Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
105


__ADS_3

Di ruangan milik Pandu, lelaki itu duduk di kursi kebesaran dengan gaya gagah. Wajahnya tampak sangat tampan saat sedang serius menatap layar komputer. Arga sebagai asisten pribadi pun duduk berjarak cukup jauh dari Pandu.


"Mas!" Rasya merasa jengah, sedari tadi hanya duduk di sofa dan menunggu suaminya bekerja.


"Kenapa?" tanya Pandu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


"Ish! Aku jenuh, Mas." Rasya merengek manja. Rasanya dia benar-benar bosan, padahal Pandu sudah meletakkan banyak camilan di dekat Rasya.


"Aku pengen jalan-jalan." Rasya mengembuskan napas malas.


"Pekerjaanku belum selesai."


Rasya turun dari sofa dan berjalan mendekat suaminya. Tangan Rasya melingkar di leher Pandu hingga lelaki itu menghentikan gerakan jarinya sesaat. Pandu mendongak, dan wajahnya langsung bertemu Rasya.


"Aku mau pulang aja. Tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Pandu saat Rasya menghentikan ucapannya.


"Boleh enggak aku ajak Zaenab ke rumah. Dia katanya di kontrakan sendirian. Aku kasihan, Mas. Lagian aku juga di rumah sendirian kesepian." Rasya berbicara manja.


Pandu menarik tengkuk Rasya dan menyatukan bibir mereka. Namun, hanya sesaat karena Rasya segera melepaskan itu saat teringat ada Arga di ruangan tersebut.


"Boleh enggak?" tanya Rasya penuh harap.


"Ya, biar Arga yang mengantarmu sampai rumah." Pandu kembali duduk tegak dan menyuruh Rasya untuk duduk di pangkuannya.


"Kak Arga sedang sibuk. Aku naik taksi aja, Mas." Rasya mengalungkan tangan di leher Pandu dan menyandarkan kepala di dada bidang milik Pandu.


Pandu terdiam sesaat. Dia baru ingat kalau memang mereka saat ini sedang sibuk akhir bulan. Pekerjaan sedang padat-padatnya. Bahkan, nanti malam dirinya akan lembur di rumah.


"Kalau begitu biar Dani yang mengantarmu. Tanpa mereka, aku tidak akan mengizinkanmu pergi." Ucapan Pandu sangat tegas. Mau tidak mau, Rasya pun mengiyakan.


Sebelum Rasya pergi, Pandu terlebih dahulu mencium bibir istrinya dengan sangat lembut. Setelah puas, Rasya bangkit berdiri dan bersiap untuk pergi.

__ADS_1


"Ga ... suruh Dani untuk menemani istriku pulang," suruh Pandu. Namun, tidak ada sahutan sama sekali.


Rasya dan Pandu menoleh ke meja kerja Arga. Akan tetapi, mereka terkejut saat tidak melihat Arga di sana. Pantas saja tidak ada sahutan. Pandu pun menekan telepon dan menghubungi Arga.


"Kamu di mana?" tanya Pandu ketus.


"Di luar, Tuan."


"Ngapain di luar? Masuk!"


Pandu menaruh gagang telepon cukup kasar karena kesal dengan asistennya yang pergi tanpa berpamitan. Satu menit kemudian, pintu ruangan terdengar diketuk. Arga bergegas masuk setelah Pandu mempersilakan. Pandu menatap Arga dengan tajam, tetapi Arga justru terlihat tenang seolah tidak bersalah sama sekali.


"Kenapa kamu keluar tidak pamit?" tanya Pandu.


"Maaf, Tuan. Saya hanya tidak ingin menodai mata dan telinga suci saya." Arga menjawab santai.


Pandu hanya mendengkus kasar. Lalu menyuruh Arga untuk meminta Dani mengantar Rasya dan memastikan istrinya selamat sampai rumah. Setelah Arga menghubungi Dani, Pandu pun bangkit berdiri dan menggandeng tangan Rasya.


"Kamu mau ngapain, Mas?" tanya Rasya heran. Namun, dia menggandeng lengan suaminya dengan mesra.


***


Sebelum kembali ke rumah, Rasya terlebih dahulu menjemput Zahra di kontrakan. Dia sudah meminta Zahra untuk menemaninya selama Pandu bekerja. Jujur, selama ini Rasya selalu kesepian saat sendirian berada di rumah, sedangkan para pelayan seolah menjaga jarak dengannya.


