
Zety, Zahra, dan Margaretha hanya diam saat Arga duduk di sofa dengan gaya gagah. Kaki saling bertumpu juga tangan bersidekap. Tatapan Arga ke arah mereka bertiga tidak terlepas sama sekali. Dari ketiga gadis itu tidak ada yang berani mengangkat kepala.
"Setelah ini kalian harus menerima hukuman." Suara Arga terdengar begitu tegas.
"Jangan terlalu berat menghukum kita, Tuan."
"Kasihanilah kita yang cantik, imut, dan menggemaskan ini."
"Dan juga sangat percaya diri."
Arga menggeleng, mendengar mereka yang berbicara sambung-menyambung seperti itu. Sungguh luar biasa jika harus berhadapan dengan tiga gadis aneh—ralat— empat termasuk Rasya yang saat ini sudah bukan gadis lagi.
Di saat Arga sedang memijat pelipis untuk mengurangi pusing yang begitu mendera, terdengar bel apartemen yang berbunyi. Arga pun menyuruh Zety untuk membuka pintu apartemen. Beberapa saat kemudian, Zety kembali masuk dengan seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan.
"Ini pesanan Anda, Tuan." Wanita itu membungkuk hormat.
"Taruh di meja saja," balas Arga. Wanita itu pun segera meletakkan makanan juga minuman yang dibawanya tadi ke atas meja.
Sementara ketiga gadis itu hanya plonga-plongo karena tidak paham apa yang kedua orang itu bicarakan. Zahra menyenggol lengan Zety dan Margaretha bergantian.
"Kalian paham apa yang mereka bicarakan?" bisik Zahra.
"Mana gue tahu. Waktu pelajaran bahasa Inggris gue sering bolos." Zety menyahut, juga dengan setengah berbisik.
"Intinya taruh makanan di meja." Margaretha menjawab santai.
"Weh, ternyata elu bisa bahasa Inggris, Mar. Kenapa enggak bilang," ucap Zahra bangga.
"Enggak. Gue cuma ambil kesimpulan dari yang wanita itu lakuin." Margaretha masih menjawab santai. Zahra dan Zety hanya memutar bola mata malas.
"Bisakah kalian diam!" suruh Arga karena sedari tadi merasa terganggu dengan mereka.
Setelah mereka bertiga diam, Arga menyuruh pelayan tersebut untuk segera pergi. Kemudian, dia beralih menyuruh ketiga gadis itu untuk duduk dan menikmati makanan di meja sebagai hukuman. Bukannya memelas, mereka bertiga justru sangat antusias. Bahkan saling berebut.
__ADS_1
"Astaga, kalian seperti orang yang tidak pernah makan," cibir Arga. Menggeleng tidak percaya melihat ketiga gadis itu.
"Kita lapar, Tuan. Belum makan dari siang," jawab Zety di sela kunyahannya.
"Kenapa kalian tidak makan?" tanya Arga heran.
"Kita tidak tahu cara memesan makanan di sini. Semua pakai bahasa Inggris," sahut Zahra.
"Kita juga enggak punya uang dolar." Margaretha menambahkan.
"Astaga, kenapa aku sampai lupa hal itu." Arga menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Di saat mereka sedang asyik menikmati makanan, tiba-tiba Zahra menghentikan kunyahannya saat merasakan tubuhnya mulai merasa tidak nyaman. Zety dan Margaretha juga Arga yang melihat itu pun menjadi terheran-heran.
"Elu kenapa, Zae?" tanya Zety khawatir saat melihat Zahra mulai menggaruk tubuhnya.
"Alergiku kumat." Zahra merengek sembari terus menggaruk. Yang lain pun begitu terkejut saat melihat tubuh Zahra yang mulai memerah. Bahkan, Arga terlihat sangat khawatir.
"Memang kamu alergi apa?" tanya Arga. Raut wajahnya begitu penuh kecemasan.
"Apa kamu sangat bodoh! Kenapa kamu tidak bilang! Dan justru makan ini begitu saja!" Arga membentak saking cemasnya.
Tanpa berbicara, Arga membopong Zahra ke kamarnya lalu dia menghubungi Gilang untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Andaksa yang selalu sedia di sana. Setelah mematikan panggilan itu, Arga terus menatap Zahra yang masih saja menggaruk.
"Masih gatel banget, Zae?" tanya Zety yang juga khawatir. Namun, Zahra tidak menjawab, dan terus saja menggaruk tubuhnya yang rasa gatalnya mulai tidak terkendali.
"Biar aku carikan jeruk nipis, madu, atau jahe. Sebentar." Margaretha hendak keluar kamar, tetapi tiba-tiba dokter masuk bersama dengan Gilang. Dokter itu pun segera memeriksa Zahra.
"Are you okay?" tanya dokter pribadi yang bernama Hans tersebut.
"Yes." Zahra menjawab asal.
"Kamu yakin baik-baik saja? Atau kamu tidak tahu Dokter Hans bertanya apa?" Arga menatap Zahra dengan curiga.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Tuan." Zahra menjawab malu-malu. Arga menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan cepat.
"Dia bertanya apa kamu baik-baik saja?" Arga pun menerjemahkan.
"No, Sir. My body is not delicious."
Arga tersedak ludahnya sendiri mendengar Zahra yang berbicara menggunakan bahasa Inggris. "Kamu bicara apa?"
"Ish! Bukankah Anda bisa berbahasa Inggris dengan fasih? Jangan bilang Anda tidak tahu artinya." Zahra memajukan bibir karena merasa sedikit kesal.
"Memang apa artinya?" tanya Gilang yang sedari tadi hanya diam.
"Aku tidak enak badan," sahut Zahra diiringi tepuk tangan yang begitu meriah dari kedua sahabatnya.
"Elu luar biasa, Zae. Ternyata elu bisa bahasa Inggris."
"Sangat membanggakan." Margaretha menepuk bahu Zahra tanda bangga.
Sementara tiga pria yang berada di sana hanya menggeleng sembari berusaha menahan tawa. Entah menertawakan kebodohan atau kelucuan mereka.
Ya Tuhan, semoga kelak aku mendapat istri yang tidak seperti mereka. Bisa-bisa aku mati muda karena harus banyak stok sabar.
Enggak Othor Aminin, Ga 😂😂
•••
Ciee yang nungguin bab selanjutnya.
Maaf agak telat dikit yaa
hayuk dong, doain Othor khilaf biar bisa crazy up 🙈
Jangan lupa dukungan kalian selalu Othor tunggu ya guys
__ADS_1
Salam sayang dari mahluk Tuhan paling Anu ,😘😘