
Arga terlihat gelisah. Bahkan beberapa kali Arga tidak fokus pada pekerjaannya. Lelaki itu tidak menyahut saat Pandu memanggilnya hingga membuat Pandu menggeram kesal.
"Kamu kenapa, Ga?" tanya Pandu.
"Tidak papa, Tuan." Arga menjawab malas.
"Jangan berbohong padaku, Ga." Pandu menatap Arga penuh selidik.
"Tuan ...." Arga terdiam karena ragu-ragu. Dia menatap penuh kebimbangan ke arah Pandu. "Apakah Nona Rasya sedang hamil?" tanya Arga pada akhirnya. Dia tidak ingin mati penasaran karena dia belum pernah merasakan nikmatnya bercinta.
"Tidak. Maksudku belum. Memangnya kenapa?" Pandu makin menyelidik.
"Barusan waktu saya telepon nona muda, katanya beliau sedang mengantar Zahra di apotek membeli testpack," papar Arga.
Pandu sedikit terkejut. Namun, dia masih ingat kalau satu Minggu yang lalu mereka tidak melakukan adegan percintaan karena Rasya datang bulan meskipun hanya sehari.
"Tidak. Istriku baru datang bulan satu Minggu lalu," sahut Pandu.
"Mungkinkah Zahra yang hamil?" gumam Arga, tetapi masih bisa didengar oleh Pandu.
"Mana kutahu! Kamu tanya sendiri sama orangnya!" ucap Pandu ketus. "Lebih baik sekarang kamu kerjakan tugas kamu dengan baik karena aku ingin segera pulang, Ga."
"Baik, Tuan."
Arga menutup mulut rapat dan berusaha fokus pada pekerjaannya meski bayangan Zahra berkali-kali datang mengusik. Akan tetapi, di saat Arga mulai fokus pada layar komputer, terdengar beberapa kali Pandu memanggil.
"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Arga, berusaha meredam kekesalan.
"Ga, aku minta kamu jujur pada perasaanmu sendiri. Jangan sampai kamu menyesal karena terlambat menyadari," ucap Pandu.
Arga tidak menjawab, hanya menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan. Arga sadar, dia sering merasa gelisah saat bayangan Zahra datang. Namun, rasa sakit yang ditorehkan Gea seolah membekas di hati Arga hingga membuat lelaki itu merasa takut untuk kembali mengenal cinta.
"Kulihat hubungan Zahra dengan Yudha itu sangat dekat. Kamu tahu, Ga. Tidak ada hubungan yang murni kakak adik angkat. Itu menurutku."
Bukannya membuat tenang. Ucapan Pandu tersebut justru membuat Arga makin merasa gelisah. Tanpa Arga ketahui, sudut bibir Pandu tersungging setelah mengucapkan itu. Pandu memang sengaja ingin membuat hati Arga panas dan Arga bisa mengungkapkan perasaanya.
"Tuan, saya hanya ingin mengikuti arus percintaan yang memang sudah digariskan." Suara Arga terdengar lesu.
"Ya, dan aku berharap semoga kamu mendapat jodoh paling di antara yang terbaik, Ga," doa Pandu tulus.
__ADS_1
Arga hanya mengamini dan berusaha mengembalikan konsentrasinya pada layar komputer. Dia sudah merasa lelah dan ingin segera beristirahat.
***
Seusai memakan lutis dengan sangat lahap. Kini, Zahra sedang berdiri di depan pintu kamar mandi karena dirinya sedang menunggu Rasya yang sedang melakukan testpack. Meskipun, hanya menunggu, tetapi nyatanya Zahra merasa sangat gugup dan harap-harap cemas. Dalam hati Zahra berdoa semoga sahabatnya tersebut memang sedang mengandung keturunan Andaksa.
"Ra! Elu lama banget!" Zahra mengetuk pintu kamar mandi cukup kencang karena sudah tidak sabar.
"Bentar!" balas Rasya berteriak dari dalam. Zahra pun kembali bersabar menunggu.
Hampir sepuluh menit menunggu di depan pintu, Zahra mendengkus kasar saat melihat pintu terbuka dan Rasya keluar dengan wajah yang tidak bersalah sama sekali.
"Ra, sampai capek berdiri gue nungguin elu." Zahra bersidekap dan memasang wajah sebal.
