
Bukannya menolong, Rasya justru terpingkal-pingkal bahkan dia sampai memegangi perutnya yang terasa kram. Zahra yang melihat itu pun menjadi sangat geram dan berkali-kali mengumpati sahabat yang menurutnya lakn*t tersebut.
"Oe! Bantuin gue bukan malah ketawa kaya orang sin*ting!" umpat Zahra saking kesalnya. Namun, Rasya tetap saja tidak menghentikan tawanya meski air mata mulai keluar.
"Tuan! Bisakah Anda pergi!" usir Zahra.
Arga tidak membuka suara, dan lebih memilih pergi dari sana dan berdiri di belakang Pandu yang posisinya cukup jauh dari dua wanita itu. Meski diam, tetapi dalam hati Arga tertawa dengan kecerobohan Zahra yang bahkan seringkali mengejutkan dirinya.
"Kurap! Bantuin gue! Kalau enggak gue sumpahin elu—"
"Mau sumpahin apa? Nikah sama laki tajir? Udah. Nikah sama CEO? Udah," sela Rasya sembari tersenyum meledek.
"Gue sumpahin elu bulan depan hamil!" seru Zahra. "Elu mau anak cewek apa cowok?" tanyanya polos.
"Kalau boleh minta sih, cowok dulu yang cakep, putih, ganteng. Idaman emak-emak." Rasya membayangkan memiliki anak yang begitu lucu.
"Gue sumpahin bulan depan elu hamil anak cowok yang sesuai kriteria yang elu sebutin tadi!" ujar Zahra.
"Tapi tunggu dulu, Zae. Gue belum mau hamil. Masih terlalu kecil. Gue pengen hamil dua tahun lagi," ucap Rasya santai.
Rasya tidak menyadari kalau ucapannya tersebut bisa memantik api amarah dalam diri Pandu. Lelaki itu berjalan mendekati Rasya lalu menjewer telinga Rasya dengan kencang.
"Aduh! Sakit, Mas!" Rasya berusaha melepaskan tangan Pandu karena telinganya sudah memanas.
"Makanya kalau bicara yang benar saja. Memangnya kamu tidak ingin segera memiliki anak yang lucu-lucu?" protes Pandu. Melepaskan jeweran tersebut saat melihat Rasya yang hendak menangis.
"Ya, pengen, Mas. Tapi aku takut." Wajah Rasya tampak begitu memelas. Dia mengusap telinga yang sudah sangat merah.
"Kenapa mesti takut? Ada aku di sampingmu yang akan selalu menemani." Pandu menangkup wajah Rasya dan mencium bibir Rasya dengan sangat lembut.
"Kejam elu, Ra! Mesraan di atas penderitaan sahabat elu sendiri," cibir Zahra.
Rasya melepaskan tangan Pandu dan segera membantu Zahra bangkit berdiri. Tawa Rasya kembali terdengar saat tanpa sengaja melihat CD Zahra yang berwarna ungu. Menyadari itu, Zahra menonyor kepala Rasya saking jengkelnya. Bahkan, Zahra tidak peduli pada tatapan Pandu yang sudah sangat tajam.
"Jangan ketawa mulu, sih, Ra! Bikin gue pengen makan elu aja!" Zahra mendengkus kasar.
__ADS_1
"Lagian elu ada-ada aja, Zae. Bisa enggak sekali aja elu jangan bikin malu diri elu sendiri?" timpal Rasya setengah meledek.
"Diem! Gue tuh heran, kenapa tiap deket sama asisten laki elu, gue pasti sial mulu," gerutu Zahra. Namun, dia segera berlari masuk ke rumah saat menyadari Arga sudah menatapnya marah. Sementara Rasya kembali tergelak melihat sahabatnya lari tunggang-langgang.
***
Setelah acara memalukan itu, kini mereka berempat sudah berada di restoran dan memesan makan siang. Bahkan, selama makan, Pandu dan Rasya terlihat begitu mesra. Beberapa kali Rasya menyuapi Pandu hingga hampir habis setengah piring.
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Pandu. Menatap piring miliknya yang isinya masih utuh karena Rasya sedari tadi terus menyuapi.
"Aku udah kenyang." Rasya menjawab santai.
"Lalu? Kenapa kamu bilang masih pengen makan?" Pandu mulai ketus.
"Aku cuma pengen nemenin kamu makan." Rasya menjawab lugas, tetapi mampu membuat Pandu terdiam sesaat.
