Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
59


__ADS_3

Pandu masih sibuk di kamar mandi untuk menidurkan adik kecilnya yang minta disentuh, sedangkan Rasya masih asyik di bawah selimut menanti kedatangan orang yang membelikan pembalut untuknya. Pintu kamar terdengar diketuk dari luar saat Pandu baru saja keluar dari kamar mandi. Baru saja hendak turun dari tempat tidur, Pandu melambai untuk melarang.


"Biar aku saja," kata Pandu. Rasya hanya menatap Pandu yang perlahan menjauh.


Ketika pintu dibuka, Pandu mendengkus kasar saat melihat ketiga sahabat Rasya sedang berebutan untuk masuk ke kamar tersebut. Dengan segera Pandu berdiri di tengah pintu untuk menghalangi mereka.


"Tuan, di mana ...."


"Di mana roti kering itu?" tanya Pandu tanpa basa-basi. Dengan sedikit takut, Zety menyerahkan kantong kresek warna hitam. Pandu meraih kresek tersebut lalu menutup pintu tanpa peduli pada ketiga sahabat Rasya yang sedari tadi terus menggedor pintu kamar itu.


"Siapa, Om?" tanya Rasya heran. Pandu tidak menjawab, hanya mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas. Rasya pun menajamkan pendengarannya. "Kok suaranya Suketi, Zaenab, sama Markonah, ya."


"Hallo. Panggil petugas hotel untuk mengganti sprei dan juga panggil penjaga keamanan untuk membawa pergi tiga gadis rusuh di depan kamarku." Pandu mematikan panggilan itu lalu meletakkan ponselnya secara sembarang.


"Om, dia temen aku." Rasya mencebik.


"Tidak peduli!" ketus Pandu. Dia dengan santai memakai baju tidur yang sudah tersedia di sana. Rasya yang merasa kesal, menggulung selimut ke tubuhnya lalu turun dari tempat tidur dengan kesusahan.


Pandu yang sedang bercermin, tersenyum melihat Rasya yang seperti kepompong sedang berusaha berjalan. Baginya tingkah Rasya begitu menggemaskan.


"Aduh!" rintih Rasya. Pandu pun bergegas mendekati Rasya dan membantunya berdiri.


"Kamu itu aneh-aneh aja." Pandu tersenyum meledek ke arah Rasya. Bibir Rasya mengerucut manja.


"Minggir deh, Om." Rasya menyingkirkan tubuh Pandu dengan kepala karena kedua tangannya ikut terbungkus selimut.


"Memangnya kamu bisa jalan?" Pandu menarik sudut bibirnya, tersenyum meledek.


"Bisalah!" Rasya pun kembali berjalan menuju ke kamar mandi, tetapi baru tiga langkah dia hampir saja terjatuh lagi kalau Pandu tidak menahannya.


"Kelamaan!" Pandu mengangkat tubuh Rasya lalu memanggul seperti kantong beras. Sesampainya di kamar mandi, dia mendudukkan Rasya di samping wastafel.


"Om Panu mau ngapain?" tanya Rasya saat melihat Pandu yang sedang mengisi bathup dengan air hangat. "Om!"


"Berisik!" omel Pandu, berjalan mendekati Rasya yang baru saja berdiri tegak. "Mau kumandikan?" goda Pandu. Sesaat kemudian lelaki itu menjerit saat Rasya menggigit lengannya.


"Kamu!" Pandu hendak memukul Rasya, tetapi tangannya menggantung di udara saat melihat tubuh Rasya yang sudah meringsut. Dengan segera Pandu mencubit pipi Rasya saking gemasnya.


"Kupikir Om mau mukul aku." Rasya mengembuskan napas lega.


"Aku tidak akan memukul perempuan. Aku bukan lelaki pecundang. Lebih baik sekarang kamu mandi dan istirahat." Pandu bergegas pergi dari kamar mandi sebelum juniornya kembali terbangun. Namun, langkah Pandu terhenti di ambang pintu saat mendengar panggilan dari Rasya.

__ADS_1


"Om, makasih." Bibir Rasya mengembang sempurna. Pandu merasakan jantungnya berdebar hebat saat melihat senyum itu. Dirinya seolah tertarik kepada pesona istrinya.


"Terima kasih untuk apa?" Alis Pandu sampai bertautan.


"Udah perhatian sama aku. Udah mau sayang sama aku. Udah sabar ngadepin aku. Udah ... udah aku mau mandi, jadi sekarang Om Panu segera keluar dari sini," usir Rasya. Pandu mendengkus kasar lalu menutup kamar mandi dengan cukup kencang hingga membuat tubuh Rasya terjengkit karena terkejut.


"Bisa jantungan aku keseringan sama si Panu," gerutu Rasya sembari melepas selimut dan mulai membersihkan diri.


***


Di kamar pengantin yang begitu wangi, hanya cahaya remang-remang yang menemani. Pandu merasa kecewa karena semua kejutan indah yang sudah dia persiapkan dengan sempurna justru hasilnya tidak memuaskan. Kamar yang seharusnya menjadi tempat beradu desah*n dan erang*n saat akan mencapai puncak kenikmatan justru terasa sepi. Hanya dengkuran halus dari Rasya yang terdengar.


