
Setelah menempuh lebih dari dua puluh jam di udara. Mereka semua langsung mengistirahatkan tubuhnya di apartemen masing-masing. Rasya makin terpana dengan segala hal yang baru saja dilihatnya.
"Om, coba tampar aku, sakit apa enggak? Aku kaya ngerasa ini mimpi." Rasya masih belum percaya. Pandu tidak menjawab, hanya mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh sayang.
"Jangan kampungan!" ledek Pandu, tetapi bibir lelaki itu tersenyum lebar.
"Aku emang kampungan, Om. Ish!" Rasya sedikit merengek. Dengan gemas Pandu menggigit pipi Rasya hingga gadis itu memekik. "Sakit, Om!"
"Berarti kamu sedang tidak bermimpi." Pandu menjawab santai diiringi kekehan.
"Om, aku tuh mau nanya sesuatu, tapi bingung." Rasya terlihat begitu ragu-ragu. Pandu menatap istrinya dengan sangat lekat.
"Tanya saja. Aku tidak mau kamu menyimpan apa pun dariku." Wajah Pandu tampak begitu serius.
"Ehm ... aku kok lihat mommy sama daddy sepertinya enggak terlalu suka sama Gea. Itu beneran apa cuma perasaan aku aja, sih, Om?" tanya Rasya ragu. Pandu terdiam sesaat lalu mengendikkan kedua bahunya.
"Jangan terlalu mencampuri atau ingin tahu tentang orang lain. Lebih baik sekarang kita tidur saja." Pandu merapatkan tubuhnya hingga tidak ada jarak di antara dirinya dengan sang istri.
Sementara Rasya pun hanya bisa membisu. Tidak berani bertanya lebih lanjut karena dia merasa Pandu begitu membatasi.
"Om!" panggil Rasya. Membangunkan Pandu yang baru saja memejamkan mata.
"Apa?" tanya Pandu tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Aku laper." Rasya berbicara manja. Pandu pun tersadar kalau mereka belum makan sejak sampai di Amerika.
"Kamu mau makan apa?" tanya Pandu lembut.
"Seblak kayaknya enak, Om." Rasya menjawab santai.
"Kamu yang benar saja! Mana ada seblak di Amerika." Pandu terlihat kesal, tetapi dia mencoba terlihat biasa saja.
"Terus?" Rasya berbalik dan menatap suaminya.
"Biar aku telepon Arga saja." Pandu mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi Arga untuk memesankan makanan.
***
"Memesan makanan untuk Tuan Pandu, Tuan Muda." Arga menjawab sopan, berusaha terlihat biasa saja di depan Gilang.
"Kenapa harus keluar dari apartemen? Kamu bisa memesan lewat ponsel dan makanan akan langsung dikirim ke apartemen Kak Pandu." Gilang terdengar sedikit ketus.
"Saya harus memastikan sendiri kalau makanan yang akan disantap Tuan Pandu benar-benar bersih dan teruji."
"Lebay!" hina Gilang, tetapi Arga justru tersenyum miring.
"Lebay di bagian mana, Tuan? Saya hanya memastikan yang terbaik untuk bos saya dan istri tercintanya," timpal Arga. Dia pun berpamitan untuk pergi dari sana. Menghindari supaya tidak berdebat dengan Gilang yang memang menyebalkan bahkan sering bermulut pedas.
__ADS_1
"Ga!" panggil Gilang, menghentikan langkah Arga yang baru saja hendak menjauh. Arga berbalik, lalu menatap Gilang dengan penuh tanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Arga karena sedari memanggil tadi Gilang justru membungkam mulutnya.
"Maukah kamu memaafkan Gea?" pinta Gilang lirih, tetapi penuh dengan meminta. Arga tidak menjawab, hanya menarik sebelah sudut bibirnya. Namun, tangan lelaki itu terkepal erat. "Kamu sudah salah paham dengan Gea ...."
"Saya harus pergi sekarang, Tuan." Arga menyela. Lalu membungkuk hormat dan segera pergi dari sana. Dia tidak peduli dengan teriakan Gilang yang kembali memanggil namanya.
"Sampai kapan kamu akan terus salah paham seperti ini, Ga? Dengan cara apa pun aku harus menjelaskan kepada Arga. Aku tidak mau Gea terus-menerus sedih." Gilang bergumam. Sebelum akhirnya ikut pergi. Kali ini tujuannya adalah apartemen milik Gea yang selisih lima lantai dengan miliknya.
•••
Selamat pagi gaes
mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau Othor lagi slow-update selama beberapa hari.
karena kesehatan Othor yang tiba-tiba menurun, tapi tetep Othor usahakan biar terus update 🙏
terima kasih atas kesetiaan dan dukungan kalian kepada Othor.
selamat pagi dan selamat menjalani aktivitas dengan baik 😁
Jangan lupa tersenyum, tapi jangan senyum sendiri takut dikira anu 😂😂
__ADS_1