Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
60


__ADS_3

Rasya menggeliat, merasakan tubuhnya begitu kaku. Dia berbalik dan tersenyum lebar saat melihat Pandu yang masih terlelap dalam tidurnya. Tanpa sadar, Rasya mengusap pipi Pandu dan berkali-kali memuji ketampanan lelaki itu.


"Aku enggak nyangka kalau mimpiku bakal jadi kenyataan. Punya suami cakep biar enggak malu-maluin pas di ajak kondangan. Coba aja kalau aku jadi nikah sama si Parjan." Rasya bergidik ngeri meski hanya membayangkan.


"Aku juga mau pamer sama tiga cecunguk itu. Kalau seorang Kurap bisa dapat suami tampan walaupun enggak jauh beda. Namanya Panu." Rasya terkikik lirih karena takut akan membangunkan Pandu.


"Ya walaupun udah bekas cewek lain, kalau cinta mah bisa apa? Kayaknya otakku gegar deh, jatuh cinta sama buaya yang suka masuk lubang sembarangan." Rasya masih mengelus pipi Pandu dengan lembut.


"Ehem!"


Bola mata Rasya membola sempurna saat mendengar Pandu berdeham. Namun, dengan cepat dia memejamkan mata, berpura-pura tidur. Pandu tersenyum saat melihat mata Rasya yang terpejam, tetapi bergerak-gerak perlahan. Tanpa berbicara, Pandu mengecup bibir Rasya yang membuat mata Rasya kembali terbuka seketika.


"Aku tahu kamu pura-pura tidur." Pandu tersenyum meledek. Rasya menunjukkan rentetan gigi putihnya, merasa malu karena sudah ketahuan.


"Terima kasih sudah memuji ketampananku," kata Pandu diiringi tawa meledek, sedangkan Rasya memutar bola mata malas.


"Jangan ge-er, Om," cebik Rasya. Pandu dengan gemas menghujami seluruh wajah Rasya dengan banyak ciuman.


"Lebih baik sekarang kamu mandi lalu sarapan."


Mendengar kata mandi membuat Rasya tersadar. Dia bergegas bangun lalu melihat sprei, embusan napas lega terlihat keluar dari mulut Rasya saat gadis itu tidak melihat bekas darah di sana.


"Kenapa?" tanya Pandu heran.


"Aku takut bocor. Aku mau ganti sekalian mandi dulu." Rasya segera turun dari tempat tidur, tetapi baru saja kakinya menyentuh lantai, dia sudah kembali berhenti.


"Apa lagi?" tanya Pandu saat melihat sorot mata Rasya yang terlihat penuh kebimbangan.


"Om, aku enggak bawa baju ganti." Rasya cengengesan.


"Mandilah, untuk urusan itu biar aku yang urus," kata Pandu. Rasya berjalan cepat menuju ke tempat Pandu, mencium pipi lelaki itu lalu bergegas pergi menuju ke kamar mandi.


"Terima kasih banyak, Om!" teriak Rasya dari dalam kamar mandi. Pandu hanya menggeleng melihat tingkah istrinya yang menyebalkan, tetapi juga menggemaskan.


Setelah pintu tertutup rapat, Pandu segera menghubungi Arga untuk mencarikan gaun yang sekiranya pas untuk Rasya.


***


"Kak, kamu mau ke mana?" tanya Gea. Arga hanya melirik sekilas tanpa berniat menjawab. "Kak Arga!"


"Kamu ngapain sih, Ge!" Gilang menahan lengan Gea supaya gadis itu tidak mengejar Arga yang bersikap tidak peduli.

__ADS_1


"Lang." Gea menatap Gilang dengan memelas. Gilang menarik lengan Gea dan mengajaknya pergi dari sana. Gea tidak menolak sama sekali, tetapi sesekali dia menoleh ke belakang, melihat bayangan Arga yang perlahan menjauh.


"Kita mau ke mana, Lang?" tanya Gea heran.


"Kita harus bersiap-siap karena besok aku akan mengajakmu ke Amerika."


"Amerika?" tanya Gea dengan mata terbuka lebar. Gilang mengangguk cepat lalu menyuruh Gea untuk masuk ke mobil.


"Kenapa, Lang? Aku masih mau di sini." Gea menahan pintu mobil.


"Tidak! Kak Pandu menyuruhku membawamu kembali ke Amerika setelah pesta pernikahannya selesai. Aku akan menemanimu di sana," kata Gilang tegas.


"Lang ...." Gea menunduk dalam karena merasa ragu. Gilang yang begitu paham pun segera menarik tubuh Gea masuk dalam dekapannya.


"Pelan-pelan aku akan yakinkan mommy dan daddy kalau kamu bukan wanita seperti yang mereka kira," kata Gilang menenangkan. Gea pun melingkarkan tangan membalas pelukan Gilang.


"Gilang!"