"Mungkinkah aku sudah gila karena jatuh cinta dengan gadis aneh sepertimu?" gumam Pandu, menatap wajah damai Rasya yang begitu lelap dalam tidurnya. Namun, Pandu mengaduh lirih saat tangan Rasya menamparnya. Pandu setengah bangkit dan melihat Rasya yang masih saja mendengkur.


"Bahkan saat tidur saja, dia masih sangat rusuh." Pandu menggeleng tidak percaya. Dia pun merapatkan tubuhnya dan memeluk perut Rasya dengan erat.


"Om!"


"Hmm."


"Enak ya, pelukan gini. Berasa adem gitu, nyaman."


Pandu secara refleks melepaskan pelukannya lalu bangkit duduk dan melihat Rasya yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. Wajah Pandu tampak begitu gugup saat melihat Rasya menaik-turunkan alisnya.


"Aku cuma bercanda, Om. Aku bahkan denger Om bilang sudah gila karena jatuh cinta dengan wanita seanggun diriku." Rasya mengibaskan rambut ke belakang sembari mengerlingkan satu matanya.


"Astaga." Pandu mengusap wajahnya secara kasar. "Lebih baik sekarang kamu tidur. Tidak baik anak kecil tidur malam-malam," ledek Pandu. Kembali merebahkan tubuhnya di samping Rasya.


"Om," panggil Rasya saat Pandu baru saja memejamkan mata.


"Apalagi? Aku lelah. Ingin segera istirahat." Pandu tidak membuka mata sama sekali.


"Kenapa aku enggak dipeluk lagi kaya tadi, Om?" Pertanyaan Rasya membuat kedua mata Pandu terbuka seketika. Namun, belum juga Pandu menjawab, Rasya sudah menarik tangan Pandu lalu melingkarkan di perutnya.


Pandu hanya menurut. Mulutnya mendadak bungkam saat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Perasaan yang dulu dia rasakan saat berada di dekat Amira, kini dia rasakan lagi saat berada di dekat Rasya. Dia merasa kalau Amira saat ini berada sangat dekat dengannya.


"Om, apa Om yakin sudah mulai mencintaiku?" tanya Rasya ragu.


"Jangan bertanya yang aku sendiri bingung menjawabnya." Pandu berkata ketus. Rasya memutar bola matanya malas.


"Perasaan Om sensi mulu sama aku, deh. Pantesan jadi cinta."

__ADS_1


"Apa hubungannya?" sela Pandu.


"Ya, emang Om Panu enggak tahu kalau benci dan cinta itu seperti mata koin. Beda tipis. Kalau kita terlalu benci sama orang, bisa jadi kita malah aku jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada orang itu."


Pandu terdiam mendengar ucapan Rasya karena semua yang diucapkan istrinya, ada benarnya juga.


"Lebih baik sekarang kita tidur. Besok kita akan pergi berlibur," kata Pandu. Rasya berbalik dan menatap Pandu dengan sangat lekat. Bahkan binar kebahagiaan tampak terlihat jelas di mata Rasya.


"Om yakin mau ngajak aku liburan?" tanya Rasya memastikan. Pandu mengangguk cepat sebagai tanggapan.


"Makasih banyak, Om. Aku mau liburan ke Ragunan aja," kata Rasya. Senyum di bibir Pandu memudar begitu saja. Dia berniat akan mengajak Rasya ke luar negeri, tetapi gadis itu justru meminta ke kebun binatang.


"Kenapa ke Ragunan? Aku mau mengajakmu naik pesawat." Pandu mencoba merayu, tetapi Rasya justru menggeleng.


"Aku mau ke Ragunan aja ketemu sama temen Om Panu," kata Rasya, membuat kening Pandu mengerut.


"Aku tidak punya teman di sana," elak Pandu.


"Ada, Om. Itu loh, yang ... uu aak." Rasya menirukan gerakan monyet.


"Astaga! Kamu jahat sekali."


"Hahaha ampun, Om. Ampun!" Rasya berteriak saat Pandu menggelitik ketiaknya.


"Kamu itu benar-benar ...."


"Cantik, anggun luar biasa," potong Rasya diiringi gelakan tawa yang makin mengeras. Pandu menggeleng karena saking bingungnya mau menanggapi yang bagaimana lagi.


•••


Selamat malam jangan lupa dukungan dikencengin, biar Othor updatenya makin kenceng pula.


Thor, ada panggilan sayang dari Rasya buat Pandu enggak?


Ada, tapi nanti ya, semua berproses karena Othor pakai alur lambat jadi enggak bisa suruh cepet-cepet 🙈


maafkeun 🙏


Follow akun sosmed Othor yukk


Fb : Rita Anggraeni(Tatha)

__ADS_1


IG : @tathabeo


Biar kenal lebih dekat sama Othor Kalem Fenomenal yang pasti masih polos dan lugu 😅😅


__ADS_2