Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
55


__ADS_3

Keluarga Andaksa sudah berdandan rapi dan bersiap untuk berangkat ke tempat pernikahan Pandu. Begitu juga dengan Paijo dan keluarganya yang saat ini sudah berada di kota tanpa diketahui Rasya.


"Pandu, kamu sudah siap?" tanya Lisa saat melihat putra sulungnya sedang berjalan menuruni tangga.


"Sudah, Mom." Pandu menjawab singkat.


"Kalau begitu lebih baik kita berangkat," ajak Ferdinan. Mereka pun bergegas berangkat ke tempat acara.


Pandu hanya berdua dengan Arga dalam satu mobil. Selama dalam perjalanan, Pandu tampak begitu gelisah dan tidak tenang. Arga yang melirik dari kaca kecil pun merasa begitu penasaran dengan raut wajah sang atasan.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Arga menyelidik.


"Ya." Pandu menjawab sekenanya. Arga yang mendengar itu pun makin penasaran.


"Anda terlihat berbeda. Tidak seperti aura pengantin pada umumnya," ucap Arga, kembali melirik Pandu yang terlihat sedang menyandarkan kepala.


"Aku sedang cemas, Ga." Suara Pandu terdengar berat. "Aku takut semua tidak seperti yang aku rencanakan. Aku khawatir ucapanmu soal Rasya yang bisa saja menolak pernikahan ini."


Melihat raut wajah Pandu yang begitu memelas, membuat Arga merasa bersalah. Padahal saat itu dirinya hanya bercanda karena dalam hati Arga sangat menginginkan dua manusia dengan panggilan penyakit kulit itu bersatu.


"Waktu itu saya hanya ingin menggoda Anda, Tuan. Percayalah kalau semua akan berjalan seperti apa yang Anda inginkan. Lagi pula, saat ini Nona Rasya sudah berada di ruang rias." Arga berusaha menenangkan. Pandu menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan dengan perlahan.


"Semoga saja."


***


Rasya menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu cantik dengan riasan make up yang tidak tebal, tetapi membuat kecantikannya makin terpancar jelas. Sementara ketiga sahabatnya juga menatap kagum dan tidak percaya kalau Cinderella versi nyata tersebut adalah sahabat mereka.


"Kalian disuruh siapa, sih, buat culik gue?" tanya Rasya penasaran.


"Jangan kepo. Orang kepo itu biasanya cepet mati." Zahra tergelak sendiri setelah berbicara seperti itu.


"Jangan berbicara seperti itu. Mengingatkanku pada sesuatu." Rasya hampir saja mengucek mata kalau Zety tidak segera menahannya.


"Jangan dikucek, Dodol! Itu bulu mata entar copot jadi kaya kuntilanak," ucap Zety masih dengan menahan tangan Rasya.

__ADS_1


"Ngganjel banget. Mata gue enggak bisa melek." Rasya masih bersikukuh. "Lagian mau ada acara apa, sih, kok gue didandanin ala putri gini."


"Elu mau jadi model, Ra. Jangan lupa entar pas jalan lenggak-lenggok gitu, sambil lambaikan tangan and say hello." Margaretha berbicara dengan bergaya ala model yang sedang berjalan di atas catwalk. Namun, sesaat kemudian, tubuh Margaretha terhuyung karena Rasya mendorong kepalanya dengan cukup keras.


"Kurap! Elu jahat banget astaga." Margaretha mencebik kesal. Bukannya minta maaf, tetapi Rasya justru tergelak keras.


"Ketawa elu jangan lebar gitu, sih, Ra. Enggak sesuai ama penampilan yang cantik dan anggun gini," protes Zety yang membuat tawa Rasya terhenti seketika.


"Ra, elu emang beneran istrinya si Hutan Belantara itu?" tanya Zety penasaran.


"Kepo." Rasya membalas. Zety hampir saja menonyor kepala Rasya, tetapi gerakannya terhenti saat melihat Arga masuk ke ruangan tersebut.


Kening Rasya mengerut dalam hingga membuat alisnya saling bertautan saat melihat kedatangan Arga. Apalagi saat Arga membungkuk hormat di depannya.


"Anda sudah siap, Nona?" tanya Arga sopan.


"Kak Arga kenapa di sini?" Rasya bertanya balik.


"Saya mau menjemput Anda, Nona." Arga mengulurkan lengan supaya Rasya mudah menggandengnya. Rasya yang merasa heran pun dengan menurut menggandeng lengan Arga. Mereka berdua pun segera pergi dari ruangan tersebut dengan diikuti ketiga sahabat Rasya.


Selama berjalan, Arga dalam hati terus saja tertawa. Dia memang sengaja ingin membuat Pandu naik pitam meski pada akhirnya nanti dia akan terkena omelan lelaki tersebut. Rasya yang tidak tahu apa-apa pun hanya tersenyum simpul.


