Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
101


__ADS_3

Pandu baru saja selesai mandi. Dia tersenyum saat melihat setelan kemeja lengkap sudah Rasya siapkan. Namun, Pandu tidak melihat keberadaan istrinya sama sekali. Dengan bergegas Pandu memakai pakaian itu lalu keluar kamar untuk mencari istrinya.


"Rasya!" teriak Pandu sembari berjalan cepat menuruni tangga. Tidak ada sahutan sama sekali. Pandu pun makin merasa khawatir.


Pandu terus saja berjalan sembari memanggil nama Rasya berkali-kali. Hampir seluruh ruangan Pandu telusuri tanpa rasa lelah, tetapi tidak ada tanda keberadaan sama sekali.


"Tuan," sapa salah seorang pengawal yang berjaga di depan pintu utama.


"Kalian lihat istriku keluar?" tanya Pandu.


"Nona Muda di depan, Tuan."


Mendengar jawaban pengawal tersebut, Pandu melangkah cepat menuju ke luar dan dia melihat Rasya sedang berbelanja di tukang sayur keliling. Rasya terlihat sedang sibuk memilah dan memilih sayuran yang masih segar. Melihat Pandu yang berjalan mendekat, beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja tampak kagum melihat ketampanan Pandu.


"Rasya!"


Rasya menoleh saat mendengar teriakan Pandu yang cukup keras terdengar. Keningnya mengerut saat melihat wajah Pandu yang tampak kesal.


"Ada apa, Mas? Kamu udah mau berangkat?" tanya Rasya tenang.


"Belum. Aku bahkan belum sarapan. Kenapa kamu kabur begitu saja, hm?" Pandu mendekati Rasya dan mencubit pipi istrinya dengan gemas.


"Aku bukan kabur. Aku lagi mau belanja, tuh sama Mbak." Rasya menunjuk salah seorang pelayan di rumah yang ikut berbelanja dengannya.


"Tugas kamu bukan belanja atau memasak, tapi cukup mengurusku dan menjadi istri yang baik." Pandu mengusap wajah Rasya lembut. Dia tidak menyadari kalau keromantisannya bisa membuat ibu-ibu yang sedang berbelanja di sana menjadi iri sekaligus kagum.


"Mas, aku mau beli cireng." Rasya merengek seperti anak kecil. Pandu yang melihat itu menggeleng tidak percaya.


"Apalagi itu cireng? Ayo, temani aku sarapan, jangan sampai aku terlambat karena hari ini ada rapat penting." Pandu mengulurkan tangan hendak menggandeng Rasya, tetapi Rasya menolak dengan cepat. "Ayo."


"Aku mau beli cireng dulu, Mas." Rasya tidak peduli pada kekesalan Pandu. Dia mengambil sebungkus cireng lalu memasukkan ke plastik kresek yang sudah dipegang oleh pelayan tadi.


"Sama ini ya, Mbak."


"Baik, Nona." Pelayan tersebut menjawab sopan.

__ADS_1


"Kumala Rasya Putri ...."


"Gendong," rengek Rasya. Pandu mendengkus, tetapi memasang kuda-kuda, dan dengan segera Rasya naik ke punggung Pandu.


"Astaga, kamu ringan sekali. Apa kamu tidak makan dengan baik?" ledek Pandu sembari melangkah masuk.


"Aku ini tipikal tubuh idaman, Mas. Jangan ngeledek. Makan banyak, tapi badan tetep ramping. Emang kamu mau kalau aku gendut?" Rasya melingkarkan tangan di leher Pandu.


"Tidak apa gendut, kamu bisa menggantikan kasur di rumah," seloroh Pandu. Namun, sesaat kemudian Pandu mengerang saat Rasya menggigit telinganya. Bahkan, mereka hampir saja terjatuh kalau tidak dijaga oleh pengawal yang masih berjaga di depan pintu.


"Bisakah kamu tidak nakal!" omel Pandu.


"Enggak! Habis kamu ngeselin!" Rasya mengeratkan lengannya hingga membuat Pandu hampir tercekik.


"Astaga. Kamu ini benar-benar bikin tensi darahku naik." Pandu menurunkan Rasya di sofa lalu mendudukkan tubuhnya sendiri di samping wanita itu.


"Nanti aku ambilin tangga biar turun." Rasya menimpali.


"Jangan buat aku gemas denganmu dan akan menelanjangimu saat ini juga, Kumala Rasya Putri." Pandu berusaha meredam amarah yang hendak naik.