"Lah, ngapain elu berdiri, Zae. Elu 'kan bisa duduk. Noh, ada sofa di sana." Rasya dengan santai menunjuk sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur ruang tamu.
Rasya memang tidak berada di kamar utama karena Zahra yang menolak masuk ke kamar milik Pandu. Zahra masih sayang nyawanya sendiri.
"Gimana hasilnya?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
"Enggak tahu."
"Kenapa enggak tahu? 'kan kelihatan, Ra." Entah mengapa, Zahra merasa sahabatnya saat ini menjadi begitu lemot.
Kening Zahra mengerut dalam saat melihat garis di sana. Satu garis tampak jelas, sedangkan satu garis lainnya tampak samar bahkan hampir tidak terlihat kalau tidak diamati dengan seksama.
"Kayaknya gue belum hamil, deh, Zae." Rasya duduk santai di sofa.
"Tapi kayaknya ini garisnya dua, Ra. Jadi, kemungkinan besar elu saat ini sedang bunting. Aduh!" Zahra mengusap kepala karena Rasya melempar sendal kepadanya.
"Elu kalau ngomong yang bener aja, Zae."
"Emang salah gue di mana?" Zahra menimpali ketus.
"Udahlah, mendingan sekarang kita tidur aja. Buang aja tuh testpack. Kalau gue hamil pasti gue udah muntah-muntah." Rasya bangkit berdiri dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ra, besok pagi elu coba lagi karena katanya kalau mau test yang akurat itu pagi hari waktu kita bangun tidur." Zahra menyusul tidur di samping Rasya.
Rasya tidak menanggapi. Dia hanya memejamkan mata karena merasa tubuhnya sangat lelah. Padahal seharian ini dia tidak melakukan pekerjaan berat. Zahra pun akhirnya menutup mulutnya rapat.
__ADS_1
Jam baru menunjuk pukul sembilan malam, tetapi Rasya terbangun dengan perut yang terasa sangat lapar. Ingin sekali Rasya memakan seblak di warung langganan, tapi Rasya yakin kalau warung tersebut sudah tutup. Rasya berusaha membangunkan Zahra meski sangat susah karena Zahra seperti kerbau saat sedang tidur.
"Apaan sih, Ra? Gue lagi mimpi enak-enak sama cowok cakep." Zahra mengigau. Rasya mendorong kening Zahra saking gemasnya dengan gadis itu.
"Gue laper, Zae. Pengen seblak." Rasya tidak gentar terus menggoyangkan tubuh Zahra hingga akhirnya Zahra benar-benar bangun.
"Elu mau apa?" tanya Zahra malas. Seharusnya saat ini dirinya sedang bahagia bercinta dengan pangeran tampan, tetapi Rasya dengan kejam membangunkan dirinya.
"Gue pengen seblak."
"Gila elu, Ra. Jam segini mana ada penjual seblak?" Zahra sewot.
Akan tetapi, Rasya justru turun dari tempat tidur dan menarik paksa tangan Zahra. Mengajak gadis itu untuk segera keluar dari kamar. Zahra merasa sangat malas, tetapi dia belum memiliki tenaga untuk melawan Rasya karena pikirannya masih berkelana dengan pria tampan tadi.
"Zae ... elu enggak bawa jaket ya? Gue ambilin dulu." Rasya hendak pergi, tetapi Zahra menahannya.
"Jangan tinggalin gue sendirian, Ra." Zahra merengek.
"Emang kenapa sih, Zae? Takut hantu? Yang ada hantunya yang takut sama elu, Zae." Rasya terkekeh saat melihat Zahra menghentakkan kaki.
"Gue enggak takut sama hantu, tapi gue lebih takut sama penjaga elu yang ada di mana-mana. Mereka seperti mau menel*njangi gue," bisik Zahra. Dia tidak mau salah satu pengawal yang berjaga itu mendengar.
"Dasar elu, tuh! Mendingan sekarang kita nyari seblak sebelum makin malem."
"Ra, elu seblak-seblak mulu. Jangan-jangan elu beneran hamil, Ra," tukas Zahra.
"Siapa yang hamil?"
Suara dari arah pintu mampu membuat tubuh Zahra dan Rasya menegang untuk beberapa saat.
•••
Seblak Mulu, Thor.
Jangan bosen ye, Othor lagi nungguin kiriman seblak ke rumah 😅😅
3 bab lagi tamat, guys
Ayo semangatin Othor
__ADS_1
Rekomendasi novel untukmu