"Kak, ini pernikahan siapa?" tanya Rasya setengah berbisik.


"Teman saya, Nona. Anda akan menjadi pasangan saya di sini. Maaf kalau saya lancang, Nona, tapi kalau bisa kita harus terlihat mesra. Jangan sampai Anda membuat saya malu, Nona." Arga berusaha menahan tawa saat melihat Rasya yang mengangguk mengiyakan. Padahal Arga hanya ingin membuat Pandu kesal.


"Selamat datang kepada mempelai wanita yang terlihat begitu cantik pada malam hari ini. Seperti seorang putri yang turun dari kahyangan." Ucapan pembawa acara tersebut mengalihkan perhatian Rasya. Gadis itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan untuk melihat sang mempelai wanita, tetapi yang Rasya lihat justru seluruh pasang mata di ruangan tersebut tertuju ke arahnya.


"Kak, kenapa aku ngerasa semua lihatin kita?" tanya Rasya heran.


"Karena Anda sangat cantik malam ini, Nona," jawab Arga, membuat senyum malu-malu terlihat jelas di bibir Rasya.


Rasya kembali berjalan anggun dengan tangan masih merangkul lengan Arga. Tidak peduli meski menjadi pusat perhatian. Namun, langkah Rasya seketika terhenti saat melihat Pandu yang tampak begitu gagah berjalan masuk dari pintu seberang.


"Om Panu," panggil Rasya lirih. "Kak, kenapa Om Panu di sini?" tanya Rasya begitu menuntut jawaban.

__ADS_1


"Dan marilah kita sambut mempelai pria yang menjadi raja malam hari ini. Tuan Pandu Nugraha Andaksa." Suara pembawa acara begitu menggema di sana.


"Kak, kenapa mempelai pria Om Panu, terus mempelai wanita siapa?" tanya Rasya masih belum sadar. Entah karena gadis itu terlalu bodoh atau karena terlalu bingung dengan kejutan tersebut.


"Ayo kita jalan lagi, Nona." Arga tidak menjawab. Meski dengan kebingungan, tetapi Rasya akhirnya kembali menurut. Berjalan mendekati Pandu yang sudah bersiap menyambut. Namun, Pandu melangkah lebar saat penglihatannya tertuju ke arah lengan Arga.


"Lepaskan istriku!" bentak Pandu, tetapi Arga masih bersikap santai.


"Bukan saya yang menggandeng istri Anda, Tuan." Arga menjawab tenang. Dia menunjukkan tangan Rasya yang masih merangkul lengannya.


"Lepasin!" Pandu melepas paksa rangkulan tersebut. "Kamu akan menerima hukuman setelah ini, Ga!" seru Pandu. Lalu dirinya merangkul pundak Rasya dan berjalan menuju ke arah panggung. Rasya makin merasa heran.


"Om, ini sebenarnya ada apa, sih?" tanya Rasya.


"Diamlah, dan bersikaplah anggun." Pandu menjawab ketus karena merasa gugup, sedangkan Rasya memutar bola matanya malas.


"Perasaan, Om jutek mulu kalau sama aku. Tinggal bilang aja ini ada, eh ... tunggu dulu." Rasya berhenti, Pandu pun ikut menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?" tanya Pandu.


"Tadi Om Panu dipanggil sebagai mempelai pria, terus mempelai wanitanya siapa?" Rasya kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.


"Aku tidak menyangka teryata kamu bukan hanya aneh tapi juga bodoh," hina Pandu. Rasya mengembuskan napas secara kasar.


"Aku emang bodoh, Om. Enggak usah diperjelas." Rasya melipat kedua tangan di depan dada. "Tinggal jawab kenapa mesti sewot gitu, sih."


"Tentu saja mempelai wanitanya kamu. Memang siapa lagi?" ketus Pandu saking kesalnya.


"Aku?" Rasya menunjuk dirinya sendiri. Pandu tidak menjawab, hanya berdeham dengan cukup keras.


"Astaga, Rasya!" pekik Pandu saat Rasya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Tubuh gadis itu hampir terjatuh ke lantai kalau Pandu tidak menahannya.


"Ra! Bangun, Ra! Jangan bercanda!" Pandu menepuk pipi Rasya untuk menyadarkannya, tetapi Rasya bergeming. Bahkan wajah Rasya justru terlihat memucat. Dengan segera Pandu membopong Rasya. Suasana di ruangan tersebut pun menjadi sedikit tegang.


•••

__ADS_1


maaf ya semalam gagal update karena ternyata mimpi indah lebih menggoda Othor 😂😂


selamat pagi dan selamat beraktivitas guys.


__ADS_2