
Pandu membuka pintu kamar dan memasang wajah malas, saat melihat Arga yang sedang berdiri dengan membawa paperbag. Tatapan Pandu ke arah Arga menajam saat melihat bibir asistennya itu sedang tersenyum seolah meledek. Pandu meraih paperbag dari tangan Arga dengan sedikit kasar.
"Aku belum menghukummu, Ga." Suara Pandu terdengar datar dan penuh penekanan. Arga menelan ludahnya secara kasar. Berharap hukuman yang dia terima tidaklah berat.
"Antar Gea ke Amerika besok sama Gilang juga, dan aku beri kamu waktu dua minggu untuk berada di sana. Bukankah kamu meminta libur selama dua minggu?" Pandu menarik sudut bibirnya tersenyum miring.
"Tuan, saya tidak jadi ambil libur. Saya akan di sini saja," tolak Arga, tetapi Pandu mengeleng cepat tanda melarang.
Arga menghela napas panjangnya, tetapi sesaat kemudian bibirnya tersenyum licik karena sudah memiliki ide. Pandu pun menyeringai saat melihat raut wajah Arga.
"Sayangnya kamu tidak bisa ke mana-mana setelah sampai di Amerika. Aku sudah menyiapkan tiket pesawat untukmu, dan memblokir namamu di bandara mana pun," kata Pandu, memudarkan senyum Arga karena niatnya sudah bisa ditebak.
"Tuan ...."
"Satu lagi," sela Pandu. "Kalau kamu menolak maka aku akan berhentikan kamu secara tidak terhormat." Pandu masuk lalu menutup pintu rapat tanpa peduli pada Arga yang saat ini sedang mengumpat kesal.
"Tunggu dulu." Arga bergumam sendiri. "Aku 'kan cuma tidak bisa ke negara mana pun kecuali Amerika, sedangkan negara itu sangat luas jadi aku bisa berada di tempat yang jauh dari wanita itu." Wajah Arga berbinar bahagia karena pemikirannya sendiri.
"Tuan Pandu memang terkadang bodoh." Arga terkekeh mengumpati atasannya itu. Dengan wajah semringah Arga hendak bergegas pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Dengan segera Arga menarik keluar benda pipih tersebut dari saku jasnya. Kening Arga mengerut saat melihat nama Pandu tertera di layar.
"Ada apa, Tuan?" tanya Arga malas.
"Aku lupa, Ga, kalau sudah menyiapkan apartemen untukmu. Selain di apartemen itu kamu tidak akan diterima. Selamat berlibur." Pandu mematikan panggilan itu secara sepihak.
Arga merem*s ponsel saking kesalnya. Dia tidak menyangka kalau Pandu sudah menyiapkan hukuman yang begitu matang untuknya. Arga bisa menduga kalau dia berada dalam satu apartemen bersama Gea juga Gilang.
"Semoga saja hatiku baik-baik saja." Arga berjalan lesu untuk kembali ke apartemen untuk bersiap-siap. Karena mau tidak mau dia tetap harus berangkat ke sana daripada harus dipecat.
***
"Suketiii!!!!" Teriakan Zahra dari ambang pintu membuat Zety yang berada di kamar segera berlari keluar karena khawatir terjadi apa-apa dengan sahabatnya.
"Elu kenapa, Zae?" tanya Zety cemas. Dia meneliti seluruh tubuh Zahra, tetapi tidak ada satu pun yang lecet ataupun luka. Semua dalam keadaan baik-baik saja.
"Huaaaaa." Bukannya menjawab, Zahra justru berpura-pura menangis keras hingga membuat Zety kalang kabut. Dia ikut duduk di samping Zahra yang baru saja menjatuhkan bokongnya di atas sofa.
__ADS_1
"Elu kenapa, sih, Zae?" Zety begitu menuntut. Namun, Zahra justru menangis tergugu.
"Gue malu." Zahra menjawab disela isakannya.
"Malu?" tanya Zety, Zahra mengangguk dengan cepat. "Tumben malu, biasanya juga malu-maluin," ledek Zety.
Tangisan Zahra terhenti, lalu melirik Zety dengan tajam. Zety yang menyadari itu hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya dengan jari menunjuk tanda damai.
"Udah, jangan nangis, sih, nanti kecantikan elu yang paripurna bisa ilang, loh." Zety seolah tidak puas menggoda sahabatnya itu.
"Jangan ngeledek, deh, Suk!" Zahra mencebik kesal dengan tangan terlipat di depan dada.
