Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
74


__ADS_3

Pandu masuk ke kamar lalu menyuruh Rasya duduk di atas kasur secara paksa. Rasya tidak menolak atau melawan seperti biasanya karena saat ini dirinya merasa sudah bersalah. Pandu duduk di tepi tempat tidur samping Rasya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapan tajam ke arah Rasya sama sekali tidak terlepas.


"Kenapa kamu berbohong?" tanya Pandu dengan suara tinggi.


"Ma-maaf, Om." Rasya menunduk makin dalam. Bahkan jantungnya sudah berdebar sangat kencang. "Aku cuman takut, Om."


"Takut kenapa? Takut aku melukaimu? Meskipun kamu menyebalkan, tapi aku tidak akan pernah melukaimu!" omel Pandu. Meluapkan semua kekesalannya.


"Aku takut, Om. Katanya malam pertama itu sakit banget." Jari Rasya membuat bulatan kecil menggunakan jempol dan pangkal telunjuk, lalu dia memasukkan telunjuk kiri ke lubang tersebut. "Lubang semut dimasukin ular, pasti rasanya sakit, Om."


Otak Pandu justru berkelana melihat telunjuk Rasya yang keluar masuk lubang tersebut. Namun, dia berusaha keras untuk mengusir pikiran itu.


"Kamu belum tahu rasanya. Kalau sudah tahu aku yakin kamu akan ketagihan." Pandu berbicara tegas. Tubuhnya mulai gelisah karena otak kotornya mulai meracuni pikiran.


"Om ...." Rasya terdiam saat Pandu sudah membungkam mulutnya dengan mulut lelaki itu. Bahkan, dengan perlahan Pandu merebahkan tubuh Rasya lalu menindihnya.


Lidah mereka saling berbelit, bahkan dengan lihai Pandu mengakses seluruh rongga mulut Rasya. Tangannya mulai merem*s bukit kenyal yang kini cocho chipnya sudah mulai terasa mengeras. Secara refleks Rasya mengusap leher Pandu hingga membuat gelora lelaki itu makin menggebu.


Setelah puas dengan ciuman bibir, Pandu menurunkan ciumannya di leher jenjang Rasya. Mencetak banyak tanda kepemilikan di sana. Rasya hanya menikmati sentuhan dari suaminya yang menciptakan gelayar aneh yang menjalar ke seluruh tubuh.

__ADS_1


Entah sejak kapan, gaun yang dikenakan Rasya sudah terbuka bahkan Pandu sudah bertelanjang dada. Pandu menikmati dua bukit kenyal yang hanya sebesar genggaman satu tangan. Menyesap perlahan dengan satu tangan merem*s. Rasya menggigit bibir bawah untuk menahan desah*n agar tidak keluar.


"Mendes*hlah. Hanya kita di sini." Suara Pandu terdengar memburu karena sudah dipenuhi napsu. Akhirnya, suara erotis itu pun keluar dan membuat Pandu makin bersemangat. Jarinya mulai turun, menyentuh lubang semut yang mulai basah. Rasya menutup paha karena malu, tetapi karena kelihaiannya memberi rangsang*n, akhirnya Rasya hanya bisa menurut. Menikmati semua perasaan nikmat dan geli yang bercampur menjadi satu.


Sentuhan demi sentuhan Pandu berikan supaya Rasya tidak tegang. Namun, di saat mereka sudah sama-sama tidak berbalut sehelai benang pun, dan Pandu bersiap mengarahkan ular miliknya. Rasya menutup wajah karena takut. Bahkan, dia kembali menutup paha secara rapat.


"Aku takut, Om." Rasya mengintip dari sela jarinya. Pandu kembali menindih tubuh Rasya dan mendaratkan banyak ciuman di seluruh wajah istrinya.


"Aku akan melakukannya dengan pelan dan lembut." Pandu berkata pelan dan beberapa mengecup titik sensitif dari tubuh Rasya. Akhirnya, Rasya mengangguk cepat sebagai tanggapan.


Bibir Pandu tersenyum lebar melihatnya. Lalu memosisikan diri lagi bersiap menerjang lubang semut milik Rasya. Pandu benar-benar melakukan dengan perlahan dan penuh kelembutan.


"Apakah masih sakit?" Pandu berkata lembut. Dia mencium kedua mata Rasya yang berkaca-kaca. Rasya tidak menjawab, hanya mengangguk pelan dan berusaha menahan rasa sakit dan panas di inti tubuhnya paling bawah.


Pandu pun menghentikan gerakannya tanpa mengeluarkan ular kasur tersebut dari sarang semut. Namun, bibirnya terus saja memberi sentuhan. Di saat Rasya sudah tenang, dengan perlahan Pandu memaju-mundurkan ularnya. Rasya pun mulai menikmati. Rasa sakit tadi, terganti dengan rasa nikmat yang begitu susah dijelaskan.


"Om," des*h Rasya saat Pandu mulai memompa tubuhnya.


"Sebutlah namaku di setiap des*hanmu." Pandu masih terus memompa. Dia juga merasa sangat nikmat karena baru kali ini bercinta dengan perawan. Rasanya benar-benar sempit. Rasya tidak menjawab, hanya menikmati sogokan demi sogokan yang mampu membuat tubuhnya menggelinjang hebat.

__ADS_1


"Jangan memanggilku om, aku ini suamimu," suruh Pandu di sela gerakannya. Rasya hanya mengangguk mengiyakan.


"Mas Panu," des*h Rasya saat mencapai ******* bersamaan dengan Pandu yang juga sampai pada puncaknya.


••••


udah lunas janji Othor nih


jangan lupa kasih hadiah buat Othor dong.


kisah ini masih terus berlanjut jadi Othor tunggu dukungan kalian.


selamat pagi guys, selamat beraktivitas


menyambut bulan Ramadhan, Othor meminta maaf apabila ada salah dalam berkata maupun bersikap.


selamat menjalani ibadah puasa esok hari buat yang menjalankan.


jangan lupa senyum 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2