Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
53


__ADS_3

"Ma-maksud Nona?" tanya Rasya masih belum sepenuhnya percaya.


"Kak Amira dinodai mantan kekasihnya dulu, dua bulan sebelum kejadian itu terjadi. Sampai akhirnya Kak Amira hamil. Tapi di depanku, Kak Amira bersikap seolah tidak terjadi apa-apa." Gea mengusap air mata yang masih mengalir, sedangkan Rasya bergidik ngeri membayangkan semua itu.


"Nona, apa Om Panu tahu?" Rasya terlihat begitu penasaran.


"Kak Pandu baru tahu saat Kak Amira kritis, dan mantan kekasih Kak Amira meninggal dunia. Kamu tahu ... padahal Kak Pandu sudah bersedia akan mengasuh dan menganggap anak Kak Amira seperti anaknya sendiri kelak saat sudah lahir, tapi Kak Amira justru pergi selamanya." Air mata Gea makin deras mengalir. Rasya juga tak kuasa menahan air matanya. Dengan cepat Rasya menyeka. Membayangkan saja sudah sesakit ini apalagi mengalami kejadian seperti itu.


"Nona, Anda bisa mengirimkan doa supaya kakak Anda tenang di alam sana." Rasya berusaha menghentikan tangisan Gea yang makin mengeras.


"Ra ...." Gea terdiam sesaat, sedangkan Rasya tampak gugup, cemas Gea akan berkata yang tidak-tidak kepadanya. "Maukah kamu berjanji padaku untuk menjaga dan belajar mencintai Kak Pandu?" Gea menatap Rasya dengan begitu memohon.


Rasya terdiam untuk beberapa saat, "Nona, saya tidak bisa berjanji untuk hal seperti itu. Cinta itu soal perasaan dan semua tidak bisa dipaksa."


"Kalau begitu jawablah dengan jujur dan cepat. Apakah kamu mencintai Kak Pandu?" tanya Gea, tetapi Rasya justru membungkam mulutnya rapat-rapat. Dia tidak berani menatap Gea, hanya menunduk dalam dengan tangan saling merem*s.


"Nona, maafkan saya." Suara Rasya terdengar begitu berat.


"Berhentilah selalu minta maaf di saat kamu tidak melakukan kesalahan apa pun! Lagian, tidak perlu dijawab karena aku sudah tahu jawabannya," kata Gea. Rasya mendongak, menatap Gea yang sudah tersenyum lebar saat ini.


"Kalau begitu aku permisi saja. Urusanku sudah selesai sekarang." Gea hendak beranjak pergi, tetapi Rasya menahan lengan wanita itu.


"Nona, hari hampir malam. Kalau Anda sudi lebih baik menginap di sini semalam. Besok pagi saya akan mengantar Anda pulang ke kota. Saya juga sudah sangat merindukan teman-teman saya," suruh Rasya. Gea menatap Rasya sesaat, lalu mengangguk lemah sebagai jawaban. Rasya bersorak kegirangan, bahkan dia segera membersihkan tempat tidurnya.


***


Pandu berdiri tegak dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang sudah dipenuhi dengan dekorasi pernikahan yang sangat mewah. Senyum di bibir Pandu mengembang sempurna. Bayangan pernikahan resmi dengan Rasya terus saja menggoda.


"Tuan, Anda yakin semua akan berjalan lancar?" tanya Arga ragu.


"Pasti. Aku sudah bilang sama ibu mertua dan dia bilang besok Rasya akan ke kota." Senyum di bibir Pandu tidak memudar sedikit pun.

__ADS_1


"Nona Rasya sudah tahu? Kalau sudah lantas apa fungsinya Anda membuat kejutan, Tuan?" Arga bertanya dengan sedikit kesal.


"Belum. Kata ibu mertua, dia ke kota karena ingin bertemu semua sahabatnya," jawab Pandu. Arga tidak lagi menanggapi, hanya berdiri tenang di belakang Pandu.


"Bagaimana dengan Nona Gea, Tuan?" tanya Arga setelah cukup lama mereka hanya diam saja.


"Setelah pernikahan ini, aku akan membawa Gea pulang ke Amerika. Kamu jangan merindukan kekasih masa kecilmu itu," ledek Pandu.


