
Setelah tragedi memalukan tersebut, rasanya Zahra sudah tidak lagi memiliki muka. Ingin rasanya dia menenggelamkan diri di dasar laut, atau bersembunyi di lubang apa pun. Lubang buaya, lubang semut ataupun lubang-lubang yang lain. Apalagi saat Zety dan Margaretha terus saja mengomel dan senyum Arga yang tidak memudar sama sekali.
"Udah, stop! Kalian bisa diem enggak?" suruh Zahra dengan kesal.
"Lagian elu, Zae. Sumpah gue malu banget punya temen kaya elu. Segala kaos kaki bolong elu bawa sampai ke Amerika. Astaga, Zae ... gue spechless." Zety menggeleng tidak percaya.
"Kaos kaki gue yang enggak bolong belum ada yang kering. Lagian kalian tahu kalau gue belum gajian," timpal Zahra membela diri.
"Zae! Harga kaos kaki sama seblak aja sama, masa iya elu bisa makan seblak, tapi enggak bisa beli kaos kaki. Elu kere apa miskin?" hina Margaretha.
"Astaghfirullah, Ya Allah. Sabarkanlah hatiku hidup berdampingan dengan makhluk jelmaan iblis. Astaga!" Tubuh Zahra terhuyung karena Zety sudah menonyornya dengan cukup kencang.
"Bisakah kalian diam?" suruh Arga dengan sedikit ketus. Ketiga gadis itu pun akhirnya menutup rapat mulut mereka dan menikmati perjalanan menuju ke apartemen. Suasana di mobil pun menjadi senyap.
__ADS_1
***
Begitu sampai di apartemen, mereka bergegas menuju ke lantai tiga puluh di mana unit apartemen ketiga gadis tersebut berada. Zahra berjalan dengan dipapah oleh Zety dan Margaretha. Namun, karena begitu tidak sabar akhirnya Arga menggendong Zahra di punggung. Awalnya Zahra menolak keras, tetapi saat melihat sorot mata Arga yang seolah hendak melahap habis dirinya membuat Zahra mau tidak mau harus bersedia menerima.
Yang lebih menghebohkan lagi, baru saja membuka pintu apartemen, ternyata Rasya dan Pandu sudah berada di dalam sana. Merasa begitu malu, Zahra pun meronta meminta turun dari gendongan. Namun, Arga seolah tidak peduli dan baru menurunkan gadis tersebut di atas sofa.
"Elu enggak papa, Zae?" tanya Rasya khawatir.
"Enggak papa, Ra. Udah mendingan." Zahra menjawab santai. Rasya pun berjongkok di depan Zahra untuk melihat kaki sahabatnya yang memang membengkak.
"Malu kenapa? CD kamu kelihatan lagi?" tanya Rasya yang justru mengundang gelak tawa.
"Kurap! Jangan bongkar aib gue!" omel Zahra, tetapi Rasya tidak takut sama sekali.
__ADS_1
"Enggak papa, Zae. Lumayan bisa buat cerita anak cucu kelak," ledek Rasya.
"Cerita apa? Cerita memalukan? Sumpah!" Zahra mengembuskan napas secara kasar untuk mengurangi kekesalan di hatinya.
"Emang memalukan apalagi? Astaga, Zae! Kenapa elu selalu saja memalukan?" Rasya menggeleng tidak percaya.
Zety pun akhirnya menceritakan semuanya, tidak peduli pada Zahra yang sedang berusaha membekap mulut Zety. Ketika Zety selesai berbicara, tawa Rasya meledak bahkan berkali-kali dia meledek Zahra yang saat ini sudah bersidekap dengan memasang wajah marah.
"Diamlah!" suruh Pandu, tetapi Rasya masih saja tertawa. "Kamu tidak kasihan dengan temanmu?" Pandu menggeleng tidak percaya.
"Sumpah, Zae. Elu bikin gue malu." Gantian Rasya yang menggeleng karena tingkah sahabatnya.
"Jangan berisik, Ra! Gue udah malu jangan bikin tambah malu." Saking kesalnya, Zahra sampai melepas sepatu lalu melempar ke arah Rasya.
__ADS_1
Pandu yang melihat itu segera berdiri di depan Rasya untuk menghalangi. Zahra mendelik saat sepatunya justru berhasil mendarat bebas di punggung Pandu. Zety dan Margaretha melongo tidak percaya, sedangkan Arga sudah tampak marah.
"Astaga, bisa mati gue!" Zahra menutup wajah karena begitu takut.