Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
69


__ADS_3

Di bandara mereka sudah berkumpul, termasuk Lisa dan Ferdinan yang ikut mengantar putranya, terutama pengantin baru yang langsung berbulan madu. Ketiga sahabat Rasya pun ikut mengantar juga.


"Ra, selamat menikmati bulan madumu. Mommy harap kamu pulang bawa kabar bahagia." Lisa memeluk menantunya dengan erat.


"Semoga, Mom." Rasya pun membalas pelukan ibu mertuanya, sedangkan Gea hanya menatap nanar ke arah dua wanita itu.


Jujur, Gea merasa begitu iri melihat betapa Lisa sangat menyayangi Rasya dan bahkan memperlakukan seperti putrinya sendiri. Bayangan Gea melayang jauh, kelak jika dirinya menikah dengan Gilang, akankah Lisa memperlakukan sama seperti apa yang wanita lakukan kepada Rasya.


Jangan terlalu berharap lebih. Gilang saja belum tentu mencintaimu. Gea menggeleng. Mengusir berbagai pikiran macam-macam yang begitu mengusik.


"Kamu kenapa?" tanya Gilang mengejutkan Gea.


"Tidak papa, Lang. Aku hanya berpikir setelah sampai di sana, pasti akan sangat rindu dengan negara ini dan entah kapan lagi aku bisa menginjakkan kaki di sini." Gea tersenyum kecut. Mencoba tetap terlihat baik-baik saja. Namun, Gilang bukanlah lelaki yang tidak peka.


Tangan Gilang merangkul pundak Gea yang membuat gadis itu terkejut. Dengan gerakan cepat Gea berusaha menepis, tetapi Gilang seolah tidak gentar, tetap memegang bahu gadis itu untuk memberi ketenangan.


"Lang, lihatlah. Daddymu menatap ke arah kita terus." Gea berbisik saat menyadari tatapan Ferdinan yang begitu tajam ke arahnya.


"Biarkan saja," jawab Gilang santai. Gea mengembuskan napas kasar karena tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia hanya tidak ingin Gilang dan keluarganya bersitegang.


Ternyata semua itu tidak lepas dari Rasya yang sudah melerai pelukannya dari tadi. Dia merasa pasti ada sesuatu yang terjadi ataupun rahasia di antara mereka. Karena yang Rasya lihat, Lisa tidak terlalu menyukai kehadiran Gea.


"Ra! Jangan kangen kita, ya." Zety, Zahra, dan Margaretha memeluk Rasya dengan sangat erat.


"Pasti. Mana mungkin gue kangen sama kalian yang sukanya bikin ulah," timpal Rasya. Tiga gadis itu mencebik, tetapi dengan segera Rasya membalas pelukan mereka.

__ADS_1


"Jangan lupa oleh-olehnya."


"Kalau bisa cowok cakep. Bule."


"Nah bener, yang tinggi, gagah, macho."


"Kalian bertiga mulutnya ngeselin banget, sih! Kalau ngomong udah kaya estafet. Sambung-menyambung, mengalir sampai jauh," kata Rasya yang mengundang gelakan tawa.


"Satu lagi, Ra." Zahra menahan Rasya yang hendak melerai pelukan mereka.


"Apalagi? Astaga kalian bener-bener cerewet!" Rasya ngedumel, tetapi mereka justru terkekeh.


"Ehem! Ga, sepertinya aku akan tinggal di Amerika saja kalau di sini aku seperti angin lalu," sindir Pandu. Rasya pun memaksa pelukan itu supaya terlepas lalu beralih merangkul lengan suaminya.


"Aku ini suamimu bukan om kamu!" Pandu benar-benar kesal.


"Terus kamu mau dipanggil apa? Suamiku? Bebeb? Cinta? Hunny? Bunny? Sweetty?" Rasya terkikik sendiri, sedangkan Pandu bergidik membayangkan Rasya benar-benar memanggilnya seperti itu. Yang ada dia akan kehilangan wibawa sebagai seorang CEO.


"Aku tidak mau dipanggil sealay itu," tolak Pandu.


"Lalu?"


Bukannya menjawab, Pandu justru menggendong Rasya untuk masuk ke pesawat. Rasya awalnya hendak meronta karena malu. Namun, Pandu berpura-pura akan terjatuh hingga secara refleks Rasya melingkarkan tangan di leher Pandu. Tanpa Rasya sadari, bibir Pandu sudah tersenyum tipis.


***

__ADS_1


Pesawat sudah mengudara, dan selama dalam penerbangan Rasya merasa begitu bahagia bisa melihat pemandangan dari atas. Maklum, baru kali ini dirinya melakukan perjalanan lewat udara. Pandu yang duduk di sebelah Rasya, hanya tersenyum melihat istrinya yang kelihatan kampungan, tetapi sangat menggemaskan.


"Kamu suka?" tanya Pandu. Rasya menoleh sekilas lalu kembali menatap keluar jendela.


"Sangat, Om!" Pandu merangkul pundak Rasya lalu menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya.


"Ra, maukah kita sama-sama berjanji mulai saat ini akan mulai belajar saling mencintai?" Suara Pandu terdengar berat.


"Aku akan berusaha, Om." Rasya menjawab yakin. Pandu pun mengaitkan jari kelingkingnya dengan Rasya. Rona kebahagiaan tampak terlihat jelas dari gurat wajah mereka berdua.


Rasya memejamkan mata, merasakan betapa nyamannya bersandar di dada Pandu. Dengan penuh sayang Pandu mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya.


Rasya membuka mata lalu sedikit mendongak untuk menatap Pandu, "Om! Tahu enggak awan apa yang bikin aku bahagia?"


"Mana kutahu," sahut Pandu sedikit ketus. lelaki itu sedang berusaha untuk menahan hatinya.


"A Wanna be With You."


"Astaga. Mulutmu gombal sekali." Pandu mencubit pipi Rasya saking gemasnya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyumnya yang hendak mengembang.


"Sekali-kali bales dong, Om!" Rasya cemberut.


"Bales apa?"


"Bales perasaanku ke Om Panu." Rasya menaik-turunkan alisnya. Namun, sesaat kemudian Rasya terkejut saat Pandu mendaratkan ciuman di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2