Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
56


__ADS_3

Pandu menidurkan Rasya di kamar yang telah dipesan. Seluruh anggota keluarga pun ikut menyusul saking cemasnya dengan gadis itu. Bahkan Pandu mengumpat kesal saat dokter yang dipanggil sedari tadi belum juga sampai.


"Ga! Kenapa kamu sangat bodoh mencari dokter yang begitu lelet," hardik Pandu saking kesalnya. Arga tidak menyahut karena dia tahu, di saat Pandu sedang gelisah seperti itu, diam adalah jalan utama. Sekali saja membuka suara sudah pasti semua akan serba salah di mata Pandu.


"Sabarlah. Daddy yakin sebentar lagi Rasya akan sadar." Ferdinan berusaha menenangkan putranya.


"Iya, sabar sih, Om."


Semua yang berada di kamar itu melongo saat mendengar Rasya berbicara dengan santai, tetapi matanya masih tertutup rapat. Dengan bergegas Pandu mendekati Rasya dan mengamati wajah gadis itu dengan sangat lekat.


"Kamu sudah sadar?" tanya Pandu. Sedikit mengembuskan napas lega. Namun, Rasya tidak menjawab sama sekali.


"Apa kalian tadi melihat Rasya berbicara?" tanya Pandu menatap mereka satu-persatu. Namun, tidak ada satu pun yang menjawab. Pandu pun menepuk pipinya sendiri. "Apa aku tadi salah dengar ya?" gumam Pandu.


"Bisa jadi, Tuan. Karena Anda saking cintanya sama Nona Rasya jadi gitu deh." Arga menimpali. Pandu menatap Arga dengan tatapan yang tampak begitu kesal.


"Ingat, Ga. Aku akan memberi kamu hukuman karena sudah berani bersikap kurang ajar. Berani sekali kamu berjalan mesra dengan istriku!" omel Pandu. Bukannya menunduk takut, Arga justru melipat bibir menahan tawa saat melihat Rasya yang sedang membuka mata sedikit untuk mengintip. Kebetulan sekali Pandu sedang tidak menghadap ke arah gadis itu.


"Apa yang kamu tertawakan!" tanya Pandu setengah membentak.


"Tidak ada, Tuan."


"Sakit! Sakit!" Pandu terkejut saat mendengar teriakan Rasya. Dia makin terkejut saat melihat Rasya sedang memegangi telinganya yang saat ini sedang dijewer Agus.


"Berani kamu berbohong!" bentak Agus. Namun, lelaki itu merasa tidak tega saat Rasya menunjukkan wajah memelas bahkan seperti akan menangis.


"Jadi, kamu tidak pingsan?" tanya Pandu tidak percaya.


"Aku pingsan, Om. Beneran." Rasya menunjukan dua jari tanda tidak berbohong. Jeweran Agus menjadi makin kencang.


"Aku udah paham kelakuan kamu, Ra!" timpal Agus. Dia melepaskan jewerannya saat melihat mata Rasya yang berkaca-kaca.


"Kumala Rasya Putri! Astaga!" Pandu mengacak rambut saking kesalnya. Rasanya dia ingin mencekik Rasya sampai mati, tetapi dia takut akan galau sendiri nantinya.


"Om, aku pingsan beneran cuma lima menit." Rasya masih membela diri. Semua yang berada di ruangan itu hanya menggeleng tidak percaya dengan kelakuan Rasya yang luar biasa.


"Kamu tahu? Aku sudah menyiapkan kejutan yang luar biasa supaya kamu terkesan, tapi ternyata kamu sendiri yang mengacaukan semuanya!" geram Pandu. Lisa mendekati putranya untuk menenangkan.


"Kum, kenapa kamu berpura-pura pingsan?" tanya Marlina lembut. Dia mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Bu, Kukum tuh malu dilihatin banyak orang gitu. Enggak pede. Ibu 'kan tahu kalau Kukum lagi grogi pasti kebelet boker," sahut Rasya menjelaskan.

__ADS_1


"Lalu kamu pura-pura pingsan biar bisa boker tanpa izin?" tukas Paijo yang juga terlihat sedikit kesal.


"Iyalah, Pak. Masa iya nanti Om Panu berlutut sambil bilang aku mencintaimu, terus Kukum balesnya, maaf Om aku kebelet." Rasya menjawab santai. Tidak menyadari kalau ucapannya barusan justru membuat amarah Pandu makin naik ke ubun-ubun.


"Kamu kenapa selalu ...."


"Lagian nih, kalau di novel yang sering kubaca, kita mesti pingsan dulu baru deh diperiksa dokter terus bilang selamat Anda hamil."


"Ha-hamil?" tanya Pandu. Rasya mengangguk dengan cepat.


"Syukurlah kalau kamu hamil, Ra." Wajah Lisa tampak berbinar bahagia, tetapi Pandu justru terlihat meradang.


"Kamu hamil dengan siapa!" bentak Pandu. Semua yang berada di sana kembali terkejut dengan ucapan Pandu. Namun, anehnya Rasya justru tergelak keras.


