pandu memegang kedua ketiak Rasya hingga gadis itu merasa geli. Lalu menggelitik tanpa ampun meski Rasya sudah berteriak memohon untuk berhenti.
"Perutku sakit sekali," rengek Rasya. Menghentikan gerakan Pandu. Dengan begitu khawatir Pandu mengusap perut Rasya tanpa dikomando.
"Apa setiap kamu datang bulan perutmu sakit? Aku baca di artikel katanya wanita yang sedang haid itu sering merasa kram di perut." Pandu bertanya dengan sangat khawatir. Kedua sudut bibir Rasya tersenyum lebar saat melihatnya.
"Om, makasih udah khawatir sama aku." Rasya mengerlingkan satu mata untuk menggoda. Pandu mendadak gugup lalu memalingkan wajah.
"Aku bertanya bukan berarti aku khawatir," elak Pandu, tetapi Rasya justru tergelak keras.
"Yaelah, Om. Enggak usah pura-pura gitu. Om pikir aku ini anak kecil yang bisa dibohongi?" Rasya mengerucutkan bibir. Pandu yang melihat itu menjadi makin merasa gemas.
"Aku sangat membencimu." Pandu mencium pipi Rasya berkali-kali.
__ADS_1
"Ya, aku tahu, Om. Arti benci adalah benar-benar cinta," timpal Rasya. Namun, gadis itu kembali berteriak saat Pandu menggelitik tanpa ampun.
"Om! Ampun, Om! Aku udah lemes," teriak Rasya. Berusaha menghentikan tangan Pandu, tetapi percuma.
"Aku tidak akan berhenti sebelum aku puas dan melihatmu lemas tak berdaya," sahut Pandu.
"Tapi siniku sudah sakit, Om. Ampuni hamba, Paduka Raja." Rasya menangkup kedua tangan di depan dada. Pandu pun berhenti lalu mencium pipi Rasya dengan lembut.
"Om, Kak Arga ditelepon, sih! Lama banget. Aku keburu kedinginan. Om juga keenakan lihat body aku yang sexy seperti Mi ...."
"Jangan bilang seperti M*yabi!" tukas Pandu, dengan tatapan yang begitu menyelidik.
"Astaga, Om. Jangan samain aku dengan dia karena udah jelas aku pasti kalah." Rasya memeluk guling dengan erat.
"Lalu seperti apa?" tanya Pandu.
"Seperti ... seperti ...."
"Kelamaan!" hardik Pandu saking kesalnya. Rasya terkekeh melihat wajah kesal Pandu.
Pandu menghidupkan ponsel untuk menghubungi Arga, sedangkan Rasya juga kembali fokus pada layar ponselnya sendiri, melihat sosial media tentang berita pernikahannya dengan Pandu semalam. Rasya terkekeh saat melihat betapa bodoh dirinya yang justru pingsan hingga menggegerkan semua orang.
"Hallo, Ga! Kamu di mana? Kenapa lama sekali?" tanya Pandu setengah membentak. Bahkan Rasya sampai mengalihkan pandangan ke arah Pandu setelah mendengar lengkingan suara lelaki itu.
"Saya di depan kamar sejak sepuluh menit lalu, Tuan." Arga menjawab malas.
"Sepuluh menit? Kenapa tidak masuk? Aku dari tadi menunggumu, bahkan istriku sampai kedinginan," omel Pandu. Rasya mengusap paha Pandu sambil membisikkan kata sabar. Rasya tidak menyadari kalau gerakan tangannya itu justru bisa membuat adik kecil Pandu menjadi terbangun.
"Maaf, Tuan. Saya pikir Anda dan Nona Rasya sedang ber-anu ria karena saya mendengar teriakan Nona Rasya yang meminta ampun." Suara Arga terdengar begitu santai, sedangkan Pandu mengembuskan napas kasar.
__ADS_1