"Bisakah kamu sekali saja tidak membuatku gemas?" Pandu mencium pipi Rasya.
"Tuan ... kasihanilah kami para jomblo." Arga mencebik kesal.
Tiba-tiba ponsel Zahra berdering. Dengan segera dia mengambil ponsel tersebut dari tas selempang kecil. Kening Zahra mengerut saat melihat siapa yang sedang menghubunginya saat ini. Zahra pun berpamitan untuk ke toilet. Dia bahkan tidak menjawab saat Rasya bertanya siapa yang menghubungi.
Langkah Zahra ke toilet begitu cepat. Rasya pun menjadi curiga. Diam-diam dia mengikut di belakang Zahra.
Ketika sampai di toilet, Zahra menengok ke belakang terlebih dahulu sebelum ada yang tahu. Rasya yang bersembunyi di balik tembok pun, mengembuskan napas lega saat Zahra tidak memergokinya.
"Hallo, Bu. Ada apa?" tanya Zahra setelah menerima panggilan tersebut. "Apa! Rosita masuk rumah sakit!"
Rasya terdiam saat mendengar itu. Setahu Rasya, Rosita adalah anak yatim piatu yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya saat berusia dua tahun karena kecelakaan. Lalu diasuh oleh Bu Henny—ibu asuh Zahra di panti asuhan.
"Baiklah. Setelah ini Zahra ke panti."
Zahra pun mematikan panggilan tersebut. Dia menatap layar ponsel yang masih menyala. Wajah Zahra mendadak pias. Dirinya belum menerima gaji, sedangkan panti bulan ini belum mendapat bantuan dari donatur karena sedang memiliki masalah. Zahra menghela napas panjang dan mengembuskan berkali-kali. Dia berharap akan ada jalan setelah ini.
Zahra berbalik untuk kembali. Namun, tubuhnya menegang saat melihat Rasya sedang berdiri menatap ke arahnya dengan penuh selidik. Zahra mendadak gugup, meski Rasya sudah tahu semua tentang kehidupannya.
__ADS_1
"Elu butuh bantuan?" tanya Rasya. Namun, Zahra menggeleng dengan cepat.
"Tidak, Ra. Terima kasih. Gue masih punya uang simpanan," kilah Zahra. Gadis itu lupa kalau Rasya bukanlah sahabatnya yang baru berteman dari kemarin sore saja.
"Zae, gue masih punya uang simpanan empat juta waktu gue jual emas buat pengobatan bapak. Waktu itu Om Panu yang bayarin jadi uang gue masih utuh. Kalau elu mau, habis ini kita ke ATM biar gue ambilin."
"Ra—"
"Enggak usah elu balikin. Gue ikhlas," sela Rasya, dia seolah paham dengan apa yang akan dikatakan oleh Zahra.
"Tapi, Ra—"
"Zae, elu sahabat gue. Kita ini Bestie. Susah-seneng kita sama-sama. Gue bakal bahagia kalau elu mau Nerima uang gue, itu artinya elu ngehargai gue sebagai sahabat elu. Jangan lupa, Zae. Gue sekarang punya laki tajir, jadi soal duit gue enggak akan bingung." Ucapan Rasya diiringi kekehan di belakang.
Zahra menghambur dan memeluk Rasya dengan erat. Bahkan air mata Zahra tidak mampu dibendung lagi. Rasya pun membalas pelukan Zahra tidak kalah erat.
"Makasih, Ra. Elu selalu baik sama gue."
"Gue emang selalu baik sama elu, Zae. Cuman elu aja yang kadang kagak nyadar," ucap Rasya ceplas-ceplos. Zahra dengan gemas mencubit pinggang Rasya hingga wanita itu merintih.
"Sakit, Zae." Rasya melepas pelukannya lalu tergelak.
"Elu kenapa selalu ngeselin, Ra!" Zahra mengusap wajahnya yang sudah penuh jejak air mata.
Rasya pun merangkul pundak Zahra dan mengajak pergi dari sana. Namun, tubuh mereka saat melihat Pandu berdiri tidak jauh dari mereka bersama dengan Arga. Yang membuat jantung Rasya terdiam adalah Pandu menatapnya dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Mas—"
"Bisakah kamu menganggapku sebagai suamimu?" sarkas Pandu.
•••
selamat pagi gaesss
Othor mau ngasih info nih, Hayukkk semangatin Othor karena sebentar lagi kisah Kurap dan Pandu bakal tamat.
__ADS_1
Yahhh, Thorr kok gitu 😅😅😅