"Ra, kamu gila?" tanya Agus, memegang kening Rasya untuk mengecek suhu tubuh adiknya.


"Apaan sih, Mas." Rasya menepis tangan Agus dengan cepat. "Aku enggak gila. Dasar Om Panu aja yang sensian," ledek Rasya.


"Siapa yang sensian? Aku hanya bertanya kamu hamil dengan siapa? Ingat, kita belum pernah melakukan malam pertama." Pandu keceplosan.


"Anda belum malam pertama, Tuan?" tanya Arga tidak percaya. Pandu tidak menjawab, tetapi melihat lirikan mata lelaki itu, Arga yakin kalau semua itu benar.


"Diamlah!" bentak Pandu marah. Arga pun menutup mulut sebelum nyawanya dalam bahaya.


"Ra, kamu keterlaluan!" Pandu menatap penuh kecewa kepada Rasya karena telah mengacaukan semuanya. "Katakan padaku kamu hamil dengan siapa? Kupikir kamu adalah gadis polos."


"Yaelah, Om. Sensi amat. Aku udah bilang kalau di novel, Om. Kalau aku mah masih orisinil." Rasya menjawab santai. Benar-benar tidak ada ketakutan di wajah Rasya sama sekali.


"Kalau begitu kita buktikan sekarang." Pandu menarik tangan Rasya dan hendak mengajak ke kamar pengantin yang sudah disiapkan, tetapi Rasya justru menahan langkahnya.


"Jangan sekarang, Om." Rasya menolak, berusaha melepaskan tangan Pandu.


"Kenapa? Ingat, meski kita baru menikah secara siri, tapi kita sudah sah untuk melakukan itu," ucap Pandu. Namun, Rasya justru menggeleng cepat.


"Aku lagi datang bulan." Rasya menjawab tanpa rasa bersalah. Pandu kembali mengusap wajahnya secara kasar.


"Oh, astaga. Cobaan apa ini. Semua gara-gara kamu, Ga!" Pandu menunjuk wajah Arga dengan sorot mata yang penuh kilatan amarah.


"Kenapa saya, Tuan?" Arga membela diri.


"Karena ucapanmu yang mengatakan pestaku tidak akan berjalan ...." Pandu terdiam saat sebuah kecupan mendarat di pipinya. Amarah Pandu seolah lenyap begitu saja. Dia beralih menatap Rasya yang sedang tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke depan. Kasihan para tamu undangan sudah menunggu sejak tadi." Ferdian mengajak mereka semua.


"Tunggu dulu." Rasya kembali menahan. Demi apa pun, saking kesalnya Pandu ingin sekali mengajak Rasya perang—perang di kasur misalnya—.


"Apalagi? Jangan membuatku kembali kesal!" omel Pandu.


"Sejak kapan bapak, ibu, sama Mas Agus di sini?" tanya Rasya penasaran. Namun, gadis itu memekik saat Pandu tiba-tiba memanggulnya seperti kantong beras.


"Turunin aku, Om!" Rasya memukul punggung Pandu, tetapi lelaki itu tidak peduli dan tetap berjalan santai menuju ke tempat pesta.


"Diam dan menurutlah atau aku akan menelanjangimu saat ini juga!" ancam Pandu. Rasya pun akhirnya diam. Bahkan tidak meronta sama sekali. Pandu pun menjadi heran dan menghentikan langkahnya.


"Jangan berpura-pura pingsan lagi," kata Pandu.


"Enggak, Om. Enggak akan. Aku cuma lemes aja." Rasya menjawab lesu. Pandu pun menurunkan Rasya di pintu sebelum masuk ke ruangan.


"Lemes kenapa?" tanya Pandu penuh selidik.


"Lemes bestie enggak punya Ayang." Rasya berpura-pura hendak jatuh dan Pandu dengan sigap menangkapnya.


"Astaga ...." Pandu mengembuskan napas kasar, sedangkan Rasya tersenyum lebar.


"Makasih Om, udah bucin sama aku. Aduh!" Rasya merintih saat pantatnya menyentuh lantai karena Pandu melepaskan tangannya begitu saja. "Jahat banget sama istri sendiri."


"Selamat, Tuan. Anda harus bersabar lagi mulai sekarang karena Nona Rasya sudah kembali ke pengaturan pabrik," ledek Arga.


"Diamlah, Ga! Berisik sekali lagi maka aku akan menikahkanmu dengan Gea."


Arga pun akhirnya menutup mulut rapat-rapat. Dia takut, ancaman Pandu barusan akan menjadi kenyataan.


•••


Kurap ngeselin banget Thor,


sabar, sabar, orang Somplak emang sering gitu.


Om Panu aja bisa sabar masa kalian enggak, wkwkwk


dukungan jangan lupa, setelah ini kita simak ijab kabul dan resepsi pernikahan Kurap dan Panu. 😂😂


Amplopnya jangan lupa siapin.

__ADS_1


__ADS_2