"Mas, lebih baik sekarang kita sarapan. Katanya kamu mau ada pertemuan penting." Rasya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ada apa? Kenapa kamu lesu begitu? Kamu sakit?" tanya Pandu. Dari suaranya terdengar jelas lelaki itu sangat khawatir.


"Enggak. Aku sehat." Rasya menjawab malas. Pandu merasa curiga dengan perubahan sikap istrinya yang begitu tiba-tiba. Padahal tadi, wanita itu baik-baik saja bahkan bersemangat.


"Aku tidak yakin. Katakan padaku atau aku akan mengecek sendiri ke dokter," ucap Pandu.


Rasya menatap Pandu dalam hingga keningnya mengerut dan membuat kedua alisnya mengetat. "Apa yang mau dicek, Mas? Aku udah bilang kalau aku baik-baik saja."


"Lalu? Kenapa kamu sangat tidak bersemangat?"


"Aku hanya kangen sama rumah kontrakan, Mas. Aku boleh main ke sana enggak, sih? Kebetulan tiga cecunguk itu sekarang lagi pada di rumah." Rasya terlihat sangat memohon.


Pandu berusaha menelisik wajah Rasya, tetapi saat melihat sorot mata Rasya yang begitu memohon, Pandu pun mengangguk menyetujui. Rasya bersorak kegirangan bahkan dia langsung duduk di pangkuan Pandu dan menciumi wajah lelaki itu berkali-kali.

__ADS_1


"Astaga, sebegitu bahagianya 'kah kamu hanya karena aku mengizinkanmu ke rumah kontrakan?" Pandu menggeleng tidak percaya.


"Iya dong, Mas. Aku takut kamu akan ngelarang, dan cuma ngebolehin aku di dalam rumah aja. Tapi karena kamu udah ngizinin maka sekarang aku akan makan. Udah laper dari tadi." Rasya turun dari pangkuan Pandu lalu duduk di kursinya semula.


Pandu terkekeh melihat kelakuan istrinya itu. Dengan lahap Rasya memakan sarapannya. Bahkan sangat cepat Rasya mengunyah makanan itu.


"Tumben sekali teman-temanmu itu tidak kerja?" tanya Pandu. Dia kembali menghabiskan makanannya.


"Mereka habis resign."


"Semuanya?" tanya Pandu menyela.


"Enggak. Suketi sama Zaenab yang berhenti kerja. Mas, kalau salah satu dari mereka melamar pekerjaan di kantormu bisa enggak, sih?" tanya Rasya ingin tahu.


"Melamar jadi apa? Emang ijazah mereka apa?" Pandu balik bertanya.


"Cuman lulusan SMA. Ya bebas, Mas. Mau jadi tukang sapu pel juga boleh. Daripada kasihan nyari kerja susah sekarang, Mas."


"Suruh mereka membuat surat lamaran saja nanti kirim ke sana."


"Ah, aku lupa kalau kata Kak Arga enggak bisa pakai jalur orang dalam." Rasya tertawa lirih. "Nanti aku suruh bikin deh si Zaenab. Kubilang sekalian kalau aku enggak bisa bantuin dia buat bisa kerja di sana."


"Hmmmm."


"Ngapain cuma hmmm doang, Mas. Kalau aku daftar kerja di perusahaan kamu bakal diterima enggak?" Rasya menggigit bibir untuk menahan tawa. Dia yakin kalau Pandu akan marah-marah setelah ini.


"Kupikir kamu tidak lupa dengan statusmu saat ini. Kamu ini adalah istri pemilik ADS Group, lalu untuk apa kamu melamar pekerjaan di perusahaan suamimu sendiri?" Pandu meletakkan sendok dengan sedikit kasar.


"Yaelah, Mas. Aku cuma bercanda masa iya kamu nanggepin serius gitu?" Rasya memutar bola mata malas. "Aku habis ini juga langsung berangkat ya."


"Kenapa buru-buru?" tanya Pandu curiga.


"Aku udah ditunggu sama Suketi. Udah janji mau nganter dia ngelamar kerja. Enggak enak kalau anak itu nunggu kelamaan," ujar Rasya.


"Ngelamar di mana?" tanya Pandu.

__ADS_1


"Restoran Gama. Dia mau jadi karyawannya Mas Gatra."


Uhukkk uhukkk


__ADS_2