
Suasana di ruangan tersebut kembali tenang saat kedua mempelai sudah berada di tempat acara ijab kabul akan dilaksanakan nantinya. Wajah Pandu tampak begitu gugup, begitu juga dengan Rasya yang merasa tidak nyaman karena sudah menjadi pusat perhatian. Juga jepretan kamera yang begitu menyilaukan matanya.
"Sudah siap?" tanya penghulu. Pandu mengangguk dengan cepat lalu menjabat tangan Paijo. "Kalau begitu bisa dimulai."
Paijo berdeham terlebih dahulu. Menghilangkan kegugupannya. Jabatan tangannya pun makin terasa erat. Rasya yang duduk di samping Pandu hanya berani menunduk dalam
"Bismillah. Saudara Pandu Nugraha Andaksa bin Ferdinan Putra Andaksa. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Kumala Rasya Putri binti Joko Saifudin dengan maskawin seperangkat alat sholat, satu set perhiasan, uang tunai sebanyak lima ratus juta dan sebuah apartemen mewah, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Kumala Rasya Putri binti Joko Saifudin dengan maskawin tersebut tunai!" Pandu menjawab dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah.
Jantung Rasya terasa berdebar kencang bahkan rasanya seperti akan meledak. Dia tidak menyangka kalau pernikahannya dengan Pandu akan terlaksana secara mewah seperti ini. Rasya pun menarik tangan Pandu lalu mencium punggung tangannya, sedangkan Pandu dengan ragu dan malu mengecup kening Rasya dengan penuh cinta. Sorakan dari para tamu undangan pun menggema di ruangan tersebut.
Setelah ijab kabul terlaksana, kini mereka melakukan resepsi pernikahan. Mulai dari potong tumpeng dan sebagainya. Senyum di bibir Rasya tampak terlihat jelas, sedangkan Pandu tersenyum tipis karena dia masih menjunjung tinggi gengsinya.
"Om," bisik Rasya. Pandu menoleh ke arah Rasya lalu mengangkat dagunya, memberi kode. "Aku mau pingsan."
"Jangan macam-macam! Ingat, barusan kamu sudah merusak pesta kita!" omel Pandu dengan sedikit membentak.
"Ish! Aku cuma minta satu macam doang, Om." Rasya merengek manja. Dia tidak peduli meski ada banyak pasang mata yang menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Pandu tidak sabar.
"Aku laper, Om. Daritadi belum makan." Rasya berkata jujur. Pandu yang melihat wajah Rasya yang sudah sedikit memucat pun menjadi tidak tega.
"Kalau begitu kita makan sekarang." Pandu hendak menggandeng tangan Rasya, tetapi dengan cepat Rasya menepisnya. "Kenapa?" tanya Pandu heran.
"Om enggak lihat? Banyak tamu undangan yang belum bersalaman dengan kita." Rasya merasa begitu pasrah. Kalau mereka pergi dari sana saat itu juga, yang ada tidak sopan namanya.
"Biarkan saja. Mereka bisa bertemu mommy dan daddy." Pandu kembali hendak mengajak Rasya pergi dari sana. Namun, suara pembawa acara tersebut membuat Pandu mengurungkan keinginannya. Dalam hati dia merasa kesal dan marah, tetapi dia mencoba tetap terlihat biasa saja.
"Sepertinya pengantin baru pada malam hari ini sudah tidak sabar ingin ke kamar," kata pembawa acara yang langsung disambut tepuk tangan riuh dari mereka semua yang hadir di sana. Pandu menatap tajam ke arah pembawa acara tersebut. Namun, lelaki itu sama sekali tidak merasa takut karena Ferdinan berada di belakangnya.
"Sebelum menikmati malam pertama, kita para tamu undangan ingin sekali melihat keromantisan kalian. Jadi, kepada Tuan Pandu Nugraha Andaksa, dipersilakan untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Nona Rasya." Tepuk tangan kembali terdengar di sana.
Pandu merutuki dirinya yang telah lupa kalau semua ini adalah bagian dari kejutan yang telah dia persiapkan. Gea dan Gilang masuk diiringi musik dengan membawa sebuah set perhiasan. Setelah berdiri di samping Pandu, Gea segera menyerahkan sebuah kotak bludru warna merah. Dengan segera Pandu berdiri setengah jongkok dan mengarahkan kotak tersebut ke arah Rasya.
