
Mereka akhirnya tiba di bandara dan langsung dijemput oleh keluarga Pandu maupun Rasya. Tanpa malu Rasya langsung memeluk Paijo dan Marlina. Bahkan, Paijo terlihat berkali-kali mencium puncak kepala Rasya dengan penuh kasih sayang. Setelah Rasya selesai berpelukan, giliran Pandu yang mencium tangan mertuanya, sedangkan Rasya beralih berpelukan dengan Lisa.
"Bagaimana dengan bulan madu kalian?" tanya Lisa tidak sabar.
"Begitulah, Mom." Rasya menjawab antusias, membuat semua menjadi bahagia. Mereka juga berharap semoga lekas hadir cucu di keluarga Andaksa maupun Paijo.
Setelah semua bersalaman, mereka segera keluar dari area bandara dan mencari restoran karena memang sudah waktunya makan siang. Tidak henti-hentinya ketiga sahabat Rasya berceloteh dengan Marlina, dan ditanggapi dengan penuh semangat oleh wanita itu. Bagi Marlina, ketiga sahabat Rasya sudah seperti putrinya sendiri.
"Setelah ini, siapa yang akan menikah duluan?" tanya Marlina saat mereka sudah berada di restoran dan sedang menunggu pesanan.
"Suketi!"
"Zaenab!"
"Markonah!"
Mereka menjawab kompak dengan menunjuk yang lainnya. Sementara yang berada di sana tersenyum saat melihat itu.
"Kayaknya si Zaenab dulu, deh," cetus Rasya.
"Gue belum ada calon, Ra. Jangan ngadi-adi elu," timpal Zahra.
__ADS_1
"Habis ini juga ada, Zae. Ehem!" Rasya berdeham sembari melirik Arga dan Zahra bergantian.
"Ape, lu!" Zahra mendelik, sedangkan Rasya memberi kode dengan lirikan mata ke arah Arga. Zahra yang paham kode itu hanya mendengkus kasar. "Gue enggak mau mimpi ketinggian, Ra. Kalau jatuh ... sakit!"
"Jodoh enggak ada yang tahu, Zae." Rasya berbicara dengan yakin. Zahra hanya diam, tidak lagi menanggapi karena dia terlalu malas.
"Kalian bahas apa, sih?" tanya Pandu.
Rasya mendekati Pandu lalu membisikkan sesuatu di telinga lelaki itu. Sesaat kemudian, mata Pandu terlihat melebar dengan raut terkejut memenuhi wajahnya. Arga yang melihat itu menjadi terheran. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak nyaman. Seperti bau-bau ghibah.
"Jangan bercanda!" Pandu sedikit ketus. Akan tetapi, Rasya justru mencebikkan bibir.
"Kalau kamu tidak percaya ya udah." Rasya memalingkan wajah berpura-pura kesal.
"Siap, Paduka Raja," sahut Rasya. Setelahnya dia hormat tepat di depan wajah Pandu. Mereka yang melihat itu pun tak kuasa menahan gelakan tawa.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Pandu setengah kesal.
"Hormatlah. Kata bapak, seorang istri harus hormat dengan suami. Ini aku lagi hormat." Tubuh Rasya terhuyung saat Zety mendorong bahunya.
"Bukan begitu konsepnya, Bambang!" Zety merasa benar-benar kesal.
__ADS_1
"Lalu bagaimana? Udin! Pe'a!"
"Kukum!" Suara Paijo yang begitu menggelegar membuat Rasya terkejut. Dia menutup mulut saat menyadari kesalahannya.
"Maksud Kukum bukan Udin Bapak. Udin 'kan banyak, Pak. Aminudin, Rohudin, Aladin," celoteh Rasya. Dia menunjukkan dua jari tanda damai saat melihat sorot mata Paijo yang menajam.
"Kamu jangan kurang ajar, Kum!" Paijo hendak bangkit, berakting akan memukul Rasya, tetapi secara refleks Rasya berdiri dan hendak pergi.
Namun, dia justru menabrak pelayan yang sedang membawa nampan berisi pesanan hingga nampan tersebut jatuh berhamburan. Termasuk kuah sop panas yang mengenai bagian perut Rasya.
"Bisakah kamu berjalan dengan baik!" bentak Pandu penuh amarah. Tubuh pelayan tersebut meringsut bahkan terlihat gemetar.
"Ma-maaf, Tuan," ucap pelayan tersebut terbata.
"Mas, sudah! Bukan salah dia, tapi aku yang salah karena sudah menabrak dia." Rasya membantu pelayan tersebut untuk berdiri.
"Lihat bajumu basah! Apa kamu tidak merasakan panas?" Pandu tampak begitu khawatir.
"A-aku baik-baik saja. Aku ke toilet dulu." Rasya hendak pergi, tetapi Pandu segera menahan. Dia langsung membopong Rasya dan membawanya ke toilet. Rasya tidak berani meronta. Dia takut saat melihat sorot mata Pandu yang penuh kilatan amarah.
Arga pun segera menyusul dan meminta untuk toilet wanita di sana dikosongkan selama Pandu dan Rasya berada di dalam. Dia juga meminta beberapa anak buah untuk berjaga di depan menemani dirinya. Arga tidak mau apabila terjadi sesuatu hal dan hanya dirinya saja yang berada di depan toilet. Arga hanya berjaga-jaga, apabila ada suara menyeramkan yang membuat telinga sucinya ternoda, setidaknya dia tidak sendirian. Arga pun bergidik saat membayangkan sesuatu.
__ADS_1
Otak elu travelingnya kejauhan, Ga!