Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
81


__ADS_3

"Kumala Rasya Putri!" Ucapan tegas Pandu mampu membuat Rasya dan ketiga sahabatnya menghentikan obrolan mereka.


Rasya menoleh dan tersenyum lebar saat melihat raut wajah suaminya yang tampak begitu kesal. Dengan bergegas Rasya mendekati Pandu lalu duduk di pangkuan lelaki itu. Tangan Rasya tidak ketinggalan melingkar di leher Pandu.


"Apa, Sayang?" tanya Rasya lembut. Bahkan, dia mengusap dagu Pandu hingga membuat lelaki itu salah tingkah. "Kamu merindukanku?"


"Kurap, jangan membuatku ingin menerkammu saat ini juga," ucap Pandu. Berusaha menahan gejolak yang perlahan naik.


"Emangnya kamu singa? Pakai terkam-menerkam segala." Rasya terkekeh, tetapi dia langsung terdiam saat Pandu mencium bibirnya secara spontan.


"Kamu harus menepati janjimu," ucap Pandu saat ciuman mereka baru saja terlepas.


"Kalau aku tidak mau?" Rasya mengerlingkan satu mata untuk menggoda Pandu.


"Maka aku akan menelanjangimu." Pandu dengan gemas mencium pipi Rasya hingga membuat mereka yang berada di ruangan itu menjadi begitu iri.


"Ingat, ada jomblo di sini."


"Jangan bikin ngiler."


"Jangan bikin jiwa kesepian kita meronta-ronta."

__ADS_1


Rasya menatap ketiga sahabatnya dengan tajam, tetapi ketiga gadis itu justru mendecakkan lidah.


"Makanya jangan jual mahal, jadi sampai sekarang enggak laku-laku 'kan?" Rasya meledek. Ingin sekali ketiga gadis itu maju dan menonyor kepala Rasya. Namun, saat melihat sorot mata Pandu yang menajam, nyali mereka menciut seketika.


Pekikan suara Rasya tiba-tiba terdengar saat Pandu bangkit berdiri tanpa menurunkannya. Makin erat Rasya melingkarkan tangannya di leher Pandu bahkan hampir saja mencekik lelaki itu.


"Kamu mau membunuhku?" tanya Pandu ketus.


"Enggak, Mas. Aku belum mau jadi janda," sahut Rasya. Pandu pun tanpa membuka suara segera membawa Rasya menuju ke apartemen mereka. Pandu akan menagih janji Rasya untuk memuaskannya di atas ranjang. Sebagai ganti kekurangajaran Zahra tadi.


"Gue yakin pasti Rasya bakalan digenjot habis-habisan sama si Om," ucap Zahra. Menatap pintu yang baru saja tertutup.


"Dia beneran praktek sesuai yang di bok*p-bok*p itu enggak ya?" Margaretha bergidik saat membayangkan adegan yang dulu seringkali mereka tonton bersama.


"Gue tahu otak elu lagi mesum." Zety mendengkus kasar.


"Gimana kalau kita dengerin si Kurap. Kita dengerin desah*n dia," cetus Zahra.


Zety dan Margaretha pun terdiam sesaat untuk memikirkan. Lalu mereka mengangguk menyetujui. Mereka pun bangkit berdiri dan hendak bersiap menuju ke apartemen Rasya.


"Ehem!"

__ADS_1


Baru saja selangkah, mereka harus berhenti saat mendengar suara deheman dari arah belakang. Mata ketiga gadis itu melebar saat melihat Arga sedang berdiri tegak dengan raut wajah yang tampak begitu datar.


"Gila! Bukannya Tuan Arga udah pergi?" Zahra menyenggol lengan Zety dan Margaretha sembari berbisik-bisik.


"Enggak tahu. Buktinya dia masih di sini berarti belum pergi 'kan?" timpal Margaretha santai.


"Gue juga tahu kalau itu. Cuman, gue pikir dia juga udah pergi."


"Ehem! Sudah selesai bisik-bisik kalian?" tanya Arga tegas.


"Tu-tuan. Maaf." Ketiga gadis itu menangkup tangan di depan dada lalu membungkuk hormat.


"Karena kalian sudah bersikap kurang ajar maka kalian bertiga akan mendapat hukuman." Arga menyeringai.


"Hu-hukuman?" teriak mereka bertiga kompak. Arga mengangguk dengan cepat.


"Kemarin Rasya salah dihukum anu-anu sama Tuan Pandu. Jangan-jangan kita bertiga bakal dihukum anu-anu juga sama Tuan Arga. Oh, tidak!" Zahra panik sendiri. Arga mendelik tidak percaya dengan ucapan gadis itu.


"Oe! Gobl*k! Pikiran elu jauh amat, Zae. Astaga!" Zety mencubit pinggang Zahra, sedangkan Margaretha menendang pantat sahabatnya saking kesalnya.


"Sakiittt," rengek Zahra.

__ADS_1


"Rasain!" ledek Zety dan Zahra bersamaan.


__ADS_2