
Rasya begitu tidak menyangka saat melihat apa yang dilakukan suaminya. Rasya pikir Pandu akan marah besar karena dia sudah kabur dari para pengawal yang Pandu tugaskan untuk menjaga Rasya. Namun, nyatanya Pandu justru memeluknya dengan sangat erat. Bahkan, Rasya bisa melihat kekhawatiran di wajah Pandu.
"Kupikir kamu akan marah, Mas?" tanya Rasya menggoda. Dia membalas pelukan Pandu tidak kalah erat.
"Ya, aku memang marah padamu. Bisakah kamu tidak membuatku khawatir? Apa maksudnya kamu kabur dari pengawal? Kalau ada orang yang jahatin kamu, bagaimana?" omel Pandu.
Bukannya takut, Rasya justru tergelak mendengar Omelan Pandu yang sudah seperti rel kereta api. Dia tidak percaya kalau Pandu bisa mengomel seperti emak-emak komplek yang doyan ghibah.
"Tapi nyatanya aku baik-baik saja 'kan?" Rasya melerai pelukan tersebut dan menunjukkan pada Pandu kalau dirinya benar-benar dalam keadaan baik bahkan tanpa lecet sedikit pun.
Pandu memindai tubuh Rasya dari atas ke bawah seolah tidak percaya. Benar saja, raut wajah Pandu mendadak datar saat melihat sebuah luka lecet kecil di kening Rasya. Tatapan Pandu menajam. Rasya yang melihat itu pun menjadi khawatir sendiri.
"Kenapa keningmu lecet?" tanya Pandu pura-pura. Padahal lelaki itu yakin kalau luka lecet tersebut karena terkena lemparan Zahra tadi.
"I-ini ...." Rasya terdiam. Mengusap keningnya sendiri. Dia merasa begitu gugup, dan takut kalau menjawab yang sebenarnya, nanti Pandu akan marah pada Zahra. "A-aku terbentur tembok." Rasya terbata.
"Kamu yakin? Kenapa kamu begitu gugup?" selidik Pandu.
Rasya tidak menjawab dan justru menarik Pandu supaya masuk ke rumah. Pandu pun hanya menurut. Lelaki itu duduk di sofa, bersebelahan dengan Rasya. Sementara Arga dan Zahra yang sedari tadi hanya diam, kini berdiri di belakang mereka.
Pandu mengusap puncak kepala Rasya dengan sangat lembut. Lalu meniup luka itu seolah sedang mengusir rasa sakit. Padahal Rasya hanya bersikap biasa saja. Baginya, luka tersebut hanyalah luka yang sangat kecil. Akan tetapi, Pandu begitu berlebihan mengkhawatirkannya.
"Jangan lebay sih, Mas. Aku ini bukan anak kecil yang nangis kejer karena luka seperti ini." Rasya mengerucutkan bibir karena merasa sedikit sebal dengan sikap Pandu yang berlebihan.
"Aku tahu itu. Gadis aneh sepertimu mana mungkin bisa merasa sakit," timpal Pandu sedikit ketus.
"Aku bukan gadis!" elak Rasya. Pandu terkekeh saat melihat wajah Rasya yang sedang cemberut. Dengan tanpa malu Pandu menciumi wajah Rasya. Bahkan, tidak ada satu pun yang terlewat.
"Ehem!"
__ADS_1
Gerakan Pandu terhenti saat mendengar suara dehaman dari arah belakang. Pandu berbalik dan tampak jengkel saat melihat Arga sedang berdiri bersama Zahra. Namun, kedua orang itu saling memalingkan wajah.
"Kenapa kamu di sini, Ga?" tanya Pandu sok polos.
"Memangnya saya harus di mana, Tuan?" Arga bertanya balik dengan ketus. Namun, dia langsung menggigit bibir saat melihat Pandu yang menajamkan tatapannya.
"Pergilah. Jangan mengganggu waktuku!" usir Pandu.
"Mas, kamu yang bener aja, sih. Masa iya mereka kamu usir. Kak Arga, Zaenab! Sini, duduk sini. Habis ini kita makan bareng." Rasya mengajak, tetapi dua orang itu tetap bergeming pada posisinya. Mereka takut saat melihat tatapan Pandu.
"Gue di sini aja, Ra." Zahra menolak tanpa berani menatap mereka.
"Emang kenapa, sih, Zae? Elu takut sama Om Panu eh, maksudnya Mas Pandu?" selidik Rasya. Zahra menggeleng, tetapi dia mengedipkan mata memberi kode kepada Rasya.
Paham akan kode yang diberikan oleh Zahra, Rasya pun bangkit berdiri dan justru menarik tangan Zahra dan Arga lalu memaksa mereka untuk duduk. Mereka yang awalnya menolak pun akhirnya hanya bisa menurut dan duduk di depan Pandu juga Rasya.
"Kamu sudah makan, Mas?" tanya Rasya lembut.
Rasya memutar bola mata malas saat mendengarnya, "Bukannya aku sudah ngajak kamu makan, tapi kamu sendiri yang nolak? Kalau begitu mending kita makan aja, yuk."
"Kamu mau makan lagi? Emang kamu belum kenyang?" tanya Pandu tidak percaya. Rasya tidak menjawab, dan hanya menunjukkan rentetan giginya saja.
"Aku belum kenyang kalau belum makan sama kamu, Mas." Ucapan Rasya yang begitu menggoda seketika membuat tubuh Pandu memanas.
'Makan sama kamu' versi Rasya dengan Pandu itu ternyata berbeda. Dalam bayangan Pandu adalah makan yang membuat ketagihan. Aihhh! Pandu memukul sofa saat merasakan sinyal yang menguat hingga membuat adik kecilnya mulai berdiri tegak.
"Aku mau makan kamu di kasur," ujar Pandu asal. Rasya membekap mulut Pandu hingga membuat lelaki itu meronta.
"Jangan bicara sefrontal itu, sih, Mas. Kasihan para jomblo. Ntar ngiler," ucap Rasya diiringi kekehan meledek dua orang jomblo di depannya.
__ADS_1
"Sombong amat elu, Ra!" cebik Zahra. Dia melipat tangan di depan dada sembari mengerucutkan bibir. "Besok kalau gue punya pacar atau suami, gantian gue mau pamer di depan elu."
"Gue tunggu, Zae. Semoga waktu itu segera datang. Lagian, kamu sama Kak Arga cocok, deh. Kalian sama-sama jomblo 'kan?" Rasya menaik-turunkan alisnya menggoda dua orang yang saat ini sedang memutar bola mata malas.
"Maaf, Nona. Tapi saya tidak suka dengan gadis yang ceroboh," elak Arga. Ekor matanya melirik Zahra.
"Jangan gitu, Ga. Meski si Zaenab itu ceroboh, tapi dia baik hati loh, Ga. Rajin sedekah. Rajin ngasih sama ngajarin anak ya—"
"Kurap! Elu bisa diem kagak?" sela Zahra setengah membentak. Rasya tergelak saat melihat raut wajah yang sahabatnya yang penuh dengan kekesalan.
"Sudahlah. Katanya kamu mau makan." Pandu menengahi.
"Ayo, Mas. Aku mau makan seblak." Rasya bangkit berdiri dengan sangat antusias. Namun, Pandu justru mematung di tempatnya.
"Astaga, bisakah kamu berhenti makan seblak? Kamu tidak bosen dengan makanan itu?" Pandu menggeleng dengan tingkah istrinya.
"Enggak, Mas. Seperti cintaku kepadamu yang enggak ada bosen-bosennya," rayu Rasya. Mengedipkan sebelah mata dengan bibir tersenyum menggoda.
Pandu yang sudah merasa begitu gemas pun segera menarik tubuh Rasya supaya duduk di pangkuannya. Tangan Pandu melingkar di pinggang Rasya agar wanita itu tidak bisa kabur.
"Mulutmu itu kenapa manis sekali?" Pandu mencium pipi Rasya tanpa malu. Bahkan, dia seolah sengaja melakukan itu di depan Arga dan Zahra. "Sebelum makan sepertinya aku harus memberi kamu hukuman karena sudah kabur dan membuatku khawatir." Sudut bibir Pandu tertarik. Rasya yang paham akan tatapan suaminya hanya memutar bola mata malas.
"Mas, inget kita di rumah kontrakan."
"Memangnya kenapa?"
"Di sini cuma ada satu kamar."
"Terus?"
__ADS_1
"Terusin aja sendiri! Masa iya kaya gitu enggak mudeng juga!"
Pandu tergelak mendengar jawaban Rasya yang begitu ketus. Dia pun mencium bibir Rasya dengan lembut. Sementara Rasya melambaikan tangan menyuruh Zahra dan Arga untuk keluar terlebih dahulu.