Pelukan itu terlepas saat mendengar seseorang memanggil dengan penuh penekanan. Mereka terkejut saat melihat siapa yang sedang berjalan mendekat, sedangkan Gea langsung menunduk sangat dalam dengan tangan meremas gaun yang dikenakan. Tubuh Gea gemetar, tetapi dengan santai Gilang merangkul pundak gadis itu.


"Ada apa, Dad?" tanya Gilang santai.


"Kamu ini jangan memeluk gadis sembarangan!" bentak Ferdinan.


"Apa kamu tidak tahu kalau dia selalu menggoda Pandu setelah Amira meninggal? Padahal dia adalah ...."


"Cukup, Dad!" potong Gilang. "Besok aku akan berangkat ke Amerika bersama Gea."


"Berani kamu pergi dengan wanita itu maka Daddy tidak akan memberimu uang bulanan!" ancam Ferdinan, tetapi Gilang justru masuk ke mobil dengan santai.


"Aku tidak peduli, Dad. Aku bisa cari uang sendiri. Aku akan buktikan ke Daddy dan mommy kalau Gea bukan wanita yang seperti kalian kira selama ini." Gilang melajukan mobilnya tanpa peduli pada teriakan dan ancaman Ferdinan.


"Anakmu, Mom!" bentak Ferdinan ke arah Lisa tanpa sadar.


"Kamu pikir dia juga bukan anakmu?" balas Lisa tak kalah seru. Dia merasa sakit karena jarang sekali Ferdinan membentaknya.


"Maafkan aku." Ferdinan memeluk Lisa erat dan mencium puncak kepala wanita itu berkali-kali. Dia merasa begitu bersalah karena sudah membentak istrinya.


"Mas, perasaanku mengatakan kalau Gea tidak seburuk yang kita kira selama ini. Kemarin Gilang sempat bilang kalau Gea hanya menjalankan amanat dari Amira," kata Lisa lirih.


"Amanat apa?" tanya Ferdinan.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu karena Gilang belum menceritakan semuanya."


"Kalau begitu nanti aku selidiki. Lebih baik sekarang kita istirahat. Kamu pasti lelah karena pesta semalam." Ferdinan mengajak Lisa kembali ke kamar.


***


"Tuan, Anda cari apa?"


Arga terkejut saat seseorang menepuk punggungnya. Dia berbalik untuk melihat siapa orang itu. Namun, dia hanya mengembuskan napas kasar saat melihat gadis yang tidak asing baginya, sedang tersenyum ke arahnya.


"Bukankah kamu teman Nona Rasya?" tanya Arga, memicingkan mata untuk memastikan penglihatannya tidaklah salah.


"Iya, Tuan." Zahra mengangguk mengiyakan. "Apa yang Anda cari, Tuan?" tanyanya.


"Kamu karyawan di sini?" Arga menatap Zahra dari atas sampai bawah hingga membuat Zahra merasa risih.


"Jangan menatap saya seperti itu, Tuan. Bukankah Anda bisa melihat logo butik ini?" Zahra menunjukkan logo di bagian dada. Namun, Arga justru terdiam menatap lekat dua bukit kembar yang terlihat menonjol. Melihat tatapan Arga yang penuh napsu, dengan segera Gea menutup dengan kedua tangannya.


"Jangan mesum, Tuan. Atau saya akan melaporkan Anda ke security," ancam Zahra. Namun, dia segera mundur saat Arga mendekat bahkan sampai tubuh Zahra menempel di tembok.


"Ja-jangan macam-macam, Tuan." Zahra terbata karena merasa begitu gugup. Apalagi saat wajah Arga begitu dekat dengannya dan hangat napas lelaki itu menerpa wajah Zahra hingga membuatnya makin gemetar.


"Lain kali kalau resleting celana rusak itu diganti, jangan cuma dikunci pakai peniti yang bisa lepas kapan saja." Setelah berbisik di telinga Zahra, dengan gagah Arga berjalan meninggalkan Zahra yang sedang mematung. Sembari berjalan, Arga tak kuasa menahan tawanya.


Setelah kesadarannya kembali, Zahra segera melihat resletingnya yang memang telah terbuka hingga CD gambar Elsa Frozen terpampang jelas. Zahra berbalik lalu membenturkan kepala ke tembok berkali-kali dengan perlahan.


"Ya Tuhan. Rasanya aku ingin mati saat ini juga," gumam Zahra. Rasanya dia begitu malu dan merasa menjadi gadis paling sial di dunia ini.


"Eh, tapi aku belum kawin. Ya Tuhan, aku cabut doa yang kuucapkan tadi. Aku cuma bercanda. Malaikat, jangan catat dulu ya."


••••


Ciee ada yang kangen sama Othor?


maksudnya kangen sama Panu Kurap.


Mohon maaf slow update karena lagi ada sesuatu di dunia nyata, jadi bab selanjutnya nanti Othor update setelah selesai ketik.


Jangan lupa dukungan kalian selalu Othor tunggu.


Kayaknya Othor butuh bunga sama kopi untuk penyegaran otak nih, kasih dong 😁😁

__ADS_1


#modemalak


__ADS_2