Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
66


__ADS_3

Arga menatap koper yang tergeletak di sudut kamar. Satu jam lagi dia harus berangkat ke bandara. Rasa enggan makin menyelimuti hatinya saat teringat kejadian di rumah sakit semalam. Hati Arga rasanya memanas, padahal dia sudah berusaha keras untuk tidak cemburu. Arga akhirnya memilih bangkit berdiri dan pergi dari apartemen. Setidaknya dia masih memiliki waktu untuk menghirup udara segar.


Mobil yang dikendarai Arga melaju sedang. Lalu berhenti di sebuah warung soto yang cukup ramai. Dia ingin menikmati makanan berkuah panas tersebut sebelum berangkat ke Amerika. Karena dua minggu di negara sana, dia pasti akan merindukan makanan Indonesia.


Setelah mobil terparkir, Arga segera mencari tempat duduk yang kosong. Memesan semangkuk soto dengan es jeruk sebagai pelengkap. Bukan makanan yang mewah memang, tetapi tetap terbukti mampu menggugah selera meski hanya dengan menghirup aroma rempah yang menguar. Ketika apa yang diinginkan sudah tersaji di depannya, Arga segera memberi cukup banyak sambal.


Menyendok, meniup perlahan lalu menyuap ke mulutnya sendiri. Dia tidak peduli meski menjadi pusat perhatian, apalagi para gadis-gadis yang menatap kagum ke arahnya. Arga tetap begitu santai menikmati makanannya.


"Suk! Tungguin gue!"


Suara keras dari arah pintu berhasil mengalihkan perhatian Arga. Lelaki itu menoleh, tetapi beberapa detik kemudian bibirnya mencebik kesal saat melihat tiga gadis cantik, sahabat nona mudanya, berjalan dengan gaya sok anggun. Arga menunduk, kembali menikmati makanannya tanpa peduli pada kedatangan mereka.


Namun, sendok di tangan Arga mengapung di depan mulut saat ketiga gadis itu saat ini justru sudah berdiri di depannya. Arga sedikit mendongak, lalu menatap mereka bertiga satu-persatu. Dari ketiga gadis itu, hanya Zahra yang terlihat menunduk malu-malu. Sikap Zahra tersebut membuat Arga mengingat CD gambar kartun yang tanpa sengaja dia lihat. Bibir Arga pun tersenyum tipis.


"Maaf, Tuan. Bolehkah kita ikut bergabung di sini?" tanya Zety, memberanikan diri. Walau Zahra dan Margaretha tahu kalau Zety sedang kegenitan.


"Tidak bisakah kalian mencari tempat duduk yang lain." Arga menjawab santai, lalu meminum es jeruk di depannya dengan gaya gagah, membuat mereka bertiga makin terpesona.


"Tidak ada kursi kosong lagi, Tuan. Hanya meja ini yang memiliki tiga kursi kosong." Margaretha menyahut. Arga mengedarkan pandangan untuk membuktikan ucapan mereka. Namun, benar saja. Hampir semua meja sudah terisi penuh.


"Gimana, Tuan?" tanya Zety, senyumnya mengembang sempurna.


"Hmmm." Arga kembali fokus pada makanannya meski mulai merasa malas. Dengan sangat antusias, ketiga gadis tersebut berebut duduk di samping Arga.

__ADS_1


"Kuharap kalian tidak mengganggu makan orang lain," ketus Arga. Membuat mereka semua akhirnya diam dan duduk manis.


Ketika tiga mangkok soto sudah tersaji di sana, dengan cepat Zety mengambil mangkok kecil berisi sambal. Zahra dan Margaretha mendengkus kasar saat melihatnya.


"Awas aja kalau sampai tuh sambel abis, gue habisin juga soto punya elu, Suk!" protes Zahra. Tangannya terlipat di depan dada dengan bibir mengerucut.


"Enggak akan, gue cuma mau ambil tiga sendok." Zety mengelak. Dia menuang tiga sendok sambal ke dalam mangkoknya. Namun, tiba-tiba Zety merasa ragu.


"Satu lagi, deh," ucapnya sembari memberi satu sendok lagi. "Eh, satu lagi, kayaknya belum pedes."


"Suketi!" Margaretha saking kesalnya, merebut mangkok tersebut dari sahabatnya. "Besok kalau mau makan di sini. Bawa sambel sendiri!" Margaretha mengomel.


"Iya, bener. Elu tuh suka banget ngabisin sambel. Kasihan, cabe lagi mahal."


"Bener, Zae." Margaretha mengiyakan, sedangkan Zety hanya bersikap santai mengaduk soto tersebut supaya sambelnya tercampur rata.


"Elu kebiasaan banget, Zae. Ribet amat hidup elu ngurusi hal yang enggak penting kaya gitu. Penjualnya aja sante-sante elu malah ngomel enggak jelas," cibir Margaretha. Zahra tidak menjawab karena dia sedang kesusahan mengunyah gorengan tersebut.


Arga hanya menggeleng saat melihat mereka. Antara kesal, tapi juga ingin tertawa. Apalagi melihat pipi Zahra yang mengembung karena berisi gorengan.


Zahra segera meminum es teh di depannya sampai setengah gelas untuk mendorong gorengan yang baru bisa ditelannya. Setelahnya, dia memukul lengan Margaretha untuk meluapkan kekesalan.


"Markonah! Elu Gila! Kalau gue mati karena keselek gimana? Gue belum kawin, oe!" omel Zahra. Bukannya takut, Margaretha dan Zety justru terkekeh.

__ADS_1


"Tapi elu enggak keselek 'kan?" timpal Maragretha.


"Elu hebat, Zae. Bisa makan satu gorengan tanpa keselek. Emang luar biasa." Zety menepuk bahu Zahra tanda bangga, tetapi bibirnya tersenyum meledek.


"Diemlah kalian! Karena elu yang masukin tuh gorengan ke mulut gue, maka elu yang bayar, Mar!" Zahra masih mengomel sembari mengambil mangkok sambal. Namun, Zahra terdiam saat tidak melihat sedikit pun sambal di sana. Benar-benar tandas.


Zahra menatap sebal ke arah Zety dan Margaretha bergantian. Sementara yang ditatap justru tergelak. "Kalian berdua ini ...."


"TUMAN!!" sahut Margaretha dan Zety bersamaan, diiringi gelakan tawa yang makin mengeras.


••••


selamat pagi gaesss


Othor bakal crazy update mulai hari ini, tapi jangan ditanya up jam berapa ya 😁


Pokoknya selesai ketik pasti Othor langsung kirim. Nyambi di dunia nyata juga 🤭


Selamat pagi dan selamat beraktivitas Gaess


Semoga hari kalian menyenangkan


jangan lupa selalu jaga kesehatan

__ADS_1


jaga mata, jaga hati


jaga isi dompet juga 😂😂


__ADS_2