
Rasya begitu terpukau saat masuk ke kamar milik Pandu yang luasnya hampir setara dengan kamar utama di rumah pribadi milik suaminya. Dengan cepat Rasya menghempaskan tubuhnya lalu mengepakkan tangan di atas tempat tidur. Pandu yang melihat apa yang dilakukan istrinya hanya tersenyum tipis.
"Om!" panggil Rasya.
"Apa?" tanya Pandu singkat.
"Kasur Om empuk banget, di rumah aku dulu cuma tidur pakai kasur kapuk doang, kalau di rumah kontrakan aku tidur pakai kasur busa buat berempat pula," celoteh Rasya.
Pandu yang mendengar itu, tiba-tiba merasa kasihan kepada gadis itu. Dia mendudukkan tubuhnya di samping Rasya yang masih saja tidur telentang.
"Aku mau nanya sama kamu boleh, Om?" Rasya terlihat begitu ragu. Dengan perlahan, Pandu ikut tidur di samping Rasya dengan menjadikan kedua lengan sebagai bantalan.
"Apa yang mau kamu tanyakan?" Pandu bertanya dengan lembut. Dalam hati kecilnya, dia tahu ke mana arah pembicaraan istrinya.
"Om, aku sebenarnya penasaran sama kisah cinta Om sama siapa yang disebut pria menyebalkan tadi. Am ... Am ...."
"Amira!" sela Pandu di saat Rasya masih sibuk mengingat-ingat.
__ADS_1
"Ah iya! Nona Amira. Ceritain dikit dong, Om. Biar aku enggak penasaran." Rasya tidur menyamping. Matanya menatap Pandu yang justru sedang membisu saat ini. Namun, helaan napas panjang terdengar jelas dari mulut lelaki itu.
"Dia kekasih aku satu-satunya." Suara Pandu terdengar berat dan Rasya tahu kalau lelaki itu sedang menahan sesuatu yang mungkin menyesakkan dadanya.
"Dia gadis yang sangat ceria, murah senyum, dan bisa membuatku jatuh cinta. Hubungan kita berjalan cukup lama waktu itu. Hampir dua tahun."
"Lama sekali," gumam Rasya lirih. Pandu tidak menyahut, hanya tersenyum tipis saat mendengarnya.
"Cukup lama. Bahkan kita sudah berencana untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Ke jenjang pernikahan, tetapi takdir berkata lain." Pandu terdiam untuk menghirup napas dalam-dalam. "Dia kritis setelah mengalami kecelakaan bersama Gea dan meninggal tiga hari setelahnya."
"Maafkan aku, Om. Udah buat Om harus mengingat luka lama. Pasti rasanya sangat sakit." Rasya merasa tidak enak hati. Bibir Pandu terlihat makin tertarik membetuk senyuman lebar, tetapi tidak ada yang tahu isi hati Pandu kecuali Tuhan dan sang pemilik hati itu sendiri.
"Tentu saja. Bahkan aku merasa hidupku seperti mati, dan aku bertekad untuk tidak mengenal cinta." Suara Pandu terdengar tegas.
"Tapi Om kenapa main wanita bahkan sampai tidur saling bertelanjang?" Rasya terlihat begitu penasaran.
"Karena aku tidak akan jatuh cinta lagi, dan bagiku wanita adalah sebuah mainan saja." Mendengar ucapan Pandu, tangan Rasya terkepal erat, tetapi dia mencoba tetap bersikap tenang.
__ADS_1
"Jahat sekali kamu, Om. Cewek itu punya perasaan, tapi malah kamu samakan dengan boneka." Rasya berusaha keras menahan agar emosinya tidak meluap.
"Itulah salahnya aku, tapi sekarang aku merasa lain. Aku sepertinya sudah mulai jatuh cinta dengan seseorang."
"Siapa, Om?" sela Rasya penasaran.
"Ya, pokoknya ada. Kehadiran dia benar-benar bisa mengubah hidupku. Semua hal buruk yang aku lakukan kini sudah kutinggalkan. Mungkin dua minggu lagi aku akan buat kejutan untuknya," ucap Pandu lirih.
Rasya terdiam, merasakan darah di tubuhnya berdesir hebat. Siapa wanita itu? Kalau aku tidak mungkin. Hubungan aku dan Om Panu tidaklah sedekat itu. Mungkinkah wanita itu Gea?
"Kamu tahu, setiap kali aku dekat dengan dia, jantungku berdebar kencang, dan hatiku yang telah lama mati, merasa hangat kembali seperti saat ada Amira di sampingku. Aku masih ingin memastikan perasaanku dulu. Setelahnya, mungkin aku akan menjadikan wanita itu sebagai pemilik tahta tertinggi di hatiku."
Pandu berbicara seolah tanpa beban. Bahkan dia sama sekali tidak kasihan pada Rasya yang saat ini raut wajahnya sudah sangat berbeda.
"Dan saat Om udah yakin sama perasaan Om kepada wanita itu. Maukah Om menceraikanku?" pinta Rasya lirih. Pandu berbalik dan menatap Rasya yang juga sedang menatapnya. Tatapan mereka bertemu, dan dua manusia itu saling diam untuk sesaat.
"Kenapa kamu mudah sekali mengatakan perceraian?" Pandu bertanya dengan kesal, tetapi Rasya justru menghela napas panjangnya.
__ADS_1