"Udah, deh. Jangan kebanyakan basa-basi. Elu kenapa pulang kerja nangis-nangis kaya habis putus cinta?" tanya Zety lagi.
"Ini itu lebih menyakitkan dari sekedar putus cinta," sahut Zahra.
"Lalu? Memang ada yang lebih menyakitkan dari putus cinta?" Kening Zety mengerut dalam.
"Ada."
"Apa?"
"Elu tuh yang mulutnya minta sekolah," cibir Zety. "Sebenarnya elu kenapa, sih, Zae? Banyakan omong!" Zety mengomel saking kesalnya.
"Gue barusan ketemu cowok cakep ...."
"Siapa?" sela Zety tidak sabar. Kini, giliran tangan Zahra yang mendarat di kepala sahabatnya.
"Astaga, elu kalau soal cowok cakep langsung gercep, ya, Suk!" cibir Zahra. "Itu loh, cowok cakep asisten lakinya si Kurap."
"Tuan Arga?" Zety memotong. Zahra mengangguk cepat. "Terus kenapa elu malah nangis ketemu cowok cakep?"
"Gue itu nangis karena malu, Suk. Elu tahu enggak?"
"Enggak! Aduh!" Zety mengusap tabokan Zahra di tangannya.
__ADS_1
"Nyebelin!" Zahra mencebik sebelum akhirnya menceritakan kejadian tadi di toko. Zety awalnya hanya diam menyimak, tetapi setelah selesai bercerita Zety terbahak-bahak bahkan sampai air matanya keluar.
Kekesalan di hati Zahra pun makin menjadi-jadi. Dia menghentakkan kaki untuk meluapkan, tetapi Zety justru makin tergelak keras.
"Diem sih, Suk!" suruh Zahra, tetapi tawa sahabatnya tidak meredam sama sekali.
"Lagian elu, Zae. Udah tau celana resleting rusak kenapa mesti dipakai, cuma dijepit pakai peniti pula." Zety memegangi perutnya yang terasa kram karena terlalu banyak tertawa.
"Lah, gimana lagi, Suk? Enggak ada celana lagi. Belum pada kering. Mau beli, belum gajian." Zahra merengek manja.
"Astaga, kasihan banget elu, Zae. Makanya kaya si Kurap, noh. Dapet laki tajir, ganteng, pengen apa enggak susah-susah nunggu gajian."
"Ingat, Suk! Enggak semua orang memiliki nasib yang beruntung. Manusia itu memiliki takdir hidupnya masing-masing. Yang penting kita harus saling tolong-menolong sesama manusia. Membantu orang lain yang sedang butuh."
"Cakep! Tumben amat otak elu mikir waras gitu," ledek Zety.
"Ya iyalah. Udah pasti." Zahra menepuk dada tanda bangga.
"Enggak sia-sia gue punya temen kaya elu. Gue bener-bener beruntung banget." Zety menepuk pundak Zahra dengan bibir tersenyum lebar.
"Haruslah. Karena manusia harus saling tolong-menolong, jadi jangan lupa utangin gue duit buat makan. Duit gue udah habis buat beli ini celana." Perkataan Zahra membuat senyum Zety memudar seketika, digantikan embusan napas kasar. Tepukan di pundak Zahra beralih kencang hingga gadis itu mengerang kesakitan.
"Edan elu, Suk! Sakit, oe!" Zahra mengusap pundaknya yang sudah memanas.
"Gue pikir elu beneran waras, ternyata elu ada udang di balik bakwan."
"Enak dong!"
"Asem!" Zety kembali menonyor kepala Zahra. "Bilang aja elu mau utang, pakai ceramah segala, sok-sok'an ngasih kata-kata bijak pula," cibir Zety.
Zahra cengengesan, "Pokoknya jangan lupa utangin gue. Ntar gue balikin pas gajian." Tanpa peduli pada mulut Zety yang ngedumel, Zahra dengan santai melengang ke kamar begitu saja.
"Dasar! Punya temen gini semua. Apa gue harus pelihara sugar daddy biar cepet kaya kali, ya."
"Sugar daddy itu apa, Suk?"
__ADS_1
"Astaga!" Zety mengusap dada karena terkejut dengan Margaretha yang datang tiba-tiba. "Elu bisa enggak jangan bikin gue jantungen? Kalau gue mati muda gimana? Ingat, Mar! Gue belum nikah." Zety bangkit berdiri lalu menyusul Zahra ke kamar.
"Tuh anak kenapa?" gumam Margaretha, menggeleng heran melihat sahabatnya yang seperti emak-emak tidak diberi jatah uang bulanan.