"Kumala Rasya Putri. Izinkan aku mengatakan sedikit kata untukmu. Perusuh kecilku." Pandu tersenyum, Rasya pun ikut tertular senyuman itu.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau sudah menyakiti hatimu kemarin. Aku belum yakin pada perasaanku sendiri, tapi kini ... aku sudah yakin untuk melabuhkan hatiku kepadamu. Hanya kamu wanita yang mampu menghapus bayangan masa laluku dan membuat hidupku lebih berwarna," kata Pandu lembut.
Rasya tak kuasa menahan perasaan haru. Apalagi saat tatapan mereka bertemu dan dia bisa melihat sebuah tatapan penuh cinta dari seorang Pandu Nugraha Andaksa.
"Tidak ada seorang manusia yang tidak memiliki masa lalu. Kamu sudah tahu tentang masa laluku, dan aku minta maaf jika aku masih sering melukaimu. tapi percayalah ... aku sedang berusaha menghapus semua kenangan indah dan menggantinya dengan dirimu."
"Jangan pernah dihapus, Om. Aku tidak mau Nona Amira merasa sakit di sana. Aku yakin cinta kalian itu luar biasa. Meski harus terpisah dalam dunia yang berbeda saat ini," timpal Rasya. Pandu menatap tidak percaya ke arah Rasya.
__ADS_1
"Ra, kamu menerima masa laluku meski aku belum bisa sepenuhnya melupakannya?" tanya Pandu meyakinkan. Rasya mengangguk cepat.
"Om, setiap kenangan indah tidak akan bisa dilupakan meski kita bersama orang yang berbeda. Setelah aku mendengar cerita tentang kalian, membuatku sangat yakin kalau kamu adalah lelaki yang penyayang dan penyabar. Aku yakin kalau kamu adalah lelaki yang luar biasa," puji Rasya. Senyum Pandu mengembang sempurna saat mendengarnya.
Pandu memakaikan cincin di jari manis Rasya lalu bangkit berdiri dan merangkul pundak Rasya dengan mesra. Rasya pun ikut tersenyum bahagia.
"Aku mencintaimu, Kumala Rasya Putri." Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Pandu tanpa sadar. Pandu memajukan wajahnya hendak mencium Rasya, tetapi gerakannya terhenti saat tangan Rasya menahan wajah Pandu yang akan maju.
"Kenapa, sih? Aku ingin menciummu, supaya dunia tahu kalau kamu adalah wanitaku." Pandu sedikit merasa kesal, tetapi Rasya justru terkekeh.
"Aku 'kan belum ngasih kata-kata romantis juga buat kamu, Om." Rasya menjawab manja. Pandu mengembuskan napas secara kasar.
"Baiklah. Lima menit! Setelah itu kita harus makan. Aku tidak mau kamu benar-benar pingsan di sini," ucap Pandu. Rasya mencium pipi Pandu supaya lelaki itu tidak kesal lagi.
"Jangan jutek gitu, sih, Om. Pasang wajah cakep, dong. Malam ini kita raja dan ratu di sini." Rasya menaik-turunkan alis menggoda Pandu yang saat ini mulai menunjukkan senyumnya.
"Empat menit tersisa." Pandu berpura-pura melihat jam di tangan membuat Rasya gelagapan.
"Baiklah. Saya Kumala Rasya Putri hanya ingin mengucapkan beberapa patah kata saja. Mohon waktunya sebentar." Ucapan Rasya membuat suasana di ruangan itu begitu senyap karena mereka fokus ke arah panggung.
Rasya menghirup napas dalam-dalam, dan mengembuskan secara perlahan untuk menghilangkan rasa gugup yang makin terasa. "Om ...."
Pandu menatap penuh ke arah Rasya
yang tampak ragu-ragu. "Om, terima kasih sudah mencintai dan menerimaku apa adanya. Di waktu tiga menit yang tersisa, aku cuma ingin mengucapkan sepatah kata. Terima kasih, Om Pandu sudah mencintaiku apa adanya. Aku berharap kita akan bersama selamanya." Rasya menjeda ucapannya sesaat.
__ADS_1
"Om, aku sangat berharap semoga kamu berhenti mencoba segala jenis lubang. Cukup satu lubang saja."