
"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Rasya tidak percaya.
"Memangnya kenapa? Yang kutahu ini tempat umum dan siapa pun bebas berada di sini," sahut Gilang, bibirnya tersenyum miring.
"Aku tahu itu. Sekarang pergilah!" usir Rasya. Bukannya pergi, tetapi Gilang justru duduk santai di samping Zety.
"Kalian saling kenal?" tanya Zety.
"Tidak!"
"Tidak!"
Rasya dan Gilang menjawab bersamaan. Zety mengerutkan keningnya, sedangkan Zahra justru terkekeh.
"Suketi! Gue mau balik aja. Ternyata elu bohong sama gue!" Rasya tampak marah, tetapi Zety justru tergelak keras.
"Gue enggak pernah bohong, Ra. Suer, deh." Zety menunjukkan dua jarinya.
"Terus? Elu bilang tabrakan, tapi nyatanya?" sewot Rasya.
"Gue emang tabrakan, Ra. Tapi tabrakan sama cowok cakep," jawab Zety santai. Mendengar itu, Rasya makin terlihat kesal dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Terus ngapain elu nyuruh gue ke sini? Beg*!" umpat Rasya saking kesalnya.
"Biar elu tahu ada cowok cakep di sini." Alis Zety naik-turun dengan bibir tersenyum menggoda.
"Ehem! Sepertinya kamu sudah baik-baik saja. Jadi, lebih baik aku pergi dulu." Gilang bangkit berdiri dan berlalu pergi tanpa peduli pada teriakan Zety dan Zahra.
Selepas kepergian Gilang, gelakan tawa Rasya terdengar menggelegar bahkan mengalihkan beberapa orang yang berada di sekitar sana. Zety menonyor kepala Rasya untuk menghentikan tawa gadis itu.
"Diem!" bentak Zety penuh amarah. Namun, Rasya justru kembali tergelak.
"Gara-gara elu, cowok cakep tadi jadi pergi 'kan, Ra!" pekik Zety saking kesalnya. Namun, Rasya justru dengan santai menengguk habis minuman Zety sampai tandas.
"Apa, Sayang." Rasya berseloroh diiringi gelakan tawa.
"Kenapa kamu selalu saja menyebalkan?" Zety melipat tangan di depan dada, tetapi Rasya justru mengusap wajah kesal sahabatnya untuk menurunkan emosi gadis itu. Setelahnya, mereka pun asyik mengobrol sampai Rasya lupa waktu. Bahkan dia tidak tahu kalau Pandu sudah menghubunginya berkali-kali karena ponselnya dalam mode silent.
***
Mobil Arga berhenti di depan rumah kontrakan Rasya karena sampai jam pulang kantor, gadis itu tidak kembali sama sekali. Setelah mobil benar-benar berhenti, Pandu segera turun dan berjalan lebar menuju ke rumah tersebut. Namun, langkah Pandu terhenti secara mendadak saat sebuah jambu jatuh dan tepat mengenai kepalanya.
Pandu mengusap kepala yang terasa sedikit sakit. Kemudian, dia mendongak ke arah pohon jambu itu. Namun, bola mata Pandu melebar saat melihat Rasya sedang duduk santai di sebuah batang pohon dan mulutnya sibuk mengunyah buah jambu tanpa dikupas ataupun dicuci.
__ADS_1
"Sedang apa kamu disitu?" tanya Pandu setengah membentak.
"Lagi berak, Om." Rasya menjawab asal, dan sibuk menggigit jambu yang tinggal separo.
"Turun!" perintah Pandu, tetapi Rasya masih saja duduk santai. "Apa telingamu tidak bisa mendengar dengan baik?" tanya Pandu ketus.
"Bentar, Om. Nanggung." Rasya memakan jambu itu dengan cepat. Setelah jambu di tangan habis, Rasya segera turun. Arga yang melihat pipi Rasya yang menggelembung karena penuh dengan jambu hanya tersenyum lebar. Bahkan terlihat sekali gadis itu kesusahan mengunyahnya.
Begitu sampai di bawah, Rasya memunguti jambu yang tercecer dan membungkusnya dengan kaos bagian bawah yang saat ini dikenakannya. Pandu menggeleng tidak percaya saat melihat tingkah istrinya yang begitu aneh.
"Masuk, Om." Suara Rasya tidak begitu jelas karena masih penuh jambu yang dia kunyah secara perlahan.
"Kamu seperti monyet!" hina Pandu. Rasya hanya melirik sekilas lalu melangkah masuk tanpa peduli pada lelaki yang sedang tersenyum meledek padanya.
Namun, tiba-tiba Rasya berlari kencang masuk ke rumah, bahkan buah jambu dia biarkan berserakan di lantai begitu saja. Pandu pun merasa khawatir dan segera mengejarnya. Dia melihat Rasya memuntahkan jambu yang barusan di kunyah lalu berkumur dengan cepat. Pandu melangkah mendekat, sedangkan Arga yang juga merasa khawatir, ikut mendekat.
"Kamu kenapa?" tanya Pandu cemas.
"Om." Suara Rasya begitu pelan. Namun, saat dia berdiri tegak dan menghadap Pandu, awalnya lelaki itu terkejut, tetapi sesaat kemudian mereka terbahak melihat bibir Rasya yang sudah membengkak. Mendengar tawa mereka, dengan kesal Rasya memukul dada bidang suaminya. Bukannya berhenti, gelakan tawa Pandu justru makin terdengar keras.
"Diamlah, Om! Aku benci kamu!"
__ADS_1