"Sini dulu, Kak." Rasya turun dari mobil setelah Dani membuka pintu untuknya. Dia berjalan masuk dan memanggil nama Zahra berkali-kali.


"Gue belum budek, Ra!" Zahra mengalungkan tas selempang di pundaknya.


"Habis elu kaya orang bisu. Ditanya diem mulu." Rasya berdiri di samping pintu sembari menunggu Zahra mengunci pintu.


Tiba-tiba, pandangan Rasya tertuju pada pohon mangga dan jambu biji yang masih berbuah sampai saat ini. Tanpa berpamitan, Rasya meninggalkan Zahra begitu saja.


"Woy! Elu mau ke mana, Ra?" teriak Zahra. Rasya tidak menyahut dan malah memanjat pohon mangga. "Emang dasar monyet!"

__ADS_1


Zahra berjalan ke tempat Rasya yang saat ini sudah sampai di atas pohon. Bahkan dengan santainya Rasya duduk di salah satu dahan. Dani yang melihat nona mudanya sudah memanjat, dengan tergesa-gesa berlari mendekat.


"Nona, turunlah. Saya mohon." Dani berteriak dari bawah dengan begitu meminta. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan Rasya maka nyawanya yang akan jadi taruhannya.


"Bentar, gue cuma mau metik mangga muda." Rasya menuju ke salah satu dahan yang cukup tinggi.


Zahra tampak santai karena dia sudah biasa melihat Rasya memanjat. Berbeda dengan Dani yang tampak kelimpungan. Bahkan, dia hendak menyusul naik, tetapi Zahra menahan dan mengatakan semua akan baik-baik saja karena Rasya adalah pemanjat yang handal. Seperti seekor tupai. Dengan hati was-was, Dani menunggu di bawah sembari merapalkan berbagai doa.


Setelah memetik cukup banyak buah mangga muda juga yang matang, Rasya bersiap hendak turun, tetapi tiba-tiba terdengar bunyi dahan patah. Zahra dan Dani tersentak saat melihat Rasya hampir terjatuh, tetapi wanita itu berpegangan pada dahan yang lebih besar dan kokoh.


"Ra, gimana?" tanya Zahra dari bawah.


"Biar saya tolong nona muda. Kalau ada apa-apa dengan beliau maka nyawa saya terancam." Dani berjalan cepat mendekati pohon.


"Kak Dani di bawah aja. Aku bisa." Rasya yang masih bergelantung di pohon, dengan mengerahkan tenaga yang dia punya, mengangkat kedua kaki lalu menjepit pohon tersebut. Dengan sedikit kesusahan Rasya segera mengangkat tubuhnya supaya bisa duduk di dahan tersebut.


Zahra menutup mulut sembari berdoa. Begitu juga dengan Dani yang masih melihat perjuangan sekaligus kehebatan Rasya. Setelah cukup lama. Rasya bernapas lega saat bisa duduk tegak di atas dahan tersebut. Namun, Rasa terdiam sesaat ketika perut bagian bawahnya terasa sedikit nyeri.


"Ra! Elu baik-baik saja?" tanya Zahra dari bawah.


"Bentar. Perut gue tiba-tiba kram." Rasya menyandarkan tubuhnya di batang pohon dan mengusap perut bawahnya supaya tidak lagi terasa nyeri.


"Anda bisa turun, Nona?" tanya Dani cemas.


"Bisa." Dengan perlahan Rasya turun dari pohon tersebut, sedangkan Dani menunggu di bawah.


Setelah Rasya sampai di bawah, mereka pun bernapas lega. Dani memunguti mangga yang berserakan di tanah dan membawanya masuk ke mobil.


"Tumben amat elu metik mangga muda?" tanya Zahra.


"Gue pengen aja. Kayaknya enak sama sambal lutis." Rasya menelan ludahnya saat merasa air liurnya seperti hendak menetes.


"Jangan-jangan elu hamil, Ra," tebak Zahra.

__ADS_1


"Bisa jadi. Gue udah telat hampir seminggu." Rasya belum menyadari apa yang dia ucapkan saat ini.


__ADS_2