Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
44


__ADS_3

Perusahaan Andaksa.


Pandu sedari tadi hanya duduk sembari memijat kepalanya yang terasa pusing. Bayangan nanti malam saat Rasya sedang dinner bersama Gatra begitu mengusik pikirannya. Padahal itu belum terjadi, tetapi Pandu sudah merasa cemas terlebih dahulu. Ada rasa khawatir yang menelusup masuk, takut Gatra akan menyatakan cinta pada istrinya dan Rasya akan menerima.


"Tuan, kenapa Anda melamun?" Suara Arga yang sedikit tinggi berhasil menyadarkan Pandu.


"Aku tidak melamun, Ga!" bantah Pandu.


Arga menghela napas panjangnya, "Tuan, saya menemani Anda bukan dari kemarin sore. Hal apa yang sedang mengganggu pikiran Anda?"


Pandu tidak langsung menjawab, keraguan tampak terlihat jelas memenuhi seluruh wajahnya. "Aku udah memberi izin kepada Rasya untuk makam malam sama Gatra, tapi kenapa aku merasa sangat cemas, Ga." Pandu akhirnya menjawab jujur. Lagi pula, Arga adalah orang yang sangat dia percaya.


"Tuan, belajarlah memahami hati sendiri. Jujurlah pada hati Tuan sebelum penyesalan datang," ucap Arga. Pandu menatap Arga dengan begitu lekat.


"Maksud kamu?" tanya Pandu belum paham.


"Tuan, apa Anda masih mencintai Nona Amira?" Arga balik bertanya.


"Tentu saja. Hanya dia wanita pemilik hatiku seutuhnya." Pandu menjawab cepat.


"Apa Anda mencintai Nona Rasya?" tanya Arga lagi. Kali ini, bibir Pandu justru bungkam. Tidak menjawab iya atau tidak. Jika dulu Pandu bisa dengan cepat dan tegas menjawab tidak, tetapi sekarang lelaki itu hanya terlihat bingung dan bimbang.


"Tuan, kenapa tidak menjawab?" Arga mendesak, dan bibirnya tersenyum tipis saat melihat Pandu yang masih bimbang.

__ADS_1


"Aku tidak tahu!" jawab Pandu pada akhirnya. "Tapi, Ga ...." Pandu kembali terdiam sampai cukup lama.


"Tapi apa, Tuan?" Arga tidak sabar sendiri.


"Aku sepertinya mulai jatuh cinta dengan gadis perusuh itu." Suara Pandu begitu lirih, tapi Arga masih bisa mendengarnya dengan baik.


"Segera yakinkan perasaan Anda, Tuan. Sebelum penyesalan datang." Arga menasehati.


"Dua minggu, Ga. Dua minggu lagi aku akan memberi kejutan padanya. Aku ingin pernikahan kita sah di mata negara."


"Kenapa harus menunggu dua minggu, Tuan?" sela Arga begitu saja. Pandu terdiam sesaat.


"Karena aku akan memastikan perasaanku terlebih dahulu." Pandu menghirup napas dalam-dalam. Hatinya begitu bimbang dan tak karuan rasanya.


"Tuan, seorang wanita itu butuh kepastian. Lebih baik Anda percepat saja," saran Arga. Pandu memijat pelipisnya saat rasa pusing makin mendera.


"Saya yakin Nona Rasya meminta nikah siri karena dia memiliki alasan tertentu. Mungkin dia hanya meminimalisir supaya saat kalian tidak bisa saling mencintai, dia bisa pergi dengan bebas." Ucapan Arga makin membuat Pandu merasa begitu bimbang.


"Tuan, mantapkanlah hatimu segera. Jangan sampai Anda kehilangan cinta untuk kedua kalinya," ucap Arga pelan.


Cukup lama Pandu hanya diam menimang-nimang segala kemungkinan baik maupun buruknya. Pandu menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan dengan perlahan.


"Ga, siapkan pesta pernikahan megah malam minggu besok."

__ADS_1


Arga terperangah mendengar perintah Pandu. Bahkan dia menatap Pandu dengan sangat lekat untuk memastikan pendengarannya tidaklah salah. Namun, melihat bibir Pandu yang tersenyum lebar, Arga pun akhirnya percaya.


"Anda sudah yakin, Tuan?" tanya Arga kembali memastikan.


"Ya, aku tidak akan bermain-main lagi. Selama ini aku berusaha melupakan bayangan Amira, tapi sangat sulit dan hanya gadis perusuh itu yang mampu membuatku perlahan lupa dengan sosok Amira."


"Sepertinya bukan lupa, Tuan, tapi karena Nona Amira dan Nona Rasya memiliki kepribadian yang hampir sama." Pandu mengangguk menanggapi ucapan Arga. "Tapi bagaimana dengan Nona Gea, Tuan?"


"Biarkan saja. Aku yakin dia tidak akan rusuh. Kalau sampai berani rusuh maka aku akan mengantarnya kembali pulang ke Amerika." Pandu berkata dengan yakin. Arga hanya mengiyakan saja.


Arga pun berusaha kembali fokus pada pekerjaannya, tetapi Pandu tiba-tiba memanggil berkali-kali hingga Arga merasa begitu jengah rasanya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Arga berusaha menahan kekesalannya.


"Nanti malam diam-diam kita ikuti gadis perusuh itu kencan," ucap Pandu. Arga melongo mendengarnya. Namun, sesaat kemudian Arga mendengkus kasar.


"Bilang saja kalau sudah cinta, gengsimu setinggi langit," gumam Arga lirih.


"Kamu bilang apa, Ga?" tanya Pandu, suaranya meninggi.


"Tidak apa, Tuan. Komputer ini tadi sedikit eror." Arga memberi alasan.


"Gunakan dulu, kalau masih eror biar nanti diperbaiki," kata Pandu. Arga yang mendengar itu pun berusaha menahan tawa.

__ADS_1


Bukan komputer yang eror, tapi Anda yang eror, Tuan. Kalau kisah Tuan Pandu dijadiin sinetron, judul yang pas adalah Cintaku kepentok gengsi.


Arga terkekeh sendiri, dia tidak peduli meski Pandu meledek gila padanya.


__ADS_2