"Tidak akan, Tuan! Saya tidak akan melakukan hal yang tidak penting seperti itu. Waktu saya terlalu berharga." Arga membantah. Namun, Pandu justru tergelak keras. Arga yang mendengar gelakan tawa atasannya tersebut pun hanya mendengkus kasar.


"Jangan tertawa dulu, Tuan. Saya tidak yakin Nona Rasya akan menerima semua ini. Anda harus menyiapkan mental kalau Nona Rasya masih menolak," ucap Arga menghentikan tawa Pandu begitu saja. Wajah Pandu mendadak pias, tidak ada sedikit pun senyuman terlihat di wajah lelaki itu.


"Mana mungkin dia menolak semua ini. Bahkan banyak wanita yang menginginkan sebuah kejutan dari pria romantis," bantah Pandu. Dia berusaha berpikir positif meski dalam hati kecilnya mulai merasa ragu karena ucapan Arga.


"Anda jangan lupa kalau Nona Rasya tidak seperti wanita kebanyakan, Tuan." Arga berkata tegas membuat Pandu makin merasa gelisah. Berbagai pikiran jelek mulai datang menghantui, tetapi sebisa mungkin Pandu berusaha menepis dan meyakinkan diri kalau semua akan berjalan sebagaimana mestinya.


"Kalau begitu, aku akan memberimu tugas untuk membuat Rasya menerima pernikahan ini tanpa penolakan sedikit pun. Aku akan menggajimu tiga kali lipat," kata Pandu.


"Kenapa kamu tidak mau? Pikirkan, Ga. Tiga kali lipat gajimu bisa untuk membeli sebuah mobil." Pandu masih berusaha merayu. Namun, Arga sama sekali tidak tergoda.


"Lalu kamu mau apa?" tanya Pandu berusaha menahan kekesalannya. Dalam hati dia mengumpati Arga yang seolah memanfaatkan keadaan.


"Saya hanya punya satu permintaan, Tuan."


"Apa?" sela Pandu tidak sabar.


"Saya ingin Anda memberi izin libur kepada saya selama dua minggu."


"Kamu jangan gila, Ga!" hardik Pandu. Arga menutup kedua telinga karena teriakan Pandu seperti akan memecahkan gendang telinga.


"Saya masih waras, Tuan, dan tampan tentunya," kelakar Arga. Kekesalan Pandu makin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi tertular istriku yang aneh itu," cebik Pandu sembari mengembuskan napas kasar.


"Meskipun aneh seperti itu, tapi dia istri Anda, Tuan, dan saya yakin Anda akan bucin padanya." Arga seolah tidak takut. Pandu lebih memilih pergi daripada harus meladeni Arga yang menyebalkan. Arga pun terkekeh lalu berjalan di belakang bosnya.


***


"Kamu mau ke mana, Lang?" tanya Lisa saat melihat putranya yang sudah berdandan rapi.


"Aku mau pergi, Mom. Jemput Gea," sahut Gilang. Wajah Lisa mendadak datar setelah mendengar nama Gea.


"Kenapa kamu dekat dengan wanita genit seperti dia?" Lisa bertanya ketus. Gilang merangkul pundak sang mama dan mendaratkan ciuman di pipi wanita paruh baya tersebut.


"Gea tidak genit, Mom." Gilang membantah. Lisa menjadi makin kesal.


"Kalau bukan wanita genit, kenapa setelah kematian Amira dia selalu menempel pada kakakmu?" Gilang tersenyum melihat bibir sang ibu yang mengerucut seperti anak kecil.


"Udah emak-emak kenapa masih kaya bocah, sih, Mom. Rasanya pengen aku kucir nih bibir." Gilang mencubit pelan bibir Lisa hingga membuat wanita paruh baya itu memekik.


"Gea itu dekat dengan Kak Pandu karena menjalankan amanat dari Kak Amira." Ucapan Gilang membuat Lisa menatapnya dengan heran.


"Amanat apa?" tanya Lisa penasaran.


"Kapan-kapan aku ceritain, Mom. Aku mau pergi dulu keburu kemaleman. Aku sayang Mommy." Gilang kembali mencium Lisa sebelum akhirnya pergi dari sana tanpa peduli pada teriakan Lisa yang menggema.


"Dasar anak nakal!" cebik Lisa, menatap punggung putra bungsunya yang perlahan lenyap dari pandangan.


****


Lanjut gaes?


Jangan lupa perbanyak dukungan biar Othor semangat buat terus update 😁

__ADS